Kabar meninggalnya kakak dari Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz ini disampaikan pihak keluarga. Gus Iim mengembuskan napas terakhir di rumah sakit di Madiun pada pukul 10.15 WIB dan akan dimakamkan di Jombang, Jawa Timur.
Putra almarhum, Gus Bahar, menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh kerabat dan sahabat atas kesalahan yang mungkin pernah dilakukan ayahnya semasa hidup.
“Atas nama keluarga, saya menyampaikan permintaan maaf kepada teman-teman ayah, bila ada kesalahan mohon dimaafkan,” ujar dia.
Pihak keluarga juga menyampaikan terima kasih atas perhatian serta doa yang diberikan selama almarhum menjalani perawatan hingga wafat.
SosokyangMembumi
Semasa hidup, Gus Iim dikenal sebagai pribadi yang terbuka dan mampu bergaul dengan berbagai kalangan. Meski tumbuh dari lingkungan pesantren, ia juga meniti karier di dunia jurnalistik dan profesional.
Dia pernah bekerja di Harian Surya Surabaya, yang turut membentuk kiprahnya di dunia kewartawanan. Namun, di penghujung hidupnya, Gus Iim kembali aktif di dunia pesantren dan pendidikan.
Lahir pada 17 Juli 1954, Gus Iim merupakan putra dari KH Mahfudz Anwar dan Nyai Abidah. Dari garis keturunan ibunya, ia masih merupakan cicit pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari.
Ayahnya dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang dan pernah mengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Seblak. Lingkungan keluarga yang kuat dalam tradisi keilmuan dan spiritualitas membentuk karakter Gus Iim sejak kecil.
PerjalananPendidikandanKarier
Pendidikan Gus Iim dimulai di Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Parimono, Jombang. Ia kemudian melanjutkan ke Pendidikan Guru Agama (PGA) dan Sekolah Persiapan IAIN Jombang.
Ia juga pernah menempuh pendidikan di Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya dan mengajar Bahasa Inggris di lembaga bahasa kampus tersebut. Selain itu, ia sempat menjadi guru di MAN Surabaya dan MAN Sidoarjo.
Pada 1985, Gus Iim mengikuti program Southeast Asian Student Leaders di Amerika Serikat. Tiga tahun kemudian, ia melanjutkan studi di Cornell University, Ithaca, New York, dengan fokus pada Sejarah Asia Tenggara.
Sepulang dari luar negeri, ia meniti karier profesional dengan bekerja di sejumlah lembaga internasional, seperti The Asia Foundation, Burson-Marsteller, Coca-Cola Indonesia, hingga Standard Chartered Bank.
KembalikePesantren
Meski sempat berkiprah di dunia profesional, Gus Iim akhirnya kembali ke lingkungan pesantren. Sejak 2017, ia mengelola Yayasan Pendidikan dan Pesantren Rohmah serta mengasuh Pesantren Seblak di Jombang.
Ia dikenal sebagai penggerak konsep halalpreneurship, yakni penggabungan nilai-nilai pesantren dengan semangat kewirausahaan modern.