Dua Tahun Asta Cita: Melihat Kemenag Bekerja dari Atas ke Bawah
M Arif Efendi
Waktu bergerak begitu cepat. Tanpa terasa, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka telah berjalan dua tahun.
Dalam konferensi pers di lobby kantor pusat Kemenag, Jakarta, Senin (19/10/2026), Menteri Agama Nasaruddin Umar memaparkan sejumlah capaian yang cukup menggugah. Bukan untuk pamer, tapi untuk menunjukkan bahwa kehadiran negara melalui Kementerian Agama semakin dirasakan.
Dari sekain banyak capaian, Penulis ingin mengulas dana sosial keagamaan dan wakaf uang yang mencapai Rp49 triliun, serta anggaran tunjangan profesi guru dan dosen yang mencapai lebih dari Rp50 triliun.
Apa makna di balik angka-angka itu? Penulis mencoba membaca melalui kata mutiara Ernest Hemingway, 'Sekarang bukan waktunya untuk memikirkan apa yang tidak Anda miliki. Pikirkan apa yang dapat Anda lakukan dengan apa yang ada'.
Kutipan Ernest Hemingway ini tepat untuk memahami cara Kemenag menerjemahkan Asta Cita. Menteri Agama Nasaruddin Umar tidak mengeluhkan keterbatasan yang ada, namun justru memaparkan apa yang bisa dilakukan dengan mandat yang ada, yakni Asta Cita ke-3, ke-4, ke-7, dan ke-8 dari pemerintahan Prabowo-Gibran.
Untuk Asta Cita ke-3 tentang pemerataan ekonomi misalnya, Kemenag tidak menciptakan program dari nol. Kemenag justru mengoptimalkan ekosistem filantropi yang sudah hidup di masyarakat: zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Hasilnya, Rp44,6 triliun ZIS terkumpul dengan 149 juta penerima manfaat, wakaf uang Rp4,7 triliun menjangkau 750 ribu penerima, dan 50 ribu hektare tanah wakaf di 467 ribu titik diberdayakan.
Kemenag selanjutnya mengubah dana itu dari sekadar bantuan menjadi kemandirian. Inilah wujud-melakukan sesuatu dengan apa yang ada: ada 267 Kampung Zakat, 287 titik pemberdayaan ekonomi berbasis KUA, dan 25 Kota Wakaf.
Bahkan, dana sosial lintas agama pun dikelola: Dharma Dana Hindu Rp3,17 miliar, Dana Paramita Buddha Rp11 miliar, dan dana sosial Kristen Rp6,16 miliar. Semua mengarah pada satu tujuan: ekonomi umat yang berdaya.
Sejalan dari hal itu, Melodie Beattie juga pernah menuliskan kata mutiara 'Syukur membuka kepenuhan hidup. Syukur mengubah apa yang kita miliki menjadi cukup, dan banyak lagi. Ini mengubah penolakan menjadi penerimaan, kekacauan menjadi keteraturan, kebingungan menjadi kejelasan'.
Penulis mengutip kata mutiara ini karena relevan untuk membaca capaian di Asta Cita ke-4, tentang pemerataan pendidikan. Di tengah kondisi masyarakat yang tidak mudah, Kemenag memilih mengedepankan rasa syukur yang produktif. Syukur itu diwujudkan dalam perluasan akses, agar keterbatasan ekonomi tidak memutus kesempatan belajar.
Buktinya, PIP Madrasah menjangkau 5,1 juta siswa (Rp4,03 triliun), KIP Kuliah menjangkau 289 ribu mahasiswa PTKI (Rp 3,03 triliun), dan Beasiswa Indonesia Bangkit LPDP menjangkau 3.659 penerima.
Syukur itu juga dihadirkan untuk pendidiknya. Pada 2025, 452 ribu guru menerima tunjangan profesi Rp19,1 triliun, dan pada 2026 naik menjadi 671 ribu guru dengan Rp25,9 triliun. Seperti kesaksian Silvy Okta Erviana, guru non-ASN di Kab. Semarang, tunjangan itu membuatnya lebih fokus mengajar.
Syukur yang mengubah kekacauan menjadi keteraturan ini juga terlihat pada penguatan kelembagaan pesantren. Kehadiran Ditjen Pesantren bukan sekadar penambahan struktur, melainkan penataan agar tiga fungsi pesantren - pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan - berjalan lebih terarah.
