Banyak orang kerap menganggap remeh pilihan-pilihan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, kebiasaan yang dilakukan terus-menerus dapat memberikan dampak kumulatif terhadap kesehatan. Foto: Ilustrasi
JAKARTA, (ERAKINI) – Banyak orang kerap menganggap remeh pilihan-pilihan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, kebiasaan yang dilakukan terus-menerus dapat memberikan dampak kumulatif terhadap kesehatan.
Perkembangan teknologi dan masuknya berbagai budaya baru turut mengubah pola kehidupan masyarakat. Beragam kebiasaan kemudian berkembang menjadi tren gaya hidup yang dianggap modern dan kekinian.
Mengikuti tren tersebut tentu bukan masalah. Namun, sejumlah kebiasaan justru dapat meningkatkan risiko jika dilakukan secara berlebihan. Berikut sejumlah kekinian yang perlu diwaspadai, dirangkum , Minggu (9/8/2026):
1. Terlalu Lama Menggunakan Gawai
Penggunaan gawai telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda. Gawai digunakan untuk berkomunikasi, mengakses media sosial, menonton video, bermain gim hingga menunjang aktivitas pekerjaan dan belajar.
Namun, penggunaan gawai secara berlebihan dapat menimbulkan sejumlah masalah kesehatan, antara lain text neck syndrome dan computer vision syndrome.
Text neck syndrome merupakan gangguan pada leher yang berkaitan dengan posisi kepala terlalu condong ke depan dalam waktu lama saat menggunakan gawai. Postur tersebut memberikan tekanan tambahan pada otot dan struktur tulang belakang leher. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini dapat memicu nyeri leher dan gangguan postur.
Sementara itu, computer vision syndrome berkaitan dengan keluhan akibat menatap layar dalam waktu lama. Gejalanya antara lain mata lelah, pandangan buram, mata berair, serta sakit kepala.
Karena itu, penggunaan gawai perlu diimbangi dengan jeda dan aktivitas fisik agar tidak menjadi kebiasaan yang berdampak buruk bagi kesehatan.
2. Terlalu Sering Menggunakan Headset
Meningkatnya penggunaan gawai juga membuat headset semakin sering digunakan. Headset menjadi perangkat yang umum digunakan saat bepergian, bekerja, belajar maupun menikmati hiburan.
Penggunaan headset sebenarnya tidak selalu berbahaya. Namun, durasi penggunaan yang terlalu lama dan volume suara yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko noise-induced hearing loss (NIHL) atau gangguan pendengaran akibat paparan suara keras.
Paparan suara berlebihan dapat merusak sel-sel rambut di telinga bagian dalam yang berperan dalam menerima rangsangan suara. Keluhannya dapat berupa telinga berdenging, pusing hingga penurunan kemampuan mendengar.
Untuk mengurangi risiko tersebut, penggunaan headset sebaiknya dilakukan dengan volume yang wajar dan diselingi waktu istirahat. Hindari pula menggunakan headset dalam waktu lama, termasuk ketika hendak tidur.
3. Terlalu Sering Belanja Online
Kemajuan teknologi memberikan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berbelanja kini dapat dilakukan hanya melalui gawai tanpa harus bepergian ke pusat perbelanjaan atau mengantre di kasir.
Namun, kemudahan tersebut juga berpotensi membuat aktivitas fisik semakin berkurang. Kebiasaan yang terlalu banyak dilakukan sambil duduk atau berbaring dapat mendorong gaya hidup sedenter.
Kurangnya aktivitas fisik dalam jangka panjang berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit, termasuk penyakit jantung, diabetes tipe 2, serta penurunan kebugaran dan massa otot.
Karena itu, kemudahan teknologi sebaiknya tidak membuat seseorang mengabaikan kebutuhan tubuh untuk tetap aktif bergerak.
4. Hobi Nongkrong di Kafe dan Minum Kopi
Nongkrong di kafe sambil menikmati kopi telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, khususnya generasi muda. Kebiasaan ini tidak selalu berdampak buruk, tetapi pilihan minuman perlu diperhatikan.
Kopi tanpa tambahan gula pada dasarnya mengandung senyawa antioksidan. Namun, sejumlah minuman kopi kekinian mengandung gula, krimer, sirup, atau bahan tambahan lainnya dalam jumlah cukup tinggi.
Konsumsi gula berlebihan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk kelebihan berat badan dan gangguan metabolisme.
Karena itu, konsumen perlu memperhatikan komposisi minuman yang dipesan. Pilihan kopi tanpa tambahan gula atau dengan kadar gula lebih rendah dapat menjadi alternatif yang lebih sehat.
5. Mengurangi Makan Besar, tetapi Sering Ngemil
Sebagian orang mengurangi frekuensi makan utama dengan harapan dapat menjaga berat badan. Namun, kebiasaan tersebut terkadang justru diikuti dengan meningkatnya konsumsi camilan.
Camilan seperti gorengan, kue manis, biskuit, dan makanan olahan tertentu umumnya memiliki kandungan gula, garam atau lemak yang cukup tinggi, tetapi tidak selalu memberikan asupan zat gizi yang memadai.
Pola makan yang tidak teratur juga dapat membuat seseorang sulit mengontrol pilihan makanan. Karena itu, menjaga pola makan seimbang lebih penting daripada sekadar mengurangi frekuensi makan.
Konsumsi makanan bergizi dengan sumber protein, serat, vitamin, mineral dan lemak sehat perlu menjadi bagian dari pola makan sehari-hari. Buah, sayuran, yoghurt tanpa tambahan gula, kacang-kacangan atau makanan lain dengan kandungan gizi baik dapat menjadi pilihan camilan.