Kisah Yusuf Hamka yang memeluk agama Islam ketika bertemu Buya Hamka di umur 23 tahun pada tahun 1981. Foto: @Instagram
JAKARTA, (ERAKINI) - Nama Jusuf Hamka dikenal sebagai sosok yang dermawan dan rendah hati. Jusuf Hamka merupakan seorang yang menjadi anak angkat Buya Hamka.
Yusuf Hamka memeluk agama Islam ketika bertemu Buya Hamka di umur 23 tahun pada tahun 1981. Waktu itu, pemuda bernama Alun Joseph ini mengetahui ada seseorang disyahadatkan di Masjid Al-Azhar Jakarta. Alun Joseph kemudian bergegas menuju Masjid Al-Azhar dan bertemu dengan Ustaz Zaini.
Saat itu ia menyatakan niatnya untuk masuk Islam. Oleh Ustaz Zaini, ia kemudian dibawa ke rumah ulama kharismatik H Abdul Malik Karim Amrullah atau akrab disapa Buya Hamka.
Jusuf Hamka atau juga dikenal dengan nama Babah Alun, lahir di Jakarta 5 Desember 1957. Alun Joseph tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga Tionghoa yang cukup terpelajar.
Orang tuanya termasuk golongan moderat. Ayahnya bernama Joseph Suhaimi atau dikenal juga dengan nama Jauw To Tjiang, merupakan seorang dosen Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta. Sementara ibunya bernama Suwanti Suhaimi atau dikenal juga dengan nama Siaw Po Swan, merupakan seorang guru.
Meskipun lahir dan dibesarkan di keluarga Tionghoa, tapi ia banyaj bergaul dengan orang-orang Islam. Mayoritas teman-temannya adalah muslim dan sering melaksanakan sholat. “Islam ini telah membentuk karakter saya dari muda sebenarnya, karena teman-teman saya Islam semua,” ujar Jusuf Hamka di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara.
Ketertarikan Jusuf Hamka pada Islam tidak terlepas dari kisah pengeras suara di masjid. Suatu hari, ibunya sedang sakit dan nyaris stroke. Kebetulan di depan rumahnya ada masjid yang menggunakan pengeras suara atau toa luar, dan itu kerap mengganggu tidur sang ibu.
Ia pun mencoba bernegosiasi dengan pengurus masjid. "Saya bilang, Pak Kiai, ibu saya sedang sakit, ibu saya suka kebangun malam kalau dengar suara adzan. Boleh enggak bantu saya tiga hari dikecilin sampai ibu saya sembuh, atau nanti kami cari tempat saudara kami pindahin,” cerita Jusuf.
Tanpa terjadi gesekan dan ketersinggungan, permintaan Alun itu langsung dipenuhi oleh pengurus masjid. "Pengurus masjid itu bilang, Alun, kamu enggak usah khawatir. Kita enggak pake speaker luar, speaker dalam aja. Kamu minta tiga hari? Saya kasih seminggu,” kata Alun mengenang kisah itu.
Seminggu kemudian, ibunya sembuh dan tidak jadi terkena stroke. Hal ini tidak terlepas dari peran pengurus masjid yang mematikan pengeras suara luarnya atas permintaan Jusuf. “Di situ saya lihat toleransi umat Islam luar biasa. Ini salah satu yang bawa saya masuk Islam sebenarnya,” kata Babah Alun.
Pada tahun 1981 saat usia Jusuf 23 menuju 24 tahun, ia sempat melihat majalah yang memberitakan ada orang masuk Islam di Masjid Al-Azhar. Ia kemudian datang ke sana dan bertemu dengan Sekretaris Masjid Al-Azhar Ustadz Zaini. “Terus saya dibawa. Dibawa ketemu Buya Hamka, orang besar, orang hebat,” katanya.
