Peradaban Dibangun oleh Tata Kelola, Kemanusiaan Dihidupkan oleh Kolaborasi
Ahmad Taufiq
Ahmad Taufiq
Nahdliyin Pemerhati Media
Ada satu pekerjaan besar di PBNU yang justru paling sedikit dibicarakan publik, tetapi mungkin menjadi pekerjaan paling menentukan bagi masa depan Nahdlatul Ulama: membangun tata kelola organisasi yang terintegrasi. Ironisnya, tantangan terbesar bukan datang dari luar organisasi, melainkan dari dalam.
Ketika KH Yahya Cholil Staquf mulai mendorong lahirnya ekosistem digital DIGDAYA NU sebagai tulang punggung transformasi organisasi, tidak semua menyambutnya dengan antusias. Ada yang menganggapnya terlalu rumit, ada yang merasa cukup dengan cara kerja lama, bahkan ada yang khawatir digitalisasi akan mengurangi otonomi masing-masing lembaga. Padahal, persoalan sesungguhnya bukan soal aplikasi, melainkan soal cara berpikir.
Organisasi sebesar NU tidak mungkin lagi dikelola dengan pola kerja yang berjalan sendiri-sendiri. Setiap lembaga memiliki kekuatan, pengalaman, dan pengabdiannya masing-masing. Namun ketika semuanya bergerak tanpa satu sistem yang saling terhubung, potensi sebesar itu sering kali tidak menghasilkan daya ungkit yang maksimal. Yang terjadi justru duplikasi pekerjaan, keterlambatan informasi, tumpang tindih program, hingga sulitnya mengukur dampak secara menyeluruh.
Dalam konteks itulah DIGDAYA NU seharusnya dipahami. Ia bukan sekadar teknologi, melainkan fondasi tata kelola organisasi. Digitalisasi hanyalah alat. Yang sedang dibangun Gus Yahya adalah sebuah ekosistem organisasi yang mampu menghubungkan data, sumber daya manusia, layanan, dan seluruh perangkat jam'iyah ke dalam satu sistem yang saling bekerja. Dengan kata lain, NU tidak hanya memiliki jaringan yang besar, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola jaringan tersebut secara cerdas.



















