Yudha Wastu Prawira menjadi salah satu profesional muda alumni SMA Taruna Nusantara yang meniti karier dari dunia teknologi dan konsultasi. Foto: Ist
JAKARTA, (ERAKINI) –Yudha Wastu Prawira menjadi salah satu profesional muda yang meniti karier dari dunia teknologi dan konsultasi, hingga berada di lingkungan pengambil kebijakan sistem pembayaran nasional.
Yudha menempuh pendidikan menengah di SMA Taruna Nusantara jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan lulus tahun 2009 (TNI 17). Ia lulus sebagai bagian dari 10 persen siswa terbaik dan pernah dipercaya menjadi kapten tim tenis sekolah.
Pendidikannya kemudian dilanjutkan di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada bidang Teknik Informatika dan lulus pada 2013 dengan IPK 3,72 dari skala 4,00.
Semasa kuliah, Yudha juga aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan, termasuk KM ITB, HMIF, klub radio amatir, organisasi kewirausahaan, dan klub tenis. Pengalaman organisasi tersebut berjalan beriringan dengan aktivitas akademik dan riset di laboratorium.
Saat ini Yudha berkarier di Bank Indonesia (BI) sebagai analis di Kantor Dewan Gubernur, setelah menyelesaikan program Master of Business Administration (MBA) di Universitas Oxford, Inggris, pada 2024.
Lebih dari satu dekade perjalanan profesionalnya mempertemukan tiga bidang yang semakin sulit dipisahkan dalam perekonomian modern, yakni teknologi, sistem pembayaran, dan kebijakan publik.
Dikutip dari linkedin, Minggu (9/8/2026), Yudha mencantumkan sejumlah bidang keahlian, mulai dari pembayaran lintas negara (cross-border payment), teknologi finansial (fintech), inklusi keuangan, Central Bank Digital Currency (CBDC), strategi dan transformasi digital, manajemen produk, analisis bisnis, hingga pengembangan smart city.
Yudha memulai perjalanan profesionalnya dengan membangun fondasi di bidang teknologi informasi. Ketika masih berkuliah di ITB, ia sudah aktif sebagai Asisten Laboratorium Teknik Informatika dan terlibat dalam penelitian mengenai Agile IT, Software Process Improvement, Aspect-Oriented Software Engineering, serta keamanan perangkat lunak.
Ia juga mendirikan startup Nan Tongga Solution sebagai Software Engineer sekaligus Co-founder. Perusahaan tersebut mengembangkan solusi teknologi informasi bagi usaha kecil dan menengah.
Pengalaman tersebut kemudian membawanya ke dunia konsultasi dan industri teknologi. Ia pernah menjalani magang sebagai Technical Consultant Intern di Accenture serta System Analyst Intern di Bank Indonesia.
Di Accenture, ia terlibat dalam pengembangan aplikasi menggunakan VBA dan Cognos TM1. Sementara di BI, ia berfokus pada penerapan Software Process Improvement serta penyusunan rancangan Enterprise Architecture. Pengalaman di berbagai sektor tersebut menjadi fondasi sebelum Yudha masuk lebih jauh ke ekosistem ekonomi digital.
Pada 2016, ia bergabung dengan GO-JEK sebagai Product Manager. Ia memimpin tim lintas fungsi beranggotakan lebih dari 10 orang dalam pengembangan layanan GO-LIFE, mencakup aplikasi untuk pengguna dan penyedia jasa.
Produk tersebut disebut telah digunakan lebih dari 1 juta pengguna dan lebih dari 10 ribu mitra layanan, dengan nilai transaksi harian yang mencapai lebih dari US$100 ribu bagi Grup GO-JEK.
Pada tahun yang sama, Yudha juga berkarier di Lazada Group sebagai Category Manager. Ia memimpin tim yang menangani hubungan dengan vendor, akuisisi mitra, dan kemitraan merek.
Dalam periode tersebut, timnya mencatat peningkatan pendapatan kategori sebesar 30 persen, menggandakan variasi produk, serta mencapai transaksi harian lebih dari USD150 ribu.
Pengalaman di industri digital memberikan perspektif praktis mengenai bagaimana teknologi digunakan konsumen dan pelaku usaha. Perspektif tersebut kemudian menjadi modal ketika ia memasuki ranah kebijakan publik melalui Bank Indonesia.
Yudha selanjutnya bergabung dengan BI melalui Program Calon Pegawai Muda (PCPM) Angkatan XXXII pada 2017. Sebagai analis sistem pembayaran, ia menangani penelitian regulasi, analisis perkembangan industri, proses perizinan, serta pengembangan National Payment Gateway. Dalam program tersebut, ia menjadi salah satu dari lima peserta terbaik dari 125 peserta.
Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi Assistant Manager pada bidang Digital Economy & Payment System. Di posisi tersebut, Yudha memimpin tim yang mengimplementasikan sejumlah proyek pembayaran digital di Sumatera Utara.
Salah satu hasil yang dicapai adalah peningkatan pembayaran pajak daerah hingga 50 persen melalui integrasi platform e-commerce dan penyedia uang elektronik dengan sistem perpajakan pemerintah daerah.
Ia juga memimpin implementasi Toba Smart Card dan sistem pembayaran berbasis QR untuk pelaku usaha, hotel, restoran, serta penyedia transportasi di kawasan Danau Toba.
