Sarat Doa dan Makna Batik Gringsing
Hendrati Hapsari
SEMARANG, (ERAKINI) - Canting malam pengrajin batik asal Gringsing kembali memanas seiring upaya Siti Maghfiroh nguri-uri budaya asli Kabupaten Batang.
Pamor kain sarat doa dan makna perlahan terangkat dengan nama Batik Gringsing. Siti Maghfiroh merintis usaha sejak 2024. Sejatinya, batik ini sudah ada puluhan tahun lalu namun ditelan waktu hingga akhirnya meredup.
Di balik keindahan selembar kain tersirat kisah spiritual langgeng turun temurun. Batik Gringsing diperkenalkan oleh Ki Ageng Gringsing atau dikenal dengan nama Eyang Abdullah Sholeh Sungging. Adalah tabib menggunakan kain Gringsing sebagai media pengobatan.
“Batik Gringsing berfungsi sebagai media pengobatan. Saat itu, jika ada warga sakit akan diselimuti kain Gringsing dan didoakan dipercaya akan sembuh,” kata dia, Jumat (5/9/2025), saat pameran di sebuah pusat perbelanjaan Kota Semarang.
Sementara itu, istri Nyai Roro Santan adalah seorang penenun ulung membuat dan memasarkan Kain Gringsing tersebut. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknik pewarnaan kain Gringsing mulai diberi motif hingga lahir Batik Gringsing.
Warisan leluhur ini dilestarikan secara turun temurun oleh anak cucu Ki Ageng Gringsing untuk meneruskan pembuatan Batik Gringsing hingga saat ini.
“Ide mengangkat Batik Gringsing kembali sudah lama sekitar tahun 2019 tapi baru terealisasi tahun 2024. Saya memiliki niat nguri-uri adiluhung dan kearifan lokal,” kata dia.

















