Mitos atau Fakta: ‘Hobi Makan Mi Instan Bikin Tubuh Tak Sehat’?
Akhmad Baihaqi Arsyad
JAKARTA, (ERAKINI) - Mi instan merupakan produk makanan cepat saji berbasis mi yang dijual dalam kemasan praktis seperti bungkus plastik, cangkir, atau mangkuk sekali pakai. Komposisi dasarnya biasanya mencakup tepung terigu, pati, air, dan garam. Beberapa jenis juga menambahkan kansui—air alkali yang mengandung natrium karbonat dan kalium karbonat—untuk memberikan tekstur kenyal khas mi.
Sebagian besar produk mi instan digoreng menggunakan minyak sawit untuk proses pengeringannya. Namun, varian mi yang dikeringkan menggunakan udara (air-dried) kini mulai banyak beredar. Mi ini umumnya disajikan bersama bumbu instan yang terdiri atas garam, rempah, dan monosodium glutamat (MSG) sebagai penambah cita rasa.
Melansir laman Park Way East Hospital, mi instan pertama kali diperkenalkan di Jepang pada tahun 1958 oleh Momofuku Ando, seorang inovator keturunan Taiwan-Jepang. Ia juga merupakan pendiri perusahaan makanan Nissin, yang kemudian memopulerkan produk ini secara global.
Proses pembuatan mi instan pada dasarnya tidak mengalami perubahan besar sejak penemuannya. Seluruh bahan dasar dicampur menjadi adonan, kemudian digiling, dibentuk menjadi mi, lalu dikukus. Selanjutnya, mi dikeringkan—biasanya dengan digoreng—kemudian didinginkan dan dikemas dalam bentuk siap jual.
Nilai nutrisi mi instan bisa bervariasi tergantung pada merek dan jenisnya. Namun, sebagai ilustrasi, satu porsi mi ramen instan (sekitar 43 gram) biasanya mengandung: kalori: 385 kkal, karbohidrat: 55,7 g, lemak total: 14,5 g, lemak jenuh: 6,5 g, protein: 7,9 g, serat: 2 g, natrium: 986 mg, vitamin B1 (Tiamin): 0,6 mg, vitamin B2 (Riboflavin): 0,4 mg, vitamin B3 (Niasin): 4,6 mg.
Meski rendah kalori, mi instan juga minim protein dan serat. Di sisi lain, produk ini tinggi kandungan natrium, lemak, dan karbohidrat, serta tidak menyumbang banyak vitamin penting seperti vitamin A, C, dan B12.

