Awalnya, niat Jusuf baru ingin belajar tentang Islam sebelum mengucap dua kalimat syahadat. Namun, penjelasan Buya Hamka membuat dirinya langsung mengucap syahadat saat itu juga.
“Kalau kamu pulang kamu belum muslim, padahal kamu niat masuk Islam. Kamu kalau kenapa-kenapa, misal kecelakaan (lalu) meninggal sebagai kafir atau nonmuslim, dosanya di Buya,” kata Yusuf menirukan ucapan Buya Hamka.
Ia pun akhirnya memutuskan masuk Islam dan mengucap dua kalimat syahadat. Setelah hari itu, tiga bulan kemudian ia dipanggil oleh Buya Hamka ke rumahnya untuk menghadiri acara syukuran. Ada sekitar 300-400 jemaah yang menghadiri syukuran Buya Hamka di aula Masjid Al-Azhar, itu.
Siapa sangka, pada kesempatan itu ia ternyata diangkat sebagai anak angkat oleh Buya Hamka. Ia pun diberi nama “Hamka” di belakang namanya, yakni Mohammad Jusuf Hamka.
"Engkau aku angkat engkau sebagai anak ideologisku dan kuberikan nama Hamka. Tapi Kau punya tugas, tugasmu membawa saudara-saudara teman Tionghoa ke agama leluhur mereka, yaitu Islam. Selanjutnya, Kau harus mengharumkan nama Islam,” kata Buya Hamka kala itu. "Saya enggak bisa ngaji,” timpalnya.
“Mengharumkan nama Islam kan bukan berarti kau bisa ayat-ayat. Dengan caramu bagaimana kau mengharumkan islam,” jawan Buya Hamka.
“Alhamdulillah sekarang mengharumkan nama Islam dengan membuat nasi kuning, bikin masjid, itu lillahi ta'ala,” kata Jusuf Hamka.
Ya, dengan harta yang dimilikinya saat ini sangat mudah baginya berbuat kebaikan. Yusuf Hamka tercatat sebagai seorang pengusaha sukses di bidang konstruksi, terutama pembangunan jalan tol. Yusuf Hamka merupakan pemegang saham mayoritas di PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) yang mengoperasikan sejumlah jalan tol besar di Indonesia.
PT CMNP tercatat pernah mengerjakan proyek Barbour Road 2 di Jakarta senilai Rp16 triliun dan NS LINK di Bandung senilai Rp9 triliun dengan jumlah keseluruhan mencapai Rp25 triliun. Jusuf Hamka juga menjabat Komisaris Utama PT Mandara Permai, Komisaris Independen PT Indomobil Sukses Internasional Tbk, Komisaris PT Indosiar Visual Mandiri, Komisaris PT Citra Margatama Surabaya, dan Komisaris PT Mitra Kaltim Resources Indonesia. Ia juga menjadi bendahara Tim Kampanye Nasional Jokowi dan Ma'ruf Amin pada Pemilu 2019 lalu.
Walaupun tajir melintir, alumni Universitas 17 Agustus 1945 ini tidak suka pamer kemewahan. Dia sebenarnya punya koleksi mobil mewah, seperti mobil SUV Premium Audi Q7 yang dibeli oleh Jusuf Hamka dengan harga Rp2 miliar di tahun 2015. Lalu, mobil SUV Premium Audi E4 dengan harga Rp1,25 miliar.
Jusuf Hamka juga memiliki Rolls Royce Phantom dengan harga berkisar RP7,5 miliar, Hummer H3 seharga Rp1,5 miliar, serta Range Rover 5000 cc seharga berkisar Rp3 miliar. Maka itu, nama Jusuf Hamka kerap kali disebut warganet sebagai sosok crazy rich sejatinya.
Jusuf Hamka selalu menampilkan kesederhanaan. Ayah tiga anak ini memiliki motto yang ditulisnya di media sosial, yakni banyak duit jangan sombong, gak banyak duit jangan bohong, gak punya duit jangan nyolong.