Presiden Prabowo saat menghadiri acara sarasehan ekonomi bertajuk "Memperkuat Daya Tahan Ekonomi Indonesia di Tengah Gelombang Tarif Perdagangan" di Jakarta, Selasa (8/4/2025). Foto: YouTube Setneg
"Sebenarnya pendiri-pendiri bangsa kita sejak dulu, termasuk saya, sejak dulu sudah ingatkan, mari kita bangun ekonomi kita dengan sasaran berdiri di atas kaki kita sendiri," ujar Prabowo saat menghadiri acara sarasehan ekonomi bertajuk "Memperkuat Daya Tahan Ekonomi Indonesia di Tengah Gelombang Tarif Perdagangan" di Jakarta, Selasa (8/4/2025).
Seresehan ini dihadiri berbagai kalangan, mulai dari ekonom hingga perwakilan investor. Di hahadapan para pengusaha, Prabowo mengakui tarif resiprokalAS telah menimbulkan ketidakpastian global dan banyak negara cemas atas kondisi perekonomian dunia.
"Tarif yang begitu tinggi kepada banyak negara, ini bisa dikatakan menimbulkan ketidakpastian dunia. Banyak negara yang cemas," kata Prabowo.
Menurut Presiden, Indonesia harus berani mencari pasar ekspor baru baru selain AS, dan perlu mengatur strategi untuk melindungi kepentingan dalam negeri. Pengusaha-pengusaha Indonesia harus mulai menjajaki pasar-pasar non-tradisional yang juga potensial, seperti negara-negara Afrika.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah merespons tarif AS dengan menyiapkan langkah-langkah reformasi struktural yang tertuang dalam paket deregulasi.
Kebijakan tersebut mencakup penyederhanaan perizinan usaha, reformasi perizinan ekspor-impor, perbaikan kebijakan non-tarif (NTM) seperti TKDN dan sertifikasi halal, hingga harmonisasi tarif bea masuk dan pajak impor.
Airlangga melhat masih terdapat peluang strategis bagi Indonesia untuk memperluas ekspor produk padat karya, seperti pakaian dan alas kaki ke AS.
Peluang itu timbul karena Indonesia memiliki tarif yang lebih rendah, yakni sebesar 32 persen dibanding negara pesaing seperti Vietnam (46 persen), Bangladesh (37 persen), dan Kamboja (49 persen).
"Penetrasi pasar ini bermanfaat besar bagi ekonomi Indonesia karena memiliki multiplier effect besar secara penciptaan lapangan kerja untuk sektor padat karya," kata Airlangga.
Airlangga menilai tarif resiprokalAS sebesar 32 persen bagi Indonesia masih memberikan celah untuk mengambil alih pangsa pasar ekspor di sektor pakaian dan alas kaki.
Apalagi saat ini posisi Indonesia masih di bawah negara peers dalam pasar AS. Di sisi lain, sektor tersebut tidak dianggap strategis oleh AS, sehingga terbuka ruang untuk negosiasi soal tarif.
Airlangga memperkirakan jika Indonesia berhasil meningkatkan pangsa pasar sebesar 10 persen dari negara pesaing, maka potensi tambahan devisa yang dapat diraup mencapai sekitar USD6,4 miliar.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga menegaskan bahwa Indonesia dapat merebut peluang ekspor dari negara-negara yang terkena tarif tinggi, terutama di sektor elektronik, alas kaki dan garmen.
"Peluang Indonesia untuk take over karena beberapa negara Vietnam, Bangladesh, Thailand, China yang rate resiprokal dari AS itu lebih tinggi," ucapnya.
Namun demikian, ia mengingatkan adanya tantangan persaingan pasar dari negara-negara lain seperti Filipina (17 persen), Malaysia (24 persen), Korea Selatan (25 persen), dan India (26 persen) yang memiliki tarif lebih rendah daripada Indonesia.
Menyikapi gejolak ekonomi global, Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan mengandalkan berbagai instrumen ekonomi, mulai dari APBN hingga BPI Danantara. Instrumen ekonomi tersebut juga termasuk sumber daya alam (SDA), BUMN, dan sumber daya manusia (SDM).
“Semua instrumen, policy (kebijakan), dan regulasi serta tindakan harus dipikirkan secara teliti dan tajam serta detail dan kritis agar benar-benar membangun kemajuan ekonomi dan kesejahteraan rakyat yang lebih merata dan adil,” kata Menkeu.