BPS mencatat ekonomi Indonesia mengalami inflasi 0,28 persen secara bulanan pada Oktober 2025. Lonjakan harga emas menjadi faktor utama pendorong kenaikan inflasi. Foto: Ilustrasi
JAKARTA, (ERAKINI) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia mengalami inflasi 0,28 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Oktober 2025. Lonjakan harga emas masih menjadi biang kerok kenaikan
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 106,01 pada Oktober 2024 menjadi 109,04 pada Oktober 2025.
“Secara year-on-year, pada Oktober 2025 terjadi inflasi sebesar 2,86 persen,” ujar Pudji di Jakarta, Senin (3/11/2025).
BPS mencatat emas memberikan andil tertinggi terhadap inflasi Oktober, yakni sebesar 0,68 persen. Selain emas, komoditas lain yang turut menjaga tekanan inflasi antara lain cabai merah (0,28 persen), beras (0,16 persen), tarif air minum PAM (0,14 persen), serta ikan segar (0,13 persen).
Dari sisi pengeluaran, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi tahunan terbesar dengan kenaikan 4,99 persen dan andil 1,43 persen. Kenaikan harga cabai merah menjadi faktor dominan, diikuti beras dan bawang merah.
Kontributor inflasi lainnya adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan inflasi 11,87 persen dan andil 0,77 persen. Sementara sejumlah kelompok juga mencatat inflasi, seperti kesehatan (2,11 persen), perumahan dan utilitas (1,59 persen), pendidikan (1,26 persen), serta transportasi (0,48 persen).
Adapun kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan menjadi satu-satunya sektor yang mengalami deflasi, yakni minus 0,25 persen dengan andil negatif 0,01 persen.
Melihat komponennya, seluruh komponen inflasi tercatat meningkat. Komponen inti naik 2,36 persen dengan kontribusi 1,52 persen, didorong harga emas, minyak goreng, dan kopi bubuk.
Sementara komponen harga yang diatur pemerintah naik 1,45 persen dengan andil 0,29 persen, dipengaruhi kenaikan tarif air minum PAM di 14 wilayah serta harga sigaret kretek mesin (SKM).
“Komponen harga bergejolak mengalami inflasi sebesar 6,59 persen dengan andil 1,05 persen, dipicu kenaikan harga cabai merah, beras, bawang merah, dan daging ayam ras,” kata Pudji.