Gunung Lewotobi Laki Laki mengeluarkan abu vulkanik saat erupsi pada Rabu, 13 November 2024. Foto: AFP
JAKARTA, (ERAKINI) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat di sekitar lereng Gunung Lewotobi Laki-Laki, Nusa Tenggara Timur (NTT), agar mewaspadai potensi banjir lahar hujan yang bisa datang tiba-tiba. Peringatan ini disampaikan seiring dengan datangnya musim hujan dan cuaca ekstrem akibat La Nina.
"Belajar dari Gunung Marapi di Sumatera Barat, kami meminta seluruh pihak dan masyarakat untuk mewaspadai yang bisa sewaktu-waktu terjadi, karena sangat berbahaya," ujar Kepala , Dwikorita Karnawati, dalam keterangannya, Senin (18/11/2024).
Dwikorita menjelaskan, banjir lahar hujan besar dan cepat bisa terjadi ketika air hujan bercampur dengan material vulkanik yang dikeluarkan oleh erupsi gunung berapi. Material vulkanik tersebut meliputi pasir, abu, bebatuan, bahkan kayu atau pohon yang terangkut ke aliran sungai.
Banjir ini bisa terjadi dengan sangat cepat, membawa material yang sangat berat, dan mengancam keselamatan jiwa serta merusak pemukiman warga.
Untuk itu, Dwikorita mengimbau masyarakat agar menghindari bantaran sungai yang mengalir dari lereng gunung yang sudah atau sedang mengalami erupsi.
"Saat erupsi, tidak semua material ikut meluncur ke bawah, melainkan tertumpuk di atas. Apabila hujan lebat terjadi, maka potensi banjir lahar hujan pun semakin meningkat," jelas Dwikorita.
La Nina Tingkatkan Risiko Cuaca Ekstrem BMKG juga mengungkapkan bahwa fenomena La Nina yang sedang terjadi dapat meningkatkan curah hujan secara signifikan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk NTT. La Nina, yang merupakan anomali suhu permukaan laut yang lebih dingin dari biasanya di Samudra Pasifik, diprediksi akan berlangsung hingga Maret atau April 2025.
Fenomena La Nina ini menyebabkan peningkatan curah hujan antara 20 hingga 40 persen di hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk di NTT. Ini berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, termasuk banjir lahar hujan.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, mengungkapkan bahwa dalam sepekan terakhir, cuaca di NTT bervariasi, mulai dari cerah berawan hingga hujan ringan. Di beberapa wilayah, hujan disertai petir terjadi, terutama di Pulau Timor, Manggarai, Manggarai Barat, Ngada, Sikka, dan Flores Timur.
Berdasarkan pengamatan terakhir pada 16 November 2024, curah hujan di Stasiun Meteorologi El Tari Kupang tercatat 45,2 mm/hari, sementara di Stasiun Meteorologi Gewayantana Flores Timur tercatat 31,4 mm/hari. Curah hujan yang signifikan ini berpotensi meningkatkan risiko banjir lahar hujan.
Sebagian wilayah NTT telah memasuki musim hujan, sementara daerah sekitar Gunung Lewotobi Laki-Laki diperkirakan akan memasuki musim hujan pada awal Desember 2024. Dengan peningkatan curah hujan ini, BMKG memperingatkan bahwa risiko banjir lahar hujan semakin tinggi.
"Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko banjir lahar hujan di sekitar lereng gunung tersebut," katanya.
Untuk sepuluh hari ke depan, BMKG memprediksi cuaca di NTT secara umum akan cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, terdapat potensi hujan sedang hingga lebat di beberapa wilayah, seperti Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, sebagian Sikka, Kabupaten Kupang, dan sejumlah daerah di Sumba.
"Potensi hujan yang tinggi di wilayah NTT ini berisiko meningkatkan bencana hidrometeorologi basah, termasuk banjir lahar hujan, terutama di sekitar Gunung Lewotobi Laki-Laki," kata Guswanto.
Terpisah, Badan Geologi Kementerian ESDM mengingatkan kepada warga dan petugas gabungan di Flores Timur, NTT, untuk tetap mengikuti rekomendasi terkait aktivitas Gunung Lewotobi Laki-laki yang masih berpotensi mengalami letusan, meski secara visual mengalami penurunan aktivitas demi keselamatan bersama.
Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid, mengatakan, secara visual tim vulkanologi mendapati aktivitas gunung Lewotobi Laki-laki secara visual mengalami penurunan setidaknya dalam 1-2 hari terakhir. Hal ini ditandai dengan menipisnya intensitas kolom erupsi kawah utama dan kegempaan.
“Tetapi secara instrumental kami mendapati masih ada potensi aktivitas vulkanisnya untuk naik karena situasi Lewotobi ini karakteristiknya sudah berubah. Erupsinya eksplosif melontarkan material pijar dan endapan abu, erupsi magmatis juga terjadi yang menghasilkan aliran lawa atau kuba lava,” katanya.
Berdasarkan pengamatan instrumental tim vulkanologi Badan Geologi mendapati setidaknya pada medio 16-18 November 2024 didapati gempa hembusan-gempa guguran masih cenderung dominan dan masih terus berlanjut sampai saat ini.
Kondisi tersebut membuat Badan Geologi per hari ini merekomendasikan kepada otoritas terkait di lapangan, termasuk pemerintah daerah, agar wilayah pada radius 7 kilometer dari kawah utama Gunung Lewotobi Laki-laki, dan 8 kilometer arah barat daya-barat laut untuk tetap dikosongkan dari aktivitas apapun.
Sebelumnya sempat dilakukan perluasan zona bahaya sektoral dengan radius 9 kilometer arah barat daya - barat laut pada 15 November 2024.
“Kami akan terus memantau dan menyampaikan perkembangan kondisi Gunung Lewotobi Laki-laki dengan penuh kehati-hatian saat ini masih berstatus Awas atau Level IV,” bebernya.