Di luar pekerjaan teknis dan kebijakan, Yudha juga terlibat dalam edukasi publik mengenai ekonomi digital. Ia tercatat menjadi pembicara dalam lebih dari 15 seminar fintech dan memimpin sekitar 20 kegiatan literasi pembayaran digital yang menjangkau lebih dari 100 ribu peserta.
Merancang Ekosistem Pembayaran Ritel Nasional
Memasuki Januari 2020, tanggung jawab Yudha meningkat ketika ia dipercaya sebagai Senior Assistant Manager – Payment System Policy Analyst.
Fokus pekerjaannya bergeser semakin kuat ke tingkat kebijakan. Ia memimpin tim yang menyusun kerangka pengembangan sistem pembayaran ritel nasional, termasuk integrasi infrastruktur pembayaran cepat dengan berbagai instrumen pembayaran seperti kartu kredit, kartu debit, dan uang elektronik.
Pekerjaan tersebut menuntut kemampuan membaca perubahan perilaku masyarakat sekaligus memahami kebutuhan industri.
Yudha menganalisis data demografi pembayaran, mengidentifikasi kebutuhan pengguna, serta melakukan koordinasi dengan pelaku industri, asosiasi, regulator, dan masyarakat.
Ia juga terlibat dalam sejumlah proyek strategis. Di antaranya proyek Indonesia Domestic Card Scheme bersama Bank Dunia dan proyek pembayaran ritel lintas negara Indonesia bersama Bank for International Settlements (BIS).
Peran tersebut menempatkan Yudha pada persimpangan antara teknologi, regulasi, industri keuangan, dan kepentingan konsumen—empat elemen yang menjadi fondasi perkembangan sistem pembayaran digital.
Dari Nasional ke ASEAN
Karier Yudha memasuki fase berikutnya ketika ia menjabat sebagai Manager – Payment System Policy Analyst pada 2023–2025. Pada periode ini pekerjaannya semakin melebar ke tingkat regional.
Ia menjadi perwakilan Bank Indonesia dalam Project Nexus Phase 3, sebuah inisiatif konektivitas sistem pembayaran lintas negara yang melibatkan bank sentral sejumlah negara ASEAN, termasuk Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Indonesia. Yudha juga mendampingi pimpinan Bank Indonesia dalam penyusunan peta jalan ASEAN Payment Connectivity.
Selain itu, ia menjadi penghubung antara tim teknis BI-FAST dengan Bank for International Settlements serta terlibat dalam pengembangan Regional Payment Connectivity (RPC), yang menjadi bagian dari agenda Presidensi G20 Indonesia.
Pada ranah domestik, ia dipercaya sebagai Co-Lead kelompok kerja operasional dan hukum dalam pengembangan Kartu Kredit Indonesia (KKI) untuk transaksi pemerintah. Pengembangan tersebut mencakup berbagai fase, mulai dari QRIS, kartu fisik, hingga pembayaran daring.
Prestasi tersebut diikuti penghargaan sebagai peringkat pertama dari 85 peserta terbaik dalam Sekolah Pimpinan Muda Bank Indonesia (SESMUBI) Angkatan IX Tahun 2023. Sejak Agustus 2025, Yudha menjabat sebagai Analis pada Kantor Dewan Gubernur BI.
Lintasan Karier yang Tak Biasa
Lintasan karier Yudha menunjukkan pola yang tidak biasa. Ia tidak tumbuh hanya dari jalur birokrasi atau perbankan sentral, tetapi terlebih dahulu bersentuhan dengan pengembangan perangkat lunak, konsultasi teknologi, e-commerce, dan perusahaan rintisan.
Pengalaman tersebut memberinya pemahaman dari sisi pelaku industri sekaligus regulator. Di Accenture, misalnya, Yudha pernah menjadi Strategy Consultant yang menyusun strategi dan arsitektur teknologi informasi bagi sejumlah perusahaan untuk meningkatkan efisiensi operasional melalui inovasi digital.
Ia kemudian terlibat dalam proyek Digital Plantation (Smart Plant) pada salah satu perusahaan pulp dan kertas terbesar di Asia Tenggara. Proyek tersebut memanfaatkan aplikasi seluler, drone, dan analitik big data untuk mendukung otomatisasi operasional perkebunan di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Yudha juga pernah menyusun cetak biru strategi teknologi informasi bagi salah satu organisasi nirlaba terbesar di Indonesia melalui kegiatan konsultasi pro bono. Rangkaian pengalaman itu memperlihatkan bagaimana keahlian teknologi Yudha dapat diterjemahkan ke dalam perspektif yang lebih luas mengenai transformasi organisasi dan kebijakan digital.
Setelah membangun pengalaman di bidang teknologi, konsultasi, dan bank sentral, Yudha melanjutkan pendidikan ke University of Oxford. Ia menyelesaikan program MBA pada 2024 dengan konsentrasi Finance.
Selama di Oxford, ia aktif di St Catherine's College Finance Lab, Oxford MBA Running Club, dan Oxford Lawn Social Tennis Club. Salah satu capaian akademiknya adalah menjadi satu dari lima mahasiswa yang memperoleh predikat Distinction dalam mata kuliah Private Equity – Buyside. Predikat tersebut disebut hanya diraih sekitar 6 persen mahasiswa.
Pendidikan di Oxford melengkapi latar belakang teknologinya dengan perspektif bisnis dan keuangan, bidang yang semakin penting dalam menghadapi perubahan cepat industri teknologi finansial dan sistem pembayaran global.