Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia pada Februari 2025 mancapai 7,28 juta orang. Jumlah pekerja di sektor informal juga melonjak. Foto: Ilustrasi/Ist
JAKARTA, (ERAKINI) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia pada Februari 2025 mancapai 7,28 juta orang. Jumlah ini naik sekitar 83.000 dibanding Februari 2024.
Kepala BPS Amelia Adininggar Widyasanti mengungkapkan, meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia disebabkan bertambahnya . Namun jumlah tersebut tidak semua terserap di pasar kerja.
"Komposisi angkatan kerja pada Februari 2025 terdiri dari 145,77 juta orang penduduk bekerja dan 7,28 juta orang pengangguran," ujar Amelia saat merilis hasi Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), Senin (5/5/2025).
Berdasarkan Sakernas Februari 2025, jumlah angkatan kerja tercatat sebanyak 153,05 juta orang atau naik 3,67 juta orang dibanding Februari 2024. Sedangkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) naik sebesar 0,80 persen dibanding Februari 2024.
Dari sisi jenis kelamin, TPAK laki-laki tercatat 84,34 persen, lebih tinggi dibanding TPAK perempuan sebesar 56,70 persen. Dibandingkan pada Februari 2024, TPAK laki-laki dan perempuan mengalami kenaikan, masing-masing sebesar 0,32 persen dan 1,29 persen.
BPS juga mencatat penduduk usia kerja (PUK) atau semua orang yang berumur 15 tahun ke atas, cenderung meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia. PUK pada Februari
2025 tercatat sebanyak 216,79 juta orang, naik 2,79 juta dibanding Februari 2024.
Selama periode Februari 2023 hingga Februari 2025, distribusi pengangguran menurut pendidikan, tertinggi dihasilkan tamatan SMA sederajat dengan jumlah mencapai 28,01 persen. Sementara persentase pengangguran terendah adalah tamatan Diploma I/II/III dan Diploma IV, S1, S2, S3, masing-masing sebesar 2,44 persen dan 13,89 persen.
Hasil Sakernas Februari 2025 juga mencatat tiga lapangan usaha yang menyerap tenaga kerja paling banyak, yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 28,54 persen; perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor sebesar 19,26 persen; serta industri pengolahan sebesar 13,45 persen.
"Dibandingkan Februari 2024, tiga lapangan usaha yang mengalami peningkatan penduduk bekerja terbesar adalah perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor (0,98 juta orang); pertanian, kehutanan, dan perikanan (0,89 juta orang); dan industri pengolahan (0,72 juta orang)," jelas Amelia.
Sementara lapangan usaha yang mengalami penurunan terbesar adalah administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib (0,15 juta orang), pertambangan dan penggalian (0,06 juta orang), dan jasa lainnya (0,02 juta orang).
Menurut status pekerjaan, penduduk bekerja paling banyak adalah buruh/karyawan/pegawai, yaitu sebesar 37,08 persen. Sementara yang paling sedikit berstatus berusaha dibantu buruh tetap dan dibayar, yaitu sebesar 3,52 persen.
Berdasarkan sektor, persentase penduduk bekerja pada kegiatan formal mengalami penurunan sebesar 0,23 persen poin. Penduduk bekerja pada sektor informal tercatat sebanyak 86,58 juta orang (59,40 persen), dan bekerja pada kegiatan formal hanya 59,19 juta orang (40,60 persen).
Penduduk bekerja pada sektor formal mencakup tenaga kerja dengan status berusaha dibantu buruh tetap dan dibayar serta buruh/karyawan/pegawai. Sedangkan status pekerjaan lainnya dikategorikan sebagai kegiatan informal, seperti berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap/pekerja keluarga/tidak dibayar, pekerja lepas/bebas, serta pekerja keluarga/tidak dibayar).
Masih berdasarkan Sakernas Februari 2025, sebagian besar penduduk bekerja berpendidikan SD ke bawah, yaitu sebesar 35,89 persen. Sedangkan penduduk bekerja yang berpendidikan tinggi yaitu tamatan Diploma I/II/III dan Diploma IV, S1, S2, S3 sebesar 12,83 persen.
Jumlah ini mengalami tren peningkatan dari Februari 2023. "Distribusi penduduk bekerja menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan masih menunjukkan pola yang sama dengan Februari 2023 dan Februari 2024," bebernya.