Presiden Joko Widodo (keenam kanan) berfoto bersama (dari kiri) Presiden Bangladesh Mohammed Shahabuddin, Presiden Filipina Ferdinand Romualdez Marcos Jr, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, Head of Delegation Sarun Charoensuwan, Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh, Perdana Menteri Laos Sonexay Siphandone, Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, dan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao saat pembukaan KTT ke-43 ASEAN 2023 di Jakarta, Selasa (5/9/2023). (Foto: Antara/Media Center KTT ASEAN 2023/Zabur Karuru/foc)
JAKARTA, (ERAKINI) - Para pemimpin negara-negara yang tergabung dalam keanggotaan ASEAN mendeklarasikan komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan di ASEAN dalam membangun ketahanan pangan dan gizi di kawasan ASEAN guna menghadapi potensi krisis.
“Deklarasi ini menitikberatkan pada dua strategi penanganan krisis pangan,” kata Syahrul Yasin.
Syahrul Yasin merinci, strategi pertamanya adalah aksi cepat ASEAN dalam menghadapi krisis pangan dan gizi. Sementara untuk strategi kedua, lanjut Syahrul, adalah meningkatkan kesiapsiagaan ASEAN dalam mengantisipasi krisis pangan di masa datang melalui penguatan ketangguhan (resilience) dan keberlanjutan (sustainability) sistem pertanian dan pangan.
Deklarasi tersebut, kata Menteri Syahrul, merupakan usulan ASEAN Ministers on Agriculture and Forestry atau AMAF. Para menteri pertanian kawasan ASEAN melihat perlunya merespons tantangan global mulai dari pesatnya pertumbuhan populasi, pemulihan dampak pandemi COVID-19, ketegangan geopolitik, dan peningkatan intensitas perubahan iklim.
Menteru Syahrul menyebut, strategi aksi cepat ketahanan pangan dan gizi dalam merespons krisis akan dilakukan melalui beberapa langkah. Salah satunya adalah dengan mendorong setiap negara anggota ASEAN untuk memperkuat cadangan pangan berbasis sumber daya lokal atau ‘Local Resource-based Food Reserve’ (LRBFR) sebagai fondasi untuk membangun cadangan pangan bersama di wilayah ASEAN yang didedikasikan bagi kesiapsiagaan dan tanggap darurat.
Adapun Pembahasan komprehensif LBFR tersebut akan dilaksanakan pada pertemuan the 45th ASEAN AMAF Meeting bulan Oktober 2023 mendatang.
“Perlu adanya peningkatan pasokan pangan guna menjamin ketersediaan pangan yang memadai, terjangkau, dan bergizi khususnya bagi kelompok masyarakat yang paling rentan di ASEAN. Selain itu, kami akan menguatkan program bantuan pangan darurat dan mekanisme pelepasan cadangan beras darurat di bawah kerangka ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserves (APTERR),” ujar Syahrul.
Selain itu, para anggota AMAF juga telah sepakat untuk menyusun rencana aksi ASEAN Regional Guideline on Sustainable Agriculture sebagai panduan implementasi panduan pertanian berkelanjutan di masing-masing negara ASEAN.
“Fasilitasi akses pembiayaan bagi petani skala kecil, pasokan pupuk yang memadai, dan investasi yang ditujukan untuk ketangguhan terhadap dampak perubahan iklim dan pertanian berkelanjutan juga akan terus ditingkatkan,” jelas Syahrul .
Di samping itu, program-program untuk mengatasi food loss and waste (FLW), seperti Food Rescue, Save Food, dan Food Bank juga akan terus digalakkan secara intensif. (ant)