Ditambah program Makan Bergizi Gratis untuk 6,3 juta siswa-santri dan Cek Kesehatan Gratis untuk 3,2 juta santri, agar santri yang sehat memiliki kesempatan tumbuh.
Sementara, penyair dan seniman asal Amerika - Kahlil Gibran - juga pernah menulis syair 'Kejujuran adalah sebuah kebaikan terdalam yang mengajarkan kita untuk bersyukur pada hidup kita sendiri dan membagi kebahagiaan tersebut dengan orang-orang'.
Penulis menilai kutipan syair Kahlil Gibran ini menjadi cermin untuk Asta Cita ke-7 tentang reformasi birokrasi.
Kemenag berupaya jujur pada dirinya sendiri dengan memperkuat keterbukaan. Hasilnya, predikat Kementerian Informatif 2025, penghargaan Adhi Manawa Nugraha Pratama dari BKN 2026, dan nilai Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas-PK) 69,88 yang di atas rata-rata nasional 50.
Kemenag bahkan menjadi instansi pertama yang menguji coba Pembelajaran Integritas Berbasis e-learning bagi ASN. Kejujuran birokrasi inilah yang kemudian memungkinkan kebahagiaan itu dibagi: rehabilitasi 550 KUA dengan Rp581 miliar, indeks kepuasan layanan KUA naik dari 85,08 menjadi 86,03, dan bantuan rehabilitasi rumah ibadah lintas agama.
Saat banjir melanda Aceh, Sumut, dan Sumbar, dari 1.593 rumah ibadah terdampak, 1.562 telah kembali beroperasi. Di NTT, bantuan Rp3 miliar plus tenda belajar dan paket sekolah disalurkan untuk penyintas gempa. Inilah bentuk membagi kebahagiaan secara jujur.
Ada kata mutiara dari Robert Brault menuliskan bahwa 'Nikmati hal-hal kecil karena suatu hari kamu mungkin melihat ke belakang dan menyadari bahwa itu adalah hal-hal besar'. Kutipan Robert Brault ini pas untuk membaca Asta Cita ke-8 tentang kerukunan.
Kerukunan sering dianggap hal kecil, sehari-hari, dan taken for granted. Padahal ia adalah hal besar.
Indeks Kerukunan Umat Beragama naik dari 76,47 (2024) menjadi 77,89 (2025), melampaui target RPJMN. Tiga survei Poltracking secara konsisten menempatkan upaya menjaga kerukunan sebagai keberhasilan nomor satu pemerintah Prabowo-Gibran dengan angka 77,8% hingga 80%.
Hal itu dijaga melalui kerja-kerja sunyi: deteksi dini, dialog, mediasi, 86 madrasah peraih Adiwiyata sebagai wujud ekoteologi, dan pembangunan sekaligus pendirian lembaga pendidikan SETIAKIN di Bangka Belitung sebagai sekolah tinggi agama Khonghucu negeri pertama.
Juga empat UIN yang masuk 10 besar terbaik versi THE World University Rankings 2027. Semua hal kecil yang jika dikumpulkan, ternyata menjadi besar.
Pada akhirnya, capaian dua tahun Kemenag ini bukan berarti pekerjaan selesai. Seperti kata Menag Nasaruddin Umar, ukuran keberhasilan instansi bukan berapa banyak program dijalankan, tapi apakah masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya.
Dari Hemingway kita belajar untuk bekerja dengan apa yang ada. Dari Beattie kita belajar mengubah keluhan menjadi syukur yang produktif. Dari Kahlil Gibran kita belajar bahwa birokrasi yang jujur adalah cara membagi kebahagiaan. Dan dari Brault kita belajar bahwa menjaga kerukunan sehari-hari adalah hal kecil yang dampaknya besar.
Jika ditarik benang merahnya, Kemenag dalam dua tahun Asta Cita ini sedang berikhtiar menjalankan satu peran: menjadi rumah bagi semua agama, melayani seluruh masyarakat, dan memastikan kehadiran negara benar-benar terasa dari atas hingga bawah. Wallahu a'lam bishawab.



















