BPS mencatat Indonesia mengalami deflasi selama lima bulan beruntun (Mei-September 2024). Foto: Ilustrasi
JAKARTA, (ERAKINI) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi selama lima bulan beruntun (Mei-September 2024). Lantas apa dampaknya bagi masyarakat dan perekonomian nasional?
Presiden Jokowi mengatakan pentingnya memahami penyebab deflasi untuk memastikan kondisi perekonomian tetap terkendali dan stabil.
"Yang pertama, coba dicek betul deflasi itu karena penurunan harga-harga barang, karena pasokannya baik, karena distribusinya baik, karena transportasi nggak ada hambatan atau karena memang ada daya beli yang berkurang?" ujar Presiden saat memberikan keterangan kepada awak media usai membuka sekaligus menghadiri Nusantara TNI Fun Run 2024 yang digelar di Kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Minggu, 6 Oktober 2024.
Jokowi menegaskan bahwa baik deflasi maupun inflasi harus dikendalikan dengan baik untuk menjaga stabilitas harga yang tidak merugikan berbagai pihak, mulai dari produsen hingga konsumen. Menurutnya, keseimbangan antara harga yang stabil dan kemampuan produsen untuk terus berproduksi sangat penting.
Dalam situasi saat ini, Jokowi menilai inflasi tahunan (year on year) masih berada di tingkat yang cukup baik, sekitar 1,8 persen. Namun, ia memperingatkan agar angka tersebut tidak terlalu rendah sehingga tidak merugikan produsen, khususnya petani dan sektor-sektor lain yang berkaitan dengan produksi.
Dirangkum dari berbagai sumber, deflasi adalah kondisi di mana harga sejumlah barang dan jasa mengalami penurunan. Istilah deflasi merupakan kebalikan dari inflasi ketika harga-harga produk mengalami kenaikan.
Meskipun pada awalnya penurunan harga dapat terasa menguntungkan bagi konsumen, tetapi dalam jangka panjang deflasi dapat membawa dampak bagi perekonomian secara keseluruhan. Hal ini meliputi stagnasi ekonomi, pengangguran, dan beban utang.
Oleh karena itu, langkah-langkah pencegahan dan penanganan perlu segera dilakukan untuk menjaga stabilitas ekonomi. Bila deflasi terus berlanjut tanpa langkah mitigasinya, maka bukan tidak mungkin kembali meningkatnya angka pengangguran di Indonesia dan beban utang yang besar.
Penyebab Deflasi Deflasi dapat dipicu oleh berbagai faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran dalam perekonomian, di antaranya:
1. Peredaran Uang Menurun
Faktor utama penyebab deflasi adalah jumlah uang yang beredar di masyarakat menurun. Umumnya penurunan peredaran uang ini disebabkan peningkatan suku bunga bank.
2. Permintaan Produk di Pasar Menurun
Ketika masyarakat menahan pengeluaran dan mengurangi konsumsi, permintaan terhadap barang dan jasa menurun. Untuk mendorong penjualan maka produsen akan menurunkan harga produk mereka. Tapi, lama kelamaan pengusaha akan mengurangi produksi barang atau jasanya sesuai kondisi yang terjadi di pasar.
3. Kelebihan Produksi (Oversupply)
Jika pasokan barang lebih banyak daripada permintaan, harga akan cenderung turun untuk mengurangi persediaan yang menumpuk di pasar. Terutama jika produksi barang tersebut masih dalam jumlah normal sebelumnya. Itu artinya, ada penumpukan produk di gudang untuk jumlah yang begitu banyak.
Untuk mengurangi volume produk yang mengendap di gudang tersebut, pengusaha atau penjual harus menjual murah barang-barang tersebut dalam harga murah.
Deflasi memiliki dampak yang signifikan, baik bagi individu maupun ekonomi secara keseluruhan. Dampaknya bisa positif maupun negatif. Dari sudut pandang konsumen, ada dampak positif ketika terjadi deflasi, yaitu:
1. Harga produk atau jasa lebih terjangkau.
2. Mata uang negara jadi menguat.
3. Kesadaran menabung di tingkat masyarakat semakin meningkat.
4. Timbul konsep dan gaya hidup frugal living atau berhemat.
Kendati demikian, dampak negatifnya justru lebih besar. Dampak negatif dari deflasi ini cukup berpengaruh terhadap kondisi perekonomian negara, yaitu:
1. Pendapatan usaha dan bisnis, baik UMKM maupun perusahaan menurun. Sebab harga jual produk dan jasanya menurun.
2. Pengusaha menerapkan kebijakan pengurangan produksi barang karena penurunan permintaan di pasar, maka dampaknya pengurangan tenaga kerja.
3. Terjadi gelombang PHK besar sehingga angka pengangguran meningkat.
4.Bagi pemilik usaha, potensi kerugian dalam bentuk cicilan kredit macet.
5. Potensi investor menarik modalnya saat melihat aktivitas jual beli bisnis tersebut merosot.
6. Pendapatan negara menurun karena pajak yang dibebankan kepada pengusaha atau masyarakat menurun.
7. Aktivitas perekonomian negara mengalami resesi.
Mengingat dampaknya yang signifikan pada perekonomian secara keseluruhan, maka penting untuk menghadapi deflasi agar tidak terjebak dalam kesulitan ekonomi yang lebih besar. Selain dari sisi pemerintah dan kebijakan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk menghadapi deflasi, yaitu:
1. Bijak dalam mengatur pengeluaran
Buatlah daftar prioritas barang atau jasa yang benar-benar dibutuhkan, lalu alokasikan anggaran untuk pembelian tersebut.
2. Melakukan pembelian sesuai kebutuhan
Dukung usaha kecil dan menengah (UKM) yang akan membantu menjaga lapangan pekerjaan dan mendorong perputaran ekonomi di tingkat lokal.
3. Meningkatkan keahlian
Salah satu dampak dari deflasi adalah meningkatnya pengangguran sehingga mulailah mengembangkan keterampilan baru atau meningkatkan keahlian yang sudah agar tidak tertinggal.
4. Cari tambahan penghasilan
Mencari alternatif atau tambahan penghasilan seperti bisnis sampingan, pekerjaan freelance, atau investasi yang aman dapat membantu memperkuat kondisi keuangan selama masa deflasi.
5. Siapkan Dana Darurat
Memiliki cadangan dana darurat minimal 3-6 bulan pengeluaran bulanan akan membantu dalam menghadapi situasi darurat, seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan mendesak lainnya.
6. Kelola utang dengan hati-hati
Jangan menambah beban utang yang tidak perlu. Sehingga tidak menjadi beban berat di kemudian hari.
7. Siapkan investasi
Jika punya dana sebaiknuya lakukan investasi dengan lebih aman dan stabil selama masa deflasi, seperti deposito berjangka dan obligasi.
8. Tetap optimis dan mempersiapkan diri dengan baik
Dengan menghadapi deflasi secara bijak, Anda dapat bertahan dalam kondisi ekonomi yang sulit dan siap memanfaatkan peluang ketika ekonomi mulai pulih.