Menkeu Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Juni 2025, Selasa (17/6). Foto: YouTube Kemenkeu
JAKARTA, (ERAKINI) - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit sebesar Rp21 triliun atau tekor 0,09 persen pada Mei 2025. Sri Mulyani kini was-was dampak perang Israel-Iran yang semakin memanas.
Sri Mulyani menyebut ketegangan Iran-Israel memiliki dampak yang cukup signifikan. Perang kedua negara Timur Tengah dapat menimbulkan dua risiko utama, yaitu ketidakpastian harga minyak dan pelemahan ekonomi global.
“Ini adalah suatu kejadian yang bisa langsung memengaruhi kondisi perekonomian secara sangat signifikan, baik melalui harga komoditas maupun dari sisi nilai tukar, suku bunga, dan aliran modal,” ujar dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Juni 2025, Selasa (17/6).
Sri Mulyani menjelaskan eskalasi konflik kedua negara di Timur Tengah itu telah langsung memicu lonjakan harga minyak lebih dari 8 persen, dari posisi di bawah USD70 menjadi USD78 per barel.
Maka itu, Sri Mulyani menyebut ketegangan Iran-Israel memiliki dampak yang cukup signifikan. Bersamaan dengan eskalasi konflik Timur Tengah, kebijakan fiskal ekspansif Amerika Serikat (AS) berpotensi menyebabkan sentimen terhadap fiskal negara maju menjadi negatif, sehingga bisa meningkatkan imbal hasil surat utang pemerintah AS (US Treasury).
Gejolak-gejolak itu menimbulkan dua risiko utama, yaitu ketidakpastian harga minyak dan pelemahan ekonomi global.
“Itu kombinasi yang harus kita waspadai, baik efek tekanan harga atau inflasi maupun kenaikan imbal hasil karena geopolitik dan kebijakan fiskal. Kedua hal ini menyebabkan dampak kepada seluruh dunia, termasuk Indonesia,” kata Sri Mulyani.
Selain itu, dampak konflik Iran-Israel juga bisa membebani APBN. Meski pendapatan negara berpotensi meningkat dari serapan sektor migas, namun belanja negara akan tertekan mengingat kebutuhan impor minyak.
Sri Mulyani membeberkan kinerja APBN sangat dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global, termasuk geopolitik. Kondisi perang bisa berdampak pada pendapatan negara melalui volatilitas harga komoditas. Oleh karena itu, dia menyatakan APBN akan tetap dijaga agar bisa menjalankan fungsi countercyclical.
Realisasi harga minyak hingga sejauh ini masih di bawah asumsi makro APBN 2025, yakni pada posisi 62,75 dolar AS per barel pada akhir Mei dengan rata-rata tahun berjalan (year-to-date/ytd) 70,05 dolar AS per barel. Sedangkan pada asumsi makro APBN, nilainya dipatok sebesar 82 dolar AS per barel.
“Harga minyak ini selain dipengaruhi kondisi di dalam negeri, juga dipengaruhi oleh situasi Timur Tengah, yaitu perang Israel dan Iran. Ini adalah situasi APBN, yang asumsinya sangat bisa dipengaruhi oleh kondisi perekonomian global dan kejadian perang di belahan bumi yang lain,” tuturnya.
Bahkan, posisi APBN per akhir Mei 2025 berbalik ke zona defisit setelah sebelumnya pada April 2025 mencetak surplus Rp4,3 triliun.
“Pada posisi Mei, APBN defisit Rp21 triliun. Kalau kita lihat di Undang-Undang (UU) APBN, tahun ini menetapkan defisit Rp616,2 triliun. Jadi, Rp21 triliun masih sangat kecil, tapi kami akan terus memantau,” kata Sri Mulyani.
Sri Mulyani menjelaskan, pendapatan negara pada Mei tercatat sebesar Rp995,3 triliun atau 33,1 persen dari target APBN Rp3.005,1 triliun. Nilai itu bertambah senilai Rp184,8 triliun dari April.
Lalu, penerimaan perpajakan terealisasi sebesar Rp806,2 triliun (32,4 persen dari target), terdiri dari penerimaan pajak Rp683,3 triliun (31,2 persen) dan kepabeanan dan cukai Rp122,9 triliun (40,7 persen). Sedangkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) terserap sebesar Rp188,7 triliun (36,7 persen).
Di sisi lain, penyaluran belanja negara terakselerasi pada Mei 2025, dengan realisasi Rp1.016,3 triliun atau 28,1 persen dari target Rp3.621,3 triliun. Meski nilai realisasi masih jauh dari target, mempertimbangkan paruh pertama tahun hampir berlalu, namun nilai itu meningkat sekitar Rp200 triliun dari realisasi April sebesar Rp806, 2 triliun.