Founder Djawa Health & Beauty Yosua Putra (Foto: tangkapan layar youtube Capcapung)
WONOGIRI, (ERAKINI) - Berawal dari eksperimen sederhana membuat Virgin Coconut Oil (VCO) di kamar kos saat pandemi Covid-19 tahun 2019 lalu, Yosua Putra kini berhasil mengembangkan usaha pengolahan kelapa di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Usaha yang dirintis Yosua itu kini berkembang menjadi Djawa Health & Beauty yang berlokasi di Dusun Prosorjo, Kecamatan Ngadirojo, Wonogiri.
Industri tersebut mengolah kelapa menjadi sejumlah produk bernilai ekonomi, mulai dari , minyak goreng kelapa, sambal blondo, hingga blondo kelapa. Menariknya, Yosua tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang pengolahan pangan maupun pertanian. Ia merupakan lulusan arsitektur.
"Jadi saya masuk sini itu waktu itu kondisi saya kuliah. Kebetulan juga kuliah saya dulu itu di arsitektur. Jadi banyak orang yang tanya kok melenceng jauh dari perkulian saya?," ujar Yosua seperti dilihat erakini dari tayangan youtube Capcapung, Selasa (18/8/2026).
Yosua mengungkapkan, ide usahanya tersebut muncul ketika pandemi Covid-19 melanda. Saat itu, menurut Yosua, kebutuhan terhadap minyak kelapa cukup tinggi. Yosua kemudian mencoba membuat VCO secara sederhana di kamar kos. Produk tersebut dibuat dengan metode tanpa pemanasan.
"Maka dari situ awal itu saya iseng itu membuatnya Virgin Coconut Oil yang minyak kelapa murni dan juga prosesnya tanpa pemanasan. Dan itu pun saya membuatnya itu waktu masih di kos-kosan," ujarnya.
Dari eksperimen tersebut, Yosua mulai melihat peluang bisnis yang lebih besar. Ia membaca berbagai data mengenai permintaan VCO, baik di Indonesia maupun pasar global.
"Dari kos saya berpikir untuk masuk ke industri karena saya itu baca data permintaan minyak kelapa murni selain di Indonesia ya tapi secara global itu kan sebenarnya tinggi," kata Yosua.
Yosua melihat tren penggunaan produk yang berkaitan dengan kesehatan terus meningkat. Kondisi itu membuatnya berani mengembangkan usaha dari skala rumahan menjadi sebuah industri kecil.
"Dan kita lihat tren untuk di dunia kesehatan itu juga setiap tahunnya meningkat sampai di 2030. Maka dari itu saya kepikiran untuk buat sebuah suatu mini industri," ujarnya.
Setelah terjun lebih jauh, Yosua menyadari bahwa kelapa memiliki banyak potensi untuk diolah. Tidak hanya menghasilkan minyak, hampir seluruh bagian kelapa dapat dimanfaatkan.
Di Djawa Health & Beauty, kata Yosua, sebagian proses produksi masih mempertahankan metode tradisional. Salah satunya dalam pembuatan minyak goreng kelapa dan blondo.
"Nah yang kita buat ini itu proses tradisional," ujar Yosua.
Dalam proses tradisional ini, santan kelapa dimasak dan diaduk hingga menghasilkan minyak. Dari proses tersebut muncul blondo kelapa sebagai produk samping.
Metode ini, lanjut Yosua, jelas berbeda dengan pengolahan menggunakan kopra. Pada metode kopra, kelapa dikeringkan terlebih dahulu sebelum dipres menggunakan mesin untuk menghasilkan minyak.
"Berbeda dengan yang metode DMA atau Kopra. Kalau itu kan kelapa dikeringkan lalu langsung masuk mesin pres minyak langsung keluar minyak," jelasnya.
Selain itu, pada proses tradisional, kelapa yang digunakan Yosua menghasilkan produk samping berupa blondo kelapa. Meski disebut sebagai limbah, blondo justru tidak dibuang.
Produk tersebut diolah kembali sehingga memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan masakan tradisional maupun makanan pendamping anak.
Menuju Konsep Hampir Zero Waste
Konsep pemanfaatan seluruh bagian kelapa menjadi salah satu kekuatan usaha Yosua. Air kelapa, batok, hingga ampas kelapa diupayakan tidak terbuang percuma.
Air kelapa dapat diolah menjadi bahan pestisida dan nata de coco. Sementara batok kelapa dimanfaatkan untuk produksi arang dan briket.
Adapun ampas kelapa dapat digunakan sebagai pakan ternak hingga diolah kembali menjadi minyak kelapa.
Dengan pola tersebut, proses produksi tidak hanya menghasilkan produk utama, tetapi juga membuka peluang pendapatan dari bagian kelapa yang biasanya dianggap sebagai limbah.