Salah satu jenderal yang gugur dalam peristiwa memilukan G30S/PKI adalah Jenderal Ahmad Yani. Foto: Ist
JAKARTA, (ERAKINI) - Jenderal Ahmad Yani menduduki posisi KSAD dalam usianya 40 tahun. Ia dikenal tidak hanya sebagai seorang pemimpin militer tetapi juga diplomat ulung, hingga akhirnya gugur pada malam G30S/PKI.
Tanggal 30 September menjadi sejarah kelam bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi TNI Angkatan Darat (AD). Tujuh jenderalnya gugur dalam peristiwa yang dikenal dengan / pada tahun 1965, termasuk yang saat itu menjabat Menteri/Panglima Angkatan Darat ().
Pada malam 30 September hingga 1 Oktober dini hari, Partai Komunis Indonesia (PKI) melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap sejumlah jenderal TNI AD. Jasad mereka ditemukan di sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur, dengan kedalaman lebih dari 12 meter. Kini, para jenderal tersebut dikenang sebagai Pahlawan Revolusi.
Salah satu jenderal yang gugur dalam peristiwa memilukan tersebut adalah Jenderal Ahmad Yani. Dikutip dari laman esi.kemdikbud.go.id, Rabu (25/9/2024), disebutkan, Ahmad Yani adalah tokoh militer penting yang pernah menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat di bawah Pemerintahan Soekarno.
Salim Agus dalam buku Jenderal (TNI) Anumerta Ahmad Yani “Sang Perwira di tengah Badai Revolusi”, menyebutkan, Ahmad Yani lahir pada 19 Juni 1922 di Purworejo, Jawa Tengah, anak laki-laki pertama dari pasangan Sardjo bin Suhardjo dan istrinya Murtini. Ayahnya bekerja sebagai sopir pribadi keluarga Jans Hulstijn, seorang Belanda yang menjabat sebagai administrateur di Purworejo.
Ahmad Yani menempuh pendidikan di Hollandsch Inlandsche School (HIS) tahun 1928 atas bantuan Jans Hulstijn. Ahmad Yani kemudian melanjutkan pendidikannya di Meer Uitgebreid Onderwijs (MULO) Bogor selama tiga tahun (1935–1938). Pada tahun 1938, Ahmad Yani berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan studi di Algemene Middelbare School (AMS) B untuk ilmu-ilmu pasti.
Namun, pendidikannya di AMS-B hanya berlangsung hingga tahun ke-2. Ahmad Yani tertarik di bidang militer. Maka saat pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan imbauan kepada kaum muda untuk turut dalam upaya pembelaan wilayah dari serbuan Jepang, ia memutuskan untuk bergabung pada pendidikan milisi Corps Opleiding voor Reserve Officieren (CORO) pada angkatan yang ke-3 tahun 1940.
Ahmad Yani kemudian menempuh pendidikan militernya selama enam bulan di Magelang pada Aspurant Militan Topografie Dienst (Dinas Milisi Topografi). Untuk menambah ilmunya di bidang topografi, Yani dikirim ke Malang, Jawa Timur, mengikuti pendidikan lanjutan selama enam bulan.
Pada tahun 1941 Ahmad Yani diperintahkan untuk mengikuti pendidikan basis kemiliteran atau Lerling Kadet Militent Dienst yang berlangsung selama tiga bulan di Bogor. Kemudian, ia bertugas di Bandung dan berpangkat sersan.
Pada Maret 1942, Ahmad Yani ditangkap oleh tentara Jepang karena menjadi bagian dari pasukan Hindia Belanda. Namun, berstatus tentara pribumi, ia akhirnya dilepaskan. Setelah bebas, Ahmad Yani kembali ke kampungnya dan memutuskan untuk mengikuti kursus mengetik di Purworejo.
Salah satu guru kursus mengetiknya adalah Yayu Rulia Subandiah yang akhirnya menjadi istrinya. Setahun kemudian Ahmad Yani memutuskan untuk masuk Heiho, kesatuan militer yang dibentuk oleh Jepang.
Ahmad Yani kemudian mendapatkan pangkat Shodancho (Komandan Kompi). Lalu, pada tahun 1944 ia dipindahkan ke Magelang dengan jabatan sebagai Komandan Seksi I Batalyon (Daidan) II Magelang.
