Forum Insyinur Muda Persatuan Insyinur Indonesia menyelenggarakan diskusi transisi energi dan energi terbarukan menuju sistem berkelanjutan. Foto ; Dok IG FIM.PII
JAKARTA (ERAKINI) - Forum Insinyur Muda Persatuan Insinyur Indonesia (FIM PII) menggelar diskusi bertema “Potensi Energi Baru Terbarukan dalam Meningkatkan Ketahanan Energi Nasional”, yang diselenggarakan di Jakarta, Jakarta Pusat, Minggu (1/6/2025).
Dalam kegiatan tersebut, para profesional muda dan ahli energi dari berbagai sektor membahas potensi energi baru terbarukan (EBT) dalam meningkatkan ketahanan energi nasional.
Menurut Ketua FIM PII Ir. Isditya Pratama Putra, “Tujuan kita menggelar acara diskusi ini supaya insinyur muda melek terhadap update industri energi baru terbarukan. Saat ini, Indonesia belum ada jurusan khusus untuk mendalami ilmu energi baru terbarukan. Harapannya negara Indonesia banyak insinyur muda yang paham untuk memproduksi atau terlibat aktif di proyek-proyek energi terbarukan, khususnya hidrogen dan nuklir,”.
Tak hanya itu, diskusi juga menyoroti pentingnya pendidikan dan pelatihan berkelanjutan agar para insinyur muda siap menghadapi kompleksitas tantangan di sektor energi global. “Tantangannya yaitu ketergantungan batu bara, hambatan regulasi atau ketidaksinkronan kebijakan, kapasitas teknologi dan SDM, serta subsidi energi fosil menghambat daya saing energi terbarukan,” ujarnya.
Transisi energi dan energi terbarukan memiliki keterkaitan yang sangat erat. Transisi energi merupakan proses peralihan dari sistem energi yang dominan menggunakan bahan bakar fosil (seperti minyak, gas, dan batubara) menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan, bersih, dan rendah emisi karbon.
Praktisi Energi dan Logistik Izhar Mawardi menyatakan, bahwa terdapat empat tantangan dalam transisi energi atau proses pergeseran sistem energi dari penggunaan bahan bakar fosil menuju energi terbarukan. Dimana proses tersebut bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan menciptakan sistem energi yang lebih berkelanjutan.
“Tantangannya yaitu ketergantungan batu bara, hambatan regulasi atau ketidaksinkronan kebijakan, kapasitas teknologi dan SDM, serta subsidi energi fosil menghambat daya saing energi terbarukan,” ujarnya.
Sekadar informasi, Transisi energi dan energi terbarukan memiliki kaitan yang sangat erat. Transisi energi merupakan proses peralihan dari sistem energi yang dominan menggunakan bahan bakar fosil (seperti minyak, gas, dan batubara) menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan, bersih, dan rendah emisi karbon.
Sedangkan energi terbarukan menjadi pilar utama dalam transisi energi, karena sumber energi tersebut merupakan solusi yang ramah lingkungan dan dapat diperbarui secara alami, contohnya energi surya, angin, air, dan biomassa.
Pada diskusi yang diselenggarakan oleh FIM PII ini menjadi langkah nyata dalam mendorong keterlibatan generasi muda, khususnya para insinyur, dalam mewujudkan transisi energi yang berkelanjutan di Indonesia. Melalui forum ini, berbagai ide, inovasi, dan tantangan terkait energi baru terbarukan berhasil dipetakan secara konstruktif.
Melalui kolaborasi aktif antara berbagai pemangku kepentingan, diharapkan inovasi dan implementasi teknologi energi terbarukan dapat berjalan lebih optimal. Dengan semangat dan kontribusi nyata dari generasi muda, Indonesia semakin dekat menuju masa depan yang lebih bersih, berkelanjutan, dan mandiri secara energi.