Trans Sumatera Railway: Proyek Raksasa Bernilai Rp350 Triliun untuk Perkuat Konektivitas Penumpang dan Logistik
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) – Pemerintah mulai mematangkan konsep pengembangan Trans Sumatera Railway sebagai jaringan transportasi terintegrasi yang menghubungkan berbagai wilayah di Pulau Sumatera.
Proyek sepanjang sekitar 1.700 kilometer ini tidak hanya ditujukan membangun jalur kereta, tetapi juga menciptakan simpul-simpul transportasi antarmoda untuk memperkuat konektivitas penumpang dan logistik.
Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Risal Wasal mengatakan, pengembangan Trans Sumatera Railway diarahkan pada pembentukan simpul transportasi yang saling terhubung secara optimal, aman, nyaman, dan mudah diakses masyarakat.
“Terintegrasi dengan baik, aman, nyaman,” kata Risal di sela Seminar Nasional dan Pengukuhan Pengurus Pusat serta Majelis Profesi dan Etik Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Masa Bakti 2025–2028 di Jakarta, Selasa (4/8/2026)
Menurut Risal, fokus utama pemerintah bukan membangun kawasan Transit Oriented Development (TOD), melainkan menciptakan titik integrasi antarmoda yang menjadi pusat perpindahan penumpang maupun barang.
“Saya tidak bicara TOD. Saya bicara simpul integrasi, bisa berbentuk hub atau model lainnya. Yang utama adalah simpul transportasinya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, simpul-simpul transportasi baru akan dikembangkan sesuai karakteristik wilayah dan kebutuhan pelayanan di masing-masing daerah di Sumatra. Integrasi tersebut diharapkan membuat perpindahan antarmoda lebih efisien sekaligus meningkatkan konektivitas antarkawasan.
Pembiayaan di Luar APBN
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa proyek Trans Sumatera Railway tidak akan bergantung sepenuhnya pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah tengah mencari berbagai skema pembiayaan alternatif untuk mempercepat pembangunan jaringan kereta tersebut.
“Kita tidak hanya menggantungkan dari anggaran pemerintah. Kita harus berinovasi agar bisa mendapatkan pendanaan di luar APBN,” kata Dudy.
Proyek ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat jaringan perkeretaapian di luar Pulau Jawa, terutama guna mendukung angkutan logistik yang lebih efisien dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Pemerintah telah membentuk tim khusus untuk mengkaji pengembangan jaringan Trans Sumatera Railway yang menghubungkan Banda Aceh hingga Bandar Lampung. Nilai investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai sekitar USD25 miliar atau sekitar Rp350 triliun.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin mengungkapkan, kajian dilakukan bersama Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Danantara, serta Kementerian Perhubungan.
Saat ini jaringan rel aktif di Sumatera masih terfragmentasi dan belum saling terkoneksi secara penuh. Pada tahap awal, pemerintah menetapkan pembangunan jalur Banda Aceh–Besitang sebagai prioritas utama.
Dorongan terhadap proyek ini menguat setelah Presiden Prabowo Subianto secara langsung meminta PT KAI dan Kementerian Perhubungan menggarap pembangunan jalur kereta Trans Sumatra dan melanjutkannya dengan proyek Trans Kalimantan.
“Habis Trans Sumatera, nanti Trans Kalimantan. Kalau bisa bersamaan, kita mulai,” kata Prabowo saat meresmikan hasil renovasi tahap pertama bangunan cagar budaya Stasiun Semarang Tawang di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026).
Presiden menegaskan, jalur Trans Sumatera harus menghubungkan wilayah paling selatan di Bakauheni hingga kawasan paling utara Pulau Sumatera. Ia menyebut proyek tersebut sebagai target strategis nasional yang harus diwujudkan.
Prabowo bahkan meminta komitmen langsung dari Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin dan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi untuk mengerjakan proyek tersebut.
“Bisa, KAI? Menteri Perhubungan? Kita kasih dia. Tugas harus dikasih yang berat, jangan kasih yang ringan-ringan,” tegas Prabowo.
Menurut Presiden, Indonesia sebagai negara besar harus memiliki visi pembangunan yang besar, termasuk dalam pengembangan transportasi perkeretaapian. Ia meminta seluruh pemangku kepentingan berpikir jangka panjang dalam membangun infrastruktur nasional.
“Gantungkan cita-cita kita setinggi langit. Kalau tidak sampai ke langit, minimal kita jatuh di antara bintang-bintang,” katanya.
Dengan konsep integrasi antarmoda dan skema pembiayaan non-APBN, Trans Sumatra Railway diproyeksikan menjadi tulang punggung konektivitas baru di Sumatra sekaligus fondasi pengembangan jaringan kereta lintas pulau di Indonesia.


















