JAKARTA, (ERAKINI) - Dokter spesialiskejiwaan dr Zulvia Oktanida Syarif, Sp.KJ., mengungkapkan pandangannya mengenai alasan sebagian anak muda, terutama di negara-negara maju, memilih menjadi agnostik, yakni percaya akan keberadaan Tuhan tetapi tidak menganut atau menjalankan agama tertentu.
Menurut dokter yang akrab disapa dr Vivi itu, fenomena tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pola asuh orang tua, pengalaman emosional di rumah, hingga cara agama diperkenalkan kepada anak sejak kecil.
Dalam podcast yang tayang di YouTube Helmy Yahya Bicara yang dipandu Helmy Yahya seperti dilihat erakini pada Rabu (5/8/2026), dr Vivi menjelaskan bahwa generasi muda saat ini memiliki kesadaran yang lebih tinggi terhadap isu kesehatan mental dibandingkan generasi sebelumnya.
"Anak-anak sekarang lebih berani membicarakan