Dramatis! Demi Selamatkan Nyawa Santri, Dirut RSUD Sidoarjo Amputasi Darurat Korban Reruntuhan Ponpes Al Khoziny
Abdul Rahman Ahdori







Menurut Atok, seorang santri terpaksa menjalani amputasi di lokasi kejadian karena tertimpa reruntuhan bangunan.
“Kondisinya darurat, tim bedah dan ortopedi langsung melakukan tindakan malam hari,” ujar Atok, Selasa (30/9/2025).
RSUD Sidoarjo merawat total 40 pasien dengan berbagai kondisi. Dari jumlah itu, tujuh orang mengalami luka berat, empat luka sedang, dan 28 lainnya luka ringan. Sebagian besar sudah dipulangkan, sementara sembilan santri masih menjalani perawatan.
Selain di RSUD Sidoarjo, korban juga dirawat di RSI Siti Hajar. Rumah sakit tersebut menerima 52 pasien, dengan sepuluh orang masih dirawat inap dan satu korban dirujuk ke Mojokerto.
Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya, Nanang Sigit, mengatakan ada sekitar 140 santri yang berada di musala saat bangunan runtuh pada Senin (29/9/2025) sore. Dari jumlah itu, 102 santri berhasil dievakuasi.
“Sebanyak 91 santri keluar secara mandiri, sementara 11 lainnya dievakuasi tim SAR,” kata Nanang.
Nanang menambahkan, tim masih terus melakukan pencarian terhadap korban lain yang diduga tertimbun reruntuhan.
“Kami optimistis masih bisa menyelamatkan korban. Komunikasi terakhir, ada santri yang memberi tanda masih hidup,” ujarnya.
Hingga Selasa (30/9/2025) pagi, tercatat tiga santri meninggal dunia dalam peristiwa tersebut. Mereka adalah Maulana Alfan Abrahimafic (15), asal Surabaya; Mochammad Mashudulhaq (14), asal Dukuh Pakis, Surabaya; dan Muhammad Soleh (22), asal Tanjung Pandan, Bangka Belitung.
Diberitakan sebelumnya, bangunan musala di kompleks asrama putra Ponpes Al Khoziny ambruk ketika ratusan santri tengah melaksanakan salat Asar. Peristiwa ini menewaskan tiga orang dan melukai puluhan santri lainnya.
