Masyita Crystallin PhD berpindah tugas dari Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (Ditjen SPSK) Kemenkeu ke PT Danantara Investment Management (Persero). Foto: Dok Ditjen SPSK
JAKARTA, (ERAKINI) –Masyita Crystallin PhD resmi meninggalkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Ia berpindah tugas dari Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (Ditjen SPSK) Kemenkeu ke PT Danantara Investment Management (Persero).
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu Deni Surjantoro mengatakan, Masyita Crystallin telah mengakhiri masa tugasnya sebagai Dirjen SPSK Kemenkeu efektif sejak 11 Februari 2026. Masyita saat ini menjabat Head of Economic & ESG Strategic Positioning Danantara Investment Management.
Masyita sejatinya baru menjabat Dirjen SPSK sejak 23 Mei 2025. Ditjen SPSK merupakan unit baru di Kemenkeu yang bertugas merumuskan dan melaksanakan kebijakan di bidang sektor keuangan, profesi keuangan, serta kerja sama internasional sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Sebagai unit eselon I baru, Ditjen SPSK menjadi langkah strategis dalam memperkuat struktur kelembagaan Kementerian Keuangan.
Masyita selama menjabat Dirjen SPSK berperan dalam berbagai agenda reformasi sektor keuangan, seperti penguatan kerangka stabilitas sistem keuangan, pendalaman pasar keuangan domestik, serta harmonisasi kebijakan dalam kerangka Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).
Masyita Crystallin dikenal memiliki pengalaman panjang di bidang makro-keuangan, stabilitas sistem keuangan, serta pengembangan kebijakan sektor keuangan berkelanjutan. Dengan pengalaman ini, Masyita diharapkan dapat memperkuat integrasi antara arah kebijakan ekonomi, prinsip lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG), serta strategi investasi jangka panjang.
Dirangkum Erakini, Masyita Crystallin memulai karier sebagai dosen di Universitas Indonesia (UI), tempatnya meraih gelar Sarjana dan dinobatkan sebagai lulusan terbaik Departemen Ilmu Ekonomi pada tahun 2005.
Gelar Master di bidang International Development Economics diraihnya dari Australian National University. Disusul gelar Doktor di bidang Ekonomi dengan spesialisasi International Monetary and Finance dari Claremont Graduate University, Amerika Serikat, pada tahun 2015.
Sebelum diangkat sebagai DJSPSK, Masyita menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Keuangan di bidang kebijakan fiskal dan makroekonomi. Ia juga pernah menjadi Tenaga Ahli Menteri Koordinator Bidang Maritim untuk percepatan pembangunan infrastruktur dan pariwisata.
Di kancah global, ia memiliki rekam jejak sebagai Ekonom Makro di World Bank yang tergabung dalam tim manajemen makro-fiskal, serta menjabat sebagai Wakil Ketua Koalisi Menteri Keuangan untuk Aksi Iklim—peran yang memperkuat kontribusinya dalam reformasi sistem keuangan domestik dan internasional untuk mendukung aksi iklim.
Menariknya, di tengah padatnya aktivitas profesional, Masyita juga aktif mengelola kanal YouTube bertajuk #RuangTengahSyita sebagai ruang diskusi isu ekonomi, perubahan iklim, dan kebijakan publik dengan pendekatan yang lebih sederhana dan membumi.
Masyita Crystallin juga dikenal sebagai sosok kunci dalam transformasi sistem global, khususnya di Asia Pasifik, saat menjabat Kepala Pendanaan Berkelanjutan dan Kebijakan Iklim di SYSTEMIQ. SYSTEMIQ adalah sebuah System Change Company yang berfokus pada perubahan lima sistem utama, yakni energi, alam dan makanan, bahan, perkotaan, serta pendanaan.
Peran lain yang pernah diemban Masyita adalah sebagai Sherpa dalam Koalisi Menteri Keuangan untuk Perubahan Iklim, yang dipimpin oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani bersama dengan Menteri Keuangan Belanda sebagai Co-chair. Selain itu, ia menjabat sebagai Komisaris di Indonesia Financial Group (IFG).
Sebagai bagian dari ekosistem bisnis dan lingkungan, Masyita juga aktif sebagai anggota Dewan Pengurus World Resource Institute (WRI) Indonesia dan Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO). Masyita juga pernah menjabat sebagai Kepala Ekonom di Bank DBS Indonesia, di mana ia bertanggung jawab atas analisis makroekonomi, fiskal, dan pasar keuangan.