Nama Tya Ariestya tak lagi sekadar dikenal sebagai pesohor di dunia hiburan. Bersama sang suami, Irfan Ratinggang, Tya kini juga menekuni bisnis kos-kosan. Foto: Instagram@tya_ariestya
JAKARTA, (ERAKINI) —Tya Ariestya tak lagi sekadar dikenal sebagai pesohor di dunia hiburan. Bersama sang suami, Irfan Ratinggang, Tya kini juga menekuni bisnis properti dan mengelola sejumlah kos-kosan mewah di berbagai lokasi strategis, mulai dari Setiabudi, Cilandak, hingga Karawang.
Teranyar, Tya Ariestya bersama suaminya bersiap melebarkan sayap terbaru yang akan diluncurkan pada 17 Agustus 2026. Proyek pembangunan kosan mewah itu telah memasuki tahap penyelesaian akhir di Jakarta Selatan.
Di tengah bisnis yang terus berkembang, Tya justru memilih pola hidup yang sederhana untuk diterapkan kepada kedua buah hatinya, Kanaka dan Isaka. Baginya, kemewahan yang dimiliki orang tua tidak boleh membuat anak kehilangan kemampuan untuk menghargai uang, memahami kebutuhan, dan hidup mandiri.
Prinsip itu tak hanya disampaikan lewat nasihat. Tya membiasakan anak-anaknya memahami langsung bagaimana uang diperoleh dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu cara Tya mengenalkan nilai uang kepada Kanaka adalah dengan mendorong putra sulungnya menjalankan usaha jasa painting casing HP dan tumbler.
Tya tidak sekadar memberikan modal, tetapi mengajarkan Kanaka menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual yang masuk akal.
"Aku ajarin dia belajar ngitung. 'Kak, tadi beli pilox berapa? Oh 15 ribu, itu modal kamu'. Dari situ dia belajar, kalau jual jasa Rp25 ribu ternyata enggak nutup modal, akhirnya dia naikkan jadi Rp50 ribu. Aku pengen dia tahu mana yang perlu dikeluarkan dan mana yang tidak," ujar Tya.
Bagi Tya, pengalaman sederhana tersebut menjadi pelajaran yang sulit diperoleh hanya melalui teori. Kanaka belajar bahwa berjualan bukan sekadar menerima uang, tetapi juga menghitung modal, biaya, keuntungan, hingga menentukan harga.
Gultik Rp7.000 dan Pelajaran tentang Kesederhanaan
Kekayaan juga tidak membuat Tya membatasi anak-anaknya pada fasilitas serba mahal. Ia justru berusaha mengenalkan mereka pada berbagai pengalaman dan lingkungan.
Salah satunya ketika Tya mengajak anaknya menyantap Gultik alias Gulai Tikungan di kawasan Mahakam. Harga seporsi makanan tersebut hanya sekitar Rp7.000.
Bagi Tya, nominal tersebut bukan persoalan. Yang lebih penting adalah pengalaman yang kelak menjadi memori bagi anaknya.
"Memori yang dia ingat mungkin bukan beliin mainan mahal, tapi momen makan Gultik itu. Dia sempat kaget, 'Bunda kok harganya cuma 7 ribu?'. Aku pengen dia bisa masuk ke semua kalangan. Dari sekarang dia harus bisa makan di warteg juga," kata Tya.
Tya ingin anak-anaknya terbiasa berada di berbagai lingkungan tanpa merasa lebih tinggi hanya karena memiliki fasilitas lebih.
Ponsel Rp150 Ribu, tetapi Penuh Nilai Personal
Cara Tya menanamkan kesederhanaan juga terlihat dari pilihan barang yang diberikan kepada anaknya.
Kanaka dibekali sebuah ponsel jadul seharga sekitar Rp150 ribu yang hanya dapat digunakan untuk telepon dan SMS. Ponsel tersebut diberikan karena Kanaka terkadang merasa khawatir ketika harus terpisah sebentar dari orang tuanya di tempat umum.
Namun, barang sederhana itu justru menjadi sesuatu yang dibanggakan Kanaka. Ia bahkan menghias bagian belakang ponselnya sendiri.
"Dia bangga punya barang Rp150 ribu itu karena di belakangnya dia cat sendiri, dia kreasikan. Anak-anakku alhamdulillah enggak pernah minder dengan barang biasa," tutur Tya.
Sikap serupa juga mulai terlihat dari Isaka. Tya menuturkan, putranya pernah mengatakan bahwa mobil mewah bukanlah sesuatu yang utama. Menurut sang anak, fungsi mobil adalah yang terpenting, yakni sebagai kendaraan agar tidak kepanasan maupun kehujanan.
Setiap Uang Jajan Harus Dicatat
Pendidikan finansial di keluarga Tya juga diterapkan dalam hal yang paling sederhana: uang jajan.
Tya membiasakan Kanaka mencatat setiap pengeluaran dari uang yang diberikan kepadanya. Kebiasaan tersebut dilakukan agar sang anak mengetahui ke mana uangnya pergi.
"Setiap aku kasih jajan, aku minta dia bikin catatannya. Hari ini uangnya dipakai buat jajan apa saja," ucap Tya.
Menurut Tya, pencatatan pemasukan dan pengeluaran dapat membantu anak memahami bahwa uang bukan sesuatu yang datang dengan mudah.
"Pemasukan dan pengeluaran diajarin biar dia lebih menghargai uang. Jangan menganggap uang itu gampang didapat, jadi dia harus tahu mana yang perlu dikeluarkan dan mana yang tidak," tegasnya.
Bagi Tya, pelajaran tersebut menjadi bagian penting dari persiapan anak menghadapi kehidupan ketika mereka dewasa dan harus mengambil keputusan finansial sendiri.
Pendidikan Anak Tetap Jadi Prioritas
Sementara pendidikan finansial berjalan di rumah, bisnis properti Tya dan Irfan juga terus berkembang.
Salah satu aset yang dikelola pasangan tersebut adalah kos eksklusif berlantai empat di Cilandak yang dilengkapi fasilitas seperti rooftop dan kolam renang. Tya juga berencana meluncurkan properti kos terbarunya pada 17 Agustus 2026, yang sekaligus dipersiapkan sebagai kado anniversary pernikahannya.
Perjalanan Tya menunjukkan dua sisi yang berjalan beriringan. Di satu sisi, ia membangun aset dan mengembangkan bisnis properti. Di sisi lain, ia berusaha memastikan anak-anaknya tidak tumbuh dengan anggapan bahwa kenyamanan dan kemewahan adalah ukuran utama keberhasilan.
Bagi Tya, aset memang penting sebagai bekal masa depan. Namun, karakter anak adalah investasi yang jauh lebih panjang.
"Perjalanan hidup itu panjang, kalau enggak dipupuk kesederhanaan dari kecil, mereka enggak akan siap. Kita enggak selamanya hidup bermewah-mewahan," pungkasnya.