Santan kerap dituding sebagai biang kerok berbagai penyakit. Salah satunya disebut berbahaya bagi kesehatan jantung. Foto: Ilustrasi/Ist
JAKARTA, (ERAKINI) -Santan kerap dituding sebagai biang kerok berbagai penyakit. Salah satunya disebut berbahaya bagi kesehatan jantung.
Santan adalah bahan makanan yang umum digunakan dalam berbagai masakan Asia, terutama di Indonesia. Meskipun santan memiliki rasa yang lezat dan tekstur unik, beberapa penelitian menunjukkan potensi dampak negatif dari konsumsi terhadap . Namun, apakah benar-benar berbahaya bagi jantung?
Berikut beberapa fakta tentang santan yang perlu diketahui sebagaimana penjelesan dr Rido Mulawarman dari RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta, dikutip dari laman resmi yankes.kemkes, Sabtu (12/10/2024):
1. Komposisi dan Kandungan Lemak Santan Santan, yang biasanya diekstrak dari kelapa parut, kaya akan lemak jenuh. Lemak jenuh diketahui berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk penyakit jantung.
Mengonsumsi lemak jenuh dalam jumlah berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat) dalam darah, yang merupakan faktor risiko utama untuk penyakit jantung.
Dalam satu cangkir santan kaleng, terdapat sekitar 48 g lemak, dengan sekitar 43 g di antaranya adalah lemak jenuh. Sebagai perbandingan, satu cangkir susu sapi utuh (dengan lemak 3,25%) mengandung kurang dari 5 g lemak jenuh.
American Heart Association merekomendasikan untuk membatasi asupan lemak jenuh (kurang dari 6% dari total kalori harian), terutama bagi mereka yang ingin menurunkan kolesterol. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa antioksidan dalam minyak kelapa murni mungkin dapat mengurangi efek negatif lemak jenuh yang tinggi.
2. Pengaruh Lemak Jenuh terhadap Kesehatan Jantung
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi lemak jenuh yang tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, stroke, dan masalah kardiovaskular lainnya. Lemak jenuh dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL, yang menyebabkan penumpukan plak di dinding arteri, sehingga menyempitkan arteri (aterosklerosis).
Sebuah studi menemukan bahwa konsumsi santan yang berlebihan (>3 kali/minggu) dapat meningkatkan risiko penyakit vaskular hingga 1,3 kali dibandingkan dengan konsumsi santan yang jarang (<2 kali/minggu; OR=1,33; p=0,002).
3. Santan dalam Pola Makan Tradisional
Walaupun santan mengandung lemak jenuh, penting untuk dicatat bahwa dalam pola makan tradisional, konsumsi santan mungkin tidak selalu meningkatkan risiko penyakit jantung secara signifikan. Pola makan tersebut sering kali diimbangi dengan sayuran, buah-buahan, dan protein nabati yang sehat.
4. Peran Keselarasan dalam Konsumsi
Seperti halnya banyak aspek nutrisi, keseimbangan dan moderasi sangat penting. Konsumsi santan dalam jumlah sedang sebagai bagian dari pola makan yang seimbang mungkin tidak berdampak negatif pada kesehatan jantung, terutama jika dikonsumsi bersama makanan sehat lainnya.
5. Alternatif Santan yang Lebih Sehat
Bagi yang ingin menjaga kesehatan jantung tetapi tetap ingin menikmati masakan tradisional yang menggunakan santan, ada alternatif yang lebih sehat. Misalnya, menggunakan susu kelapa rendah lemak atau susu nabati lainnya dapat membantu mengurangi jumlah lemak jenuh dalam makanan.
6. Pentingnya Kebiasaan Makan Secara Keseluruhan
Daripada fokus pada satu bahan makanan tertentu, lebih penting untuk menerapkan pola makan seimbang dan sehat secara keseluruhan. Ini mencakup konsumsi berbagai jenis makanan bergizi, membatasi asupan gula tambahan dan makanan olahan, serta menjaga berat badan yang sehat.
Meskipun santan mengandung lemak jenuh yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung jika dikonsumsi berlebihan, konsumsi santan dalam konteks pola makan yang seimbang mungkin tidak selalu berdampak negatif.
Penting untuk memperhatikan kebiasaan makan secara keseluruhan dan memilih alternatif yang lebih sehat jika diperlukan. Berkonsultasi dengan profesional kesehatan juga dapat membantu dalam merencanakan pola makan yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan kesehatan jantung.