Sugiarto, R Too, dkk dalam buku Ahmad Yani (1922-1965) hingga D.I Pandjaitan (1925-1965) mencatat berbagai prestasi pernah diraih Ahmad Yani pada masa perang kemerdekaan. Ahmad Yani berhasil menyita senjata Jepang di Magelang.
Setelah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia diangkat menjadi Komandan TKR Purwokerto. Kemudian, ketika Agresi Militer Pertama Belanda terjadi, pasukan Ahmad Yani yang beroperasi di daerah Pingit berhasil menahan serangan Belanda di daerah tersebut.
Pada bulan Oktober 1945, Batalyon 4 yang dipimpin Ahmad Yani terlibat dalam suatu pertempuran dengan pasukan Inggris di Banyubiru, Ambarawa. Pertempuran ini dikenang dan populer sebagai bagian dari peristiwa Palagan Ambarawa.
Pasukan yang dipimpin Ahmad Yani berhasil memukul mundur pasukan Inggris ke Semarang dengan meninggalkan perlengkapan dan persenjataannya. Pasukan Ahmad Yani terus mengejar sehingga terjadi pertempuran di Lapangan Banten, Semarang.
Ahmad Yani tidak hanya memiliki kemampuan di bidang militer tetapi juga andal di bidang diplomasi. Ia menjadi anggota delegasi dalam perundingan mengenai penentuan garis demarkasi antara daerah Republik Indonesia dan Belanda sebagai bagian dari perundingan Linggarjati.
Pangkatnya kemudian dinaikkan menjadi Letnan Kolonel pada saat penerimaan jabatan barunya sebagai Komandan Wehrkreise II. Ia juga diserahi tugas bergerilya di Gunung Merapi, Merbabu dan juga Sumbing. Aksi gerilya yang dilakukan oleh kesatuannya mendatangkan kesulitan bagi musuh.
Pihak Belanda berupaya untuk bisa mengunci pasukan Ahmad Yani, namun selalu gagal karena strategi perang gerilyanya yang cerdik. Kehebatan Ahmad Yani dan pasukannya ini diakui oleh Kolonel van Zanten, Komandan pasukan Belanda untuk Magelang dan sekitarnya. Setelah penyerahan kedaulatan pada tahun 1949, pasukan yang dipimpin oleh Ahmad Yani turun gunung dan kembali ke kota.
Pengabdian Yani sebagai perwira ditunjukkan dengan kehebatannya dalam memimpin pemberantasan pemberontakan AUI dan DI/TII di Jawa Tengah. Pada tahun 1950 Ahmad Yani sebagai Komandan Brigade turun secara langsung ke medan perang untuk menghadapi pemberontakan oleh Angkatan Umat Islam (AUI) yang dipimpin oleh Kyai Somalangu.
Dalam waktu singkat ia dan pasukannya berhasil memukul mundur para pemberontak dan pimpinan AUI tewas dalam pertempuran. Tak berselang lama, pada tahun 1951, muncul pemberontakan yang lebih besar dari Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin oleh Amir Fatah di Jawa Tengah.
Pemberontakan tersebut berlangsung cukup lama, yakni dari tahun 1952-1954. Ahmad yani kemudian berhasil menumpas perlawanan DI/TII dengan bantuan pasukan khusus yang dibentuknya dan dikenal sebagai “Benteng Raiders”.
Setelah pemberontakan DI/TII Amir Fatah berhasil ditumpas maka Pasukan Raiders semakin melambung dan Ahmad Yani kembali menjalankan tugas keseharian sebagai Komandan Infanteri XII di Purwokerto . Setahun kemudian, Letnan Kolonel Ahmad Yani mendapat tugas dari Markas Besar Angkatan Darat (Mabes AD) untuk menjalani pendidikan keluar negeri yakni Command and General Staff College (CSGC) di Forth Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat.
CSGC merupakan sebuah pusat pendidikan militer dan perwira paling bergengsi serta prestisius di Amerika Serikat. Ia kemudian menyelesaikan seluruh tugas pendidikannya pada tahun 1956. Setelah kembali ke tanah air, Ahmad Yani lalu mendapatkan kepercayaan untuk menjabat sebagai Asisten II KASAD (Kepala Satuan Angkatan Darat). Setelah satu tahun bertugas di Mabes, tepatnya pada tahun 1957, Ahmad Yani mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Kolonel.
