Harga Beras Terus Naik, Dirut Bulog: Situasinya Sedang Tidak Mudah
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) - Harga beras di Indonesia diperkirakan belum akan mengalami penurunan dalam waktu dekat. Berbagai faktor di dalam negeri dan kondisi global turut memengaruhi kenaikan harga beras.
"Situasinya memang sedang dapat tekanan dari sisi produksi. Sebagian petani kita terlambat tanamnya. Mulai Januari mereka tanam," ujar Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (29/1/2024).
Berdasarkan informasi di Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga rata-rata nasional untuk beras premium di pedagang eceran pada Senin ini meningkat ke level Rp15.280 per kg, dan untuk beras medium Rp13.430 per kg.
Bayu mengatakan, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan pada Januari-Februari 2024 terjadi defisit persediaan beras nasional sekitar 2,7 juta ton.
"Baru mulai ada panen agak besar pada Maret (2024). Jadi, memang sekarang sedang terjadi defisit, makanya harganya naik," ungkapnya.
Alasan lainnya, kata dia, juga terkait dengan harga pupuk global yang belum turun, karena kondisi global seperti perang Ukraina-Rusia.
"Harga pupuk belum turun, masih susah karena faktor Ukraina. Kemudian juga sekarang yang jadi situasi di global adalah gangguan dari rantai pasok karena ada situasi dengan Laut Merah membuat transportasi memutar lewat Afsel, muterin Afrika," jelasnya.
"Tadinya, lewat Terusan Suez lebih pendek sekarang jadi panjang dan itu menambah waktu dan biaya. Itu juga mendorong harga naik, jadi memang situasinya sedang tidak mudah," sambungnya.
Oleh karena itu, kata dia, distribusi beras program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) harus dilaksanakan untuk menekan harga beras.


















