Minum Kopi Pagi Ternyata Menyehatkan Jantung, Studi Ungkap Risiko Kematian Turun 31 Persen
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) — Minum kopi pada pagi hari ternyata berpotensi memberikan manfaat lebih besar bagi kesehatan jantung dibandingkan mengonsumsinya sepanjang hari. Minum kopi pagi bahkan dapat mengurangi risiko kematian hingga 31 persen.
Penelitian yang dipimpin para ilmuwan Tulane University, Amerika Serikat, menemukan, peminum kopi pagi memiliki risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular 31 persen lebih rendah dibandingkan orang yang tidak minum kopi.
Studi yang pernah diterbitkan dalam European Heart Journal pada 2025 itu juga menemukan, peminum kopi pagi memiliki risiko kematian dari semua penyebab 16 persen lebih rendah.
Temuan ini menunjukkan bahwa manfaat kopi bagi kesehatan tidak hanya berkaitan dengan jumlah yang dikonsumsi, tetapi juga waktu meminumnya.
Penelitian tersebut dipimpin Lu Qi, profesor sekaligus HCA Regents Distinguished Chair di Celia Scott Weatherhead School of Public Health and Tropical Medicine, Tulane University.
"Penelitian sejauh ini menunjukkan bahwa minum kopi tidak meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan tampaknya menurunkan risiko sejumlah penyakit kronis, seperti diabetes. Mengingat efek kafein terhadap tubuh, kami ingin mengetahui apakah waktu minum kopi turut memengaruhi kesehatan jantung," kata Qi, dikutip Senin (19/10/2026).
Studi Libatkan 40.725 Orang Dewasa
Penelitian ini menganalisis data 40.725 orang dewasa yang berpartisipasi dalam Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional Amerika Serikat (NHANES) pada periode 1999–2018.
Para peserta diminta melaporkan makanan dan minuman yang dikonsumsi, termasuk kebiasaan minum kopi, jumlah cangkir setiap hari, serta waktu mengonsumsinya.
Peneliti juga menganalisis kelompok tambahan yang terdiri atas 1.463 orang. Mereka diminta mencatat secara terperinci konsumsi makanan dan minuman selama tujuh hari.
Data tersebut kemudian dicocokkan dengan catatan kematian dan penyebab kematian peserta selama masa pemantauan sekitar sembilan hingga sepuluh tahun.
Hasilnya, sekitar 36 persen peserta merupakan peminum kopi pagi, yakni mereka yang terutama mengonsumsi kopi sebelum tengah hari. Sebanyak 16 persen minum kopi sepanjang hari, mulai pagi hingga siang dan malam, sedangkan 48 persen lainnya tidak minum kopi.
Ketika dibandingkan dengan kelompok yang tidak mengonsumsi kopi, peminum kopi pagi memiliki risiko kematian dari semua penyebab 16 persen lebih rendah. Risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular bahkan tercatat 31 persen lebih rendah.
Sebaliknya, penelitian tersebut tidak menemukan penurunan risiko kematian yang signifikan pada kelompok yang minum kopi sepanjang hari.
Dua hingga Tiga Cangkir Kopi
Manfaat tersebut juga terlihat pada berbagai tingkat konsumsi kopi pagi. Peminum kopi dalam kategori sedang, yakni dua hingga tiga cangkir sehari, maupun kategori berat, yaitu lebih dari tiga cangkir, sama-sama menunjukkan penurunan risiko kematian.
Sementara itu, peminum kopi ringan yang mengonsumsi satu cangkir atau kurang setiap hari juga memperoleh manfaat, meski penurunan risikonya lebih kecil.
Namun, hasil penelitian ini tidak berarti setiap orang harus meningkatkan konsumsi kopi untuk mendapatkan manfaat kesehatan. Temuan tersebut menunjukkan hubungan antara pola waktu minum kopi dan risiko kematian, bukan bukti bahwa minum kopi pagi secara langsung menyebabkan penurunan risiko tersebut.
Qi menegaskan, penelitian itu merupakan studi pertama yang secara khusus menguji hubungan antara pola waktu konsumsi kopi dan dampaknya terhadap kesehatan.
"Temuan kami menunjukkan bahwa bukan hanya apakah Anda minum kopi atau berapa banyak yang diminum, tetapi juga waktu mengonsumsinya yang penting," ujar Qi.
Menurut dia, pedoman pola makan selama ini belum banyak memberikan perhatian terhadap waktu konsumsi minuman. Hasil penelitian tersebut membuka kemungkinan bahwa aspek waktu perlu dipertimbangkan dalam rekomendasi pola makan pada masa mendatang.
Mengapa Kopi Sore dan Malam Perlu Diperhatikan?
Para peneliti belum dapat memastikan mekanisme biologis yang menjelaskan mengapa minum kopi pada pagi hari berkaitan dengan risiko kematian yang lebih rendah.
Salah satu dugaan adalah konsumsi kopi pada siang atau malam hari dapat mengganggu ritme sirkadian, yakni jam biologis tubuh yang mengatur siklus tidur dan bangun serta berbagai fungsi fisiologis.
Gangguan tersebut diduga berkaitan dengan perubahan kadar hormon, termasuk melatonin yang berperan dalam pengaturan tidur. Dampaknya mungkin memengaruhi sejumlah faktor risiko kardiovaskular, seperti peradangan dan tekanan darah.
Dalam editorial yang menyertai publikasi penelitian tersebut, Profesor Thomas F Lüscher dari Royal Brompton and Harefield Hospitals, London, Inggris, turut menyoroti kemungkinan hubungan antara waktu konsumsi kopi, aktivitas sistem saraf simpatik, dan kualitas tidur.
Aktivitas sistem saraf simpatik biasanya meningkat pada pagi hari ketika seseorang bangun dan mulai beraktivitas, kemudian menurun sepanjang hari hingga mencapai tingkat terendah saat tidur.
Menurut Lüscher, konsumsi kopi sepanjang hari berpotensi mengganggu ritme aktivitas tersebut. Ia juga menyoroti kemungkinan bahwa kopi menekan melatonin, hormon yang membantu mengatur siklus tidur.
Meski demikian, penjelasan tersebut masih berupa hipotesis yang memerlukan penelitian lebih lanjut.
Qi juga menekankan pentingnya penelitian lanjutan pada populasi lain untuk memastikan apakah pola konsumsi kopi pagi memberikan manfaat serupa pada kelompok masyarakat yang berbeda.
Ia menilai uji klinis diperlukan untuk menguji dampak perubahan waktu minum kopi terhadap kesehatan secara langsung.
Artinya, penelitian ini belum membuktikan bahwa memindahkan kebiasaan minum kopi dari sore atau malam ke pagi hari dengan sendirinya akan menurunkan risiko kematian.
Meski demikian, hasil studi tersebut memperkuat perhatian terhadap waktu konsumsi kopi sebagai salah satu aspek yang layak diteliti dalam kaitannya dengan kesehatan jantung.


