Ketika berpangkat Kolonel, Ahmad Yani ditunjuk sebagai pemimpin Operasi 17 Agustus dengan tugas khusus mengamankan daerah Sumatra Barat yang merupakan jantung pusat pemberontakan. Perlawanan itu disebut sebagai Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang dipimpin oleh Syafruddin Prawiranegara sekitar tahun 1958. Pemberontakan itu berhasil ditumpas dengan waktu yang cukup singkat yakni kurang dari satu bulan.
Pada tahun 1960 dalam usianya yang ke-38 tahun, Ahmad Yani mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Brigadir Jenderal. Masih di tahun yang sama, ia mendapatkan kepercayaan untuk dipromosikan menjadi Wakil KSAD. Selang satu tahun, yakni pada 1961, Ahmad yani kembali mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Mayor Jenderal.
Pada April 1961 pemerintah membentuk satuan untuk memuluskan rencana operasi militer di Papua Barat akibat sifat keras kepala pihak Belanda yang terus bersikeras tak ingin melepaskan Papua Barat kepada Indonesia. Satuan itu disebut sebagai Gabungan Kepala Staf (GKS), yang mana Ahmad Yani sendiri merupakan utusan dari Angkatan Darat bersama Brigjen Soeharto.
Lalu pada 14 Desember 1961 dibentuklah KOTI Pemirbar (Komando Operasi Tertinggi Pembebasan Irian Barat). Ahmad Yani memegang jabatan sebagai Kepala Staf KOTI. Kemudian, tepat pada 19 Desember 1961, Sukarno mengeluarkan satu Komando pembebasan yang dinamakan Trikora (Tiga Komando Rakyat).
Akhirnya pada 23 Juni 1962, Mayor Jenderal Ahmad Yani dilantik menjadi KSAD menggantikan Jenderal AH Nasution. Ini artinya, Ahmad Yani dalam usia 40 tahun sudah berhasil menduduki jabatan tertinggii Korps Angkatan Darat dengan pangkat Letjen (bintang 3).
Setelah itu muncul isu “Dewan Jenderal” pada bulan Mei 1965. Isu tersebut membuat gaduh masyarakat dengan penemuan dokumen yang menyatakan bahwa Dewan Jenderal telah bekerja sama dengan CIA, Central Intelligence Agency, Amerika Serikat untuk melakukan kudeta terhadap kekuasaan Bung Karno.
Isu tersebut diperparah dengan beredarnya berita tentang kondisi kesehatan Soekarno yang memburuk. Ahmad Yani kemudian menjelaskan kebenaran dari isu tersebut langsung kepada Bung Karno dan menyatakan bahwa personil AD patuh dan akan selalu berada di belakang Soekarno.
Namun, pada 1 Oktober 1965 sekitar pukul 03.00-04.00 WIB ,segerombolan pasukan berseragam Cakrawibawa menerobos masuk ke dalam rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Tak lama setelah itu, terdengar berondongan senjata yang tertuju kepada Ahmad Yani. Ia akhirnya tertembak di depan kamarnya yang disaksikan oleh anak-anaknya.
Gerombolan yang menamakan diri sebagai “Gerakan 30 September” lalu menyeret jenazah Ahmad Yani keluar dan membawanya ke suatu tempat yang bernama Lubang Buaya di kawasan Pondok Gede, Jakarta Timur.
Pada 4 Oktober 1965, jasad Ahmad Yani bersama tujuh jenazah perwira tinggi TNI AD lainnya ditemukan. Sehari setelahnya, tepatnya pada 5 Oktober 1965, bertepatan dengan hari ABRI ke-20, para perwira tinggi TNI AD yang gugur dikebumikan dalam satu upacara kebesaran militer dari Mabes AD menuju Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta.
Ahmad Yani dan perwira tinggi TNI yang gugur kemudian dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional dan Pahlawan Revolusi atas jasanya mengawal kemerdekaan serta mempertahankan ideologi Pancasila. Pangkat Ahmad Yani pun dinaikkan menjadi jenderal bintang 4 dan mendapatkan 13 gelar kehormatan atas pengabdiannya.