Indonesia mengalami deflasi selama lima bulan beruntun. Kondisi memunculkan kekhawatiran Indonesia bakal mengalami krisis moneter (krismon) seperti tahun 1998. Foto: Ilustrasi/Ist
JAKARTA, (ERAKINI) - Indonesia mengalami deflasi selama lima bulan beruntun. Kondisi memunculkan kekhawatiran Indonesia bakal mengalami krisis moneter (krismon) seperti tahun 1998.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat deflasi month to month (m-to-m) pada September 2024 sebesar 0,12 persen dan tingkat inflasi year to date (y-to-d) September 2024 sebesar 0,74 persen.
Sedangkan tingkat inflasi y-on-y komponen inti September 2024 sebesar 2,09 persen, inflasi m-to-m sebesar 0,16 persen, dan inflasi y-to-d sebesar 1,69 persen.
Indonsia sudah mengalami deflasi sejak Mei 2024 sebesar 0,03%. Kemudian berlanjut pada Juni sebesar 0,08%, Juli 0,18%, dan Agustus 0,03%.
Kalangan pengusaha secara nyata mulai gelisah dengan fenomena deflasi yang terjadi selama lima bulan beruntun tersebut.
"Yang kita khawatirkan adalah, kan ini semua pengaruh juga ke daya beli, ini yang sebenarnya jadi kunci utama," ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani dalam keterangannya kepada media dikutip Kamis (3/10/2024).
Menurut dia, daya beli masyarakat penting untuk dicermati, karena konsumsi domestik selama ini menjadi kunci utama pertumbuhan ekonomi.
Shinta mengungkapkan, Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia masih berada pada level kontraksi pada Agustus 2024. Karenanya, Shinta menilai kinerja manufaktur memang sangat tergantung pada kinerja pasar domestik atau permintaan dalam negeri.
Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti sebelumnya menyebutkan bahwa deflasi beruntun dalam lima bulan bukan pertama kalinya terjadi di Indonesia. Kondisi serupa terjadi saat Indonesia melalui krismon tahun 1998-1999.
"Kalau kita lihat dan mencermati data BPS pada 1999 setelah krisis finansial Asia Indonesia pernah mengalami deflasi 7 bulan berturut-turut Maret 1999 sampai September 1999 karena akibat dari penurunan harga beberapa barang saat itu," kata Amalia saat konferensi pers, Selasa (1/10/2024).
Kata dia, periode deflasi lainnya juga pernah terjadi pada Desember 2008 sampai Januari 2009 akibat turunnya harga minyak dunia. Lalu, tahun 2020 juga pernah terjadi deflasi 3 bulan berturut-turut sejak Juli-September.
Di sisi lain, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan deflasi yang terjadi selama lima bulan berturut-turut merupakan hasil kerja keras pemerintah untuk menekan inflasi.
"Kalau kita bilang inflasinya turun, (jadi) deflasi ya ini karena ada extra effort oleh pemerintah menurunkan volatile food. Salah satu misalnya, untuk beras kan pemerintah juga melakukan importasi beras untuk menjaga stok," kata Airlangga.
Airlangga menjelaskan, inflasi yang turun tidak sedikit ditandai dengan deflasi. Oleh karena itu, apa yang terjadi saat ini merupakan bukti bahwa pemerintah terus berupaya untuk terus menekan inflasi.
Menurut Airlangga, kondisi Indonesia saat ini masih dalam tahap baik. Inflasi masih terus berada dalam rentang 2,5 persen plus minus 1 persen.
Namun, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistirajuga, tidak sepakat dengan Airlangga. Ia menilai deflasi saat ini patut dipahami sebagai indikasi melemahnya sisi permintaan secara berturut turut.
"Ini bukan kesuksesan dalam mengendalikan inflasi melainkan tanda masyarakat sedang menahan belanja. Bahkan bukan lagi tahan belanja tetapi uang yang mau dibelanjakan sudah berkurang porsinya. Kelas menengah rentan sulit cari pekerjaan. Sementara kelas menengah atas tahan belanja khawatir situasi ekonomi memburuk," papar Bhima.
Jika deflasi berlanjut, kata dia, pelaku usaha, khususnya industri makanan minuman, tekstil pakaian jadi, alas kaki hingga pelaku usaha properti akan revisi rencana bisnisnya.
Sementara Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyebutkan, tren deflasi selama lima bulan berturut-turut tidak berkaitan dengan pelemahan daya beli.
Berdasarkan data Bank Indonesia, kata dia, sejumlah indikator ekonomi masih mencatatkan kinerja positif. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Agustus 2024 masih tercatat sebesar 124,4, lebih tinggi dibandingkan 123,4 pada bulan sebelumnya.
Meningkatnya keyakinan konsumen pada Agustus 2024 didukung oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tetap optimistis dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang menguat, masing-masing 114,0 dan 134,9.
Meski begitu, Susi mengakui tren deflasi selama lima bulan belakangan menjadi alarm peringatan. Pemerintah akan menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk menghadapi tren deflasi tersebut.