7 Jenis Penyakit Hati yang Perlu Diwaspadai, Kenali Gejala dan Penyebabnya
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) – Sebuah kisah penuh makna datang dari RSUP Fatmawati, ketika seorang anak berusia 26 tahun mendonorkan sebagian hatinya untuk sang ayah berusia 52 tahun. Pengorbanan anak ini membuka harapan baru bagi pasien penyakit hati.
Prosedur transplantasi hati tersebut dilakukan pada 9 April 2026 sebagai upaya menyelamatkan nyawa pasien. Sang ayah diketahui menderita sirosis hati akibat hepatitis B, kondisi serius yang dapat mengancam jiwa bila tidak ditangani secara optimal. Dalam kasus ini, transplantasi hati menjadi harapan utama untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, menegaskan bahwa peran keluarga sangat krusial dalam keberhasilan transplantasi, khususnya pada prosedur donor hidup.
“Living donor transplantation menunjukkan betapa pentingnya dukungan keluarga. Ini bukan hanya tindakan medis, tetapi juga bentuk solidaritas dan kasih sayang yang menyelamatkan nyawa,” ujar Dante, dikutip dari keterangan resmi Kemenkes, Senin (13/4/2026).
Pascaoperasi, kondisi pasien dan donor dilaporkan stabil. Pasien telah sadar dan masih menjalani perawatan intensif di ruang ICU untuk observasi. Sementara donor berada dalam kondisi baik dan sudah dapat berkomunikasi dengan lancar.
Transplantasi hati merupakan prosedur medis yang kompleks dan melibatkan tim multidisiplin, mulai dari proses seleksi pasien, tindakan operasi, hingga pemantauan pascaoperasi.

















