Search

Kisah Karyawan Disabilitas di Pabrik Rokok HS: Menemukan Tempat Kerja Nyaman, Bahkan Sudah Mampu Lunasi Hutang

MAGELANG, ERAKINI – Pagi itu, Jumat (24/4/2026), ribuan karyawan pabrik Rokok HS di Muntilan, Magelang, memulai aktivitasnya. Tangan-tangan cekatan melinting dan mengepak batang rokok.

Di antara mereka, di sebuah sudut, ada puluhan pekerja yang berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Tangan mereka tak kalah cekatan dengan pekerja lainnya.

Salah satunya bernama Shinta (34) perempuan asal Magelang. Dia penyandang tunarungu sekaligus tunawicara, satu dari tota 70 difabel yang jadi karyawan rokok di bawah naungan Surya Group Holding Company itu.  

“Dulu, sulit sekali mencari kerja, berkali-kali melamar selalu ditolak. Mereka meragukan kemampuan kami, hanya karena kami berbeda, kami tak pernah diberi kesempatan,” kata ibu satu anak ini, Jumat.  

Dia kemudian sempat membuka usaha batik tulis kecil-kecilan di rumahnya. Namun, hasilnya belum cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Perjalanannya, dia terjerat hutang bank.

Dia tak menyerah. Ketika HS membuka karyawan untuk penyandang disabilitas, Shinta mendaftar dan diterima. Dia digaji dengan baik oleh perusahaan. Sejak itu, hidupnya berangsur membaik.

“Diterima kerja tanpa syarat dan pengalaman, kami di sini dihormati dan dihargai,” lanjut dia.  

Perlahan, hutangnya bisa dilunasi bahkan bisa menabung. Gajinya tergolong utuh, karena mendapat jatah makan dari pabrik, gratis. Mess khusus disabilitas juga disediakan. Itu membuat Shinta dan pekerja penyandang disabilitas lainnya merasa makin nyaman bekerja.  

Penyandang disabilitas lainnya yang bekerja di HS, bernama Fian (26). Dia asal Yogyakarta. Sebelumnya sempat kerja di beberapa perusahaan, tapi merasa tidak nyaman karena kerap jadi korban perundungan. Setiap ada kesalahan, dia kerap dituding jadi kambing hitam. Di Pabrik HS, dia menemukan inklusivitas.

“Kami berharap perusahaan atau pabrikan lain bisa mencontoh HS mempekerjakan karyawan disabilitas seperti kami,” kata Fian.  

Perwakilan HRD Pabrik Rokok HS, Muhammad Hanafi, menyebut 70 karyawan disabilitas yang dipekerjakannya memiliki kinerja yang baik.

“Mereka justru lebih bersemangat. Kami selalu diingatkan Pak Suryo (owner) untuk terus memberikan perhatian khusus bagi kawan-kawan difabel di sini,” ungkap Hanafi.  

Dia mengatakan, tidak ada pembedaan gaji karyawan baik yang difabel maupun yang tidak. Haknya sama. Bahkan, untuk difabel, disediakan mess gratis karena ada di antara mereka dari luar kota. Mess memudahkan mobilisasi mereka, istirahat dan kembali bekerja.  

Seperti diketahui, pabrik rokok HS terus berkomitmen menjadi perusahaan inklusif. Bos Rokok HS, Muhammad Suryo menegaskan bahwa pihaknya akan menampung sebanyak-banyaknya karyawan penyandang disabilitas.