Nama Fandi Achmad menjadi salah satu akademisi dan ekonom muda Indonesia yang patut diperhitungkan. Alumni SMA Taruna Nusantara Magelang ini berkiprah di berbagai organisasi internasional. Foto: Ist
JAKARTA, (ERAKINI) – Nama Fandi Achmad menjadi salah satu akademisi dan Indonesia yang patut diperhitungkan. Magelang ini berkiprah di berbagai organisasi internasional.
Dirangkum Erakini Jumat (7/8/2026), Fandi Achmad merupakan jebolan SMA Taruna Nusantara tahun 2007 (TN 15). Pendidikan sarjananya ditempuh di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Program Studi Ekonomi. Ia tercatat sebagai Lulusan Terbaik Fakultas Ekonomi pada Februari 2011 dengan skripsi mengenai dampak efisiensi pelabuhan terhadap perdagangan bilateral Indonesia-Uni Eropa menggunakan pendekatan Gravity Model
Saat ini, ia merupakan kandidat Doctor of Philosophy (DPhil) di bidang Development Economics and International Development di salah satu kampus terbaik dunia, Universitas Oxford, Inggris, dengan fokus penelitian pada kebijakan perdagangan internasional dan perdagangan digital.
Selain menempuh studi doktoral, Fandi juga menjabat sebagai Graduate Teaching Assistant di Oxford Department of International Development sejak November 2023. Dalam peran tersebut, ia mengajar metode penelitian kuantitatif, memberikan bimbingan akademik kepada mahasiswa, serta menilai tugas pada mata kuliah statistik dan ekonometrika untuk program MPhil in Development Studies dan MSc in Global Governance and Diplomacy.
Sebelumnya, ia meraih gelar Master of Advanced Studies in Economics (MASE) dari KU Leuven, Belgia, dengan tesis mengenai pengaruh jaringan sosial terhadap ekspor Amerika Serikat. Ia juga memperoleh gelar Master of Public Policy dari Gerald R. Ford School of Public Policy, University of Michigan, Amerika Serikat, dan menjabat sebagai Presiden International Policy Student Association (IPSA) selama masa studinya.
Karier profesionalnya dimulai sebagai Economist pada proyek European Commission–APINDO ACTIVE Project. Dalam proyek tersebut, ia membantu penyusunan Undang-Undang Perdagangan dan Undang-Undang Perindustrian Indonesia, memberikan rekomendasi kebijakan perdagangan dan investasi kepada Kementerian Perdagangan, membangun basis data ekonomi bagi dunia usaha, serta melatih perusahaan nasional mengenai perdagangan internasional.
Fandi memiliki pengalaman sebagai Digital Trade Consultant di Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada Direktorat Perdagangan dan Pertanian selama November 2021 hingga Agustus 2025. Ia terlibat dalam pengembangan Digital Services Trade Restrictiveness Index (DSTRI) yang mengukur perubahan kebijakan perdagangan jasa digital di berbagai negara Asia dan Afrika.
Sejak Juli 2020 hingga Juni 2025, ia juga menjadi Consultant for the Global Trade Alert di St Gallen Endowment for Prosperity Through Trade, dengan tugas memantau perubahan kebijakan perdagangan dan komersial di negara-negara ASEAN serta sejumlah negara lain.
Pengalaman internasional Fandi lainnya yakni sebagai Consultant for Regional Digital Trade Integration di United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UN ESCAP). Dalam posisi tersebut, ia memimpin pembaruan data kebijakan perdagangan digital kawasan Asia-Pasifik untuk penyusunan Regional Digital Trade Integration Index (RDTII).
Ia juga pernah memberikan konsultasi kepada Robert Schuman Centre for Advanced Studies di Italia terkait penyusunan Digital Services Trade Restrictiveness Index (Digital STRI) untuk Myanmar, Prancis, dan Arab Saudi dalam proyek CIVICA.
Sebelumnya, Fandi dipercaya sebagai Financial Inclusion Expert di Asian Development Bank (ADB). Tugasnya meliputi penilaian terhadap kebijakan dan regulasi inklusi keuangan serta penyusunan rekomendasi guna meningkatkan akses layanan keuangan melalui perbaikan regulasi dan kebijakan.
Fandi juga memiliki pengalaman di World Trade Organization (WTO) sebagai Economist Intern pada 2017. Di WTO, ia terlibat dalam penelitian mengenai Trade in Value Added (TiVA), kebijakan untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta penyusunan rekomendasi terkait agenda perdagangan global
Salah satu pengalaman penting lainnya adalah ketika bekerja di Sekretariat ASEAN sebagai Technical Officer for Competition Policy pada 2013–2016. Ia memfasilitasi negosiasi kebijakan persaingan usaha antarnegara anggota ASEAN, memberikan masukan dalam forum AANZFTA dan RCEP, serta berhasil memperoleh pendanaan lebih dari US$10 juta dari berbagai negara donor untuk proyek-proyek persaingan usaha di kawasan.
Di Indonesia, kariernya dimulai di Bank Indonesia (BI) sebagai Research Fellow pada Divisi Arsitektur Perbankan Indonesia, dengan fokus pada inklusi keuangan, regulasi perbankan, dan dampak investasi asing terhadap industri perbankan nasional.
Fandi juga pernah menjabat sebagai Tenaga Ahli Kedeputian III Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Ekonomi Strategis di Kantor Staf Presiden Republik Indonesia.
Ia sempat bergabung dengan Maybank Indonesia sebagai Senior Manager Strategic Planning and Project Management Office, dengan tanggung jawab menyusun analisis prospek ekonomi, mengevaluasi kinerja segmen bisnis, serta memimpin proyek peningkatan operasional kantor cabang
Dengan latar belakang yang memadukan pengalaman akademik, pemerintahan, sektor keuangan, dan organisasi internasional, Fandi Achmad patut diperhitungkan sebagai salah satu ekonom muda Indonesia di bidang perdagangan digital dan transformasi ekonomi global.