Profil Letjen (Purn) Sintong Panjaitan, Senior Prabowo di Kopassus yang Disebut Jadi Komisaris Pertamina
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) - Nama Letjen (Purn) Sintong Panjaitan santer dikabarkan diangkat sebagai Komisaris Pertamina (Persero). Kabar ini mencuat bersamaan dengan agen pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) tahunan Pertamina, Kamis (12/6/2025).
Lantas siapa Letjen TNI (Purn) Sintong Panjaitan? Dirangkum Erakini, Sintong Panjaitan dikenal sebagai Penasihat Militer Presiden ke-3 RI, BJ Habibie. Sintong Panjaitan juga merupakan senior Prabowo Subianto saat di Korps Baret Merah Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Bahkan, Sintong pernah memarahi Prabowo Subianto. Kisah ini tertulis dalam buku Sintong & Prabowo, Dari 'Kudeta L.B. Moerdani Sampai 'Kudeta Prabowo'. Saat itu Prabowo yang masih berpangkat Mayor dan menjabat Wakil Komandan Detasemen 81/Anti Teror. Sedangkan Sintong sudah menjabat sebagai Komandan Kopassus pada 5 Mei 1985.
Pemilik nama lengkap Sintong Hamonangan Panjaitan ini merupakan Akademi Militer Nasional (kini Akmil) tahun 1963. Lahir di Tarutung, Sumatera Utara pada 4 September 1940, Sintong merupakan anak ketujuh dari sebelas bersaudara.
Minatnya terhadap dunia militer tumbuh sejak usia dini, terutama ketika menyaksikan langsung rumahnya dibom oleh pesawat tempur Belanda saat Agresi Militer. Pada masa SMA, ia bahkan sempat terlibat latihan kemiliteran yang digerakkan oleh PRRI di bawah pimpinan Kolonel Maludin Simbolon.
Sintong memulai pendidikan militernya di Akademi Militer pada tahun 1960 dan lulus tiga tahun kemudian. Ia kemudian ditempatkan di kesatuan pasukan elit RPKAD (kini Kopassus), dan mulai bertugas dalam berbagai operasi, termasuk penumpasan DI/TII pimpinan Kahar Muzakar di Sulawesi dan misi konfrontasi Malaysia di Sarawak.
Salah satu kiprah pentingnya tercatat saat Gerakan 30 September (G30S) meletus. Sintong, yang kala itu tergabung dalam pasukan di bawah Lettu Feisal Tanjung, memimpin pasukan untuk merebut kantor pusat RRI serta mengamankan Halim Perdanakusuma.
Ia juga ikut menemukan sumur tua di Lubang Buaya, tempat ditemukannya jenazah para jenderal yang menjadi korban G30S.
Sintong merupaka pemimpin Grup-1 Para Komando yang terjun dalam operasi pembebasan kontra terorisme dalam peristiwa pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla tanggal 31 Maret 1981. Operasi ini dijalankan saat pangkatnya adalah Letnan Kolonel.
Walaupun terdapat dua korban jiwa (satu Pilot dan satu anggota Para Komando), operasi tersebut dinilai sukses oleh pemerintah Indonesia karena selamatnya seluruh awak dan penumpang pesawat yang lain, sehingga ia beserta timnya dianugerahi Bintang Sakti dan dinaikkan pangkatnya satu tingkat.
Kiprah Sintong juga terlihat dalam upaya diplomasi militer saat Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) di Irian Barat pada 1969 serta operasi di Timor Timur. Pengalamannya ini mengantarkannya menjabat sebagai Pangdam IX/Udayana.
Namun, kariernya terguncang setelah Insiden Dili di pemakaman Santa Cruz pada 11 November 1991 yang menewaskan sejumlah warga sipil dan memicu kecaman internasional. Ia kemudian dicopot dari jabatannya dan digugat di pengadilan perdata oleh keluarga korban. Pada 1994, ia divonis untuk membayar ganti rugi sebesar USD14 juta.
Sintong mengakhiri pengabdiannya di TNI dengan pangkat Letnan Jenderal dan sempat menjadi penasihat militer Presiden BJ Habibie. Sepanjang karier militernya, ia telah menerima lebih dari 20 perintah operasi, baik di dalam maupun luar negeri, dan menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah militer Indonesia, khususnya di satuan elite Kopassus.


















