Hari Ibu dan Cinta yang Tak Pernah Selesai
Farid Mustofa
Farid Mustofa
Staf Pengajar Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada (UGM).
Hari Ibu sering hadir sebagai momen yang ditunggu banyak keluarga. Ada bunga, ucapan, juga unggahan penuh cinta. Masyarakat memakainya sebagai cara sederhana menghormati peran perempuan, terutama sosok ibu. Namun di balik suasana hangat itu, tersimpan lapisan makna yang lebih dalam. Ada sejarah, ada nilai, dan ada pula kritik yang layak dipikirkan bersama.
Di Indonesia, Hari Ibu diperingati setiap 22 Desember. Tanggal ini bukan pilihan acak. Ia lahir dari sejarah panjang perjuangan perempuan. Pada Kongres Perempuan Indonesia pertama tahun 1928, perempuan dari berbagai daerah berkumpul, berbicara, dan menyusun gagasan tentang kesetaraan, pendidikan, serta peran mereka dalam perjuangan kemerdekaan. Momen itu menjadi penanda penting gerakan perempuan yang tidak hanya hadir di ruang domestik, tetapi juga aktif di ruang publik.
Makna historis tersebut perlahan memudar. Hari Ibu kini lebih sering dipahami sebagai perayaan kasih sayang dalam lingkup rumah tangga. Ibu diposisikan terutama sebagai figur pengasuh, penjaga rumah, dan sumber cinta tanpa syarat. Pemaknaan ini tidak keliru, tetapi terasa menyempit.


















