Menggali Kesejatian 27: Ekosentris Vs Egosentris
Hamdan Juhannis
Kita sudah menyentuh teosentris. Kita juga sudah menyinggung antroposentris. Ada lagi satu istilah, ekosentris, paham yang memusatkan perhatian pada lingkungan. Paham yang melihat kehidupan ini sebagai sebagai sebuah ekosistem, bagian-bagian kehidupan yang saling terkait dengan lainnya.
Bahasan ini penting karena terkait dengan pengamalan semangat beragama yang paling dalam, tetapi sering terabaikan. Ketika seorang ustadz menyuarakan keseimbangan hubungan dengan Tuhan dengan sesama manusia, di mana letak hubungan hubungan manusia dengan lingkungan?
Seruan tentang keseimbangan hubungan di atas sering diterjemahkan secara sempit. Akibatnya kepedulian terhadap lingkungan menjadi sangat rendah. Padahal memelihara hubungan dengan Tuhan, syaratnya memelihara lingkungan karena seruan Tuhan dalam kitab suci untuk tidak melakukan perusakan lingkungan itu sangat jelas. Jadi mengabaikan perintah Tuhan, itu sama dengan melanggar pasal utama untuk merajut tali kasih dengan Tuhan.
Ingin menjaga tali silaturrahim dengan sesama manusia, tetapi berpartisipasi pada perusakan lingkungan sebagai pijakan bersama, sama dengan mencedarai nilai kemanusiaan yang paling hakiki. Jadi ekosentris itu bagian inti dari cara agama yang menegar rahmat. Ekosentris seharusnya menjadi ekoteologi beragama semua umat, yang selalu membayangi rukun Islam kita dan menafasi rukun iman kita.
Ekosentrislah yang bisa membuat umat beragama memiliki lingkungan bersih. Ekosentrislah yang bisa membuat got tidak mampet. bisa membuat seseorang bukan hanya tidak membuang sampah di sembarang tempat, tetapi memilahnya sebelum dibuang pada tempat pembuangan sampah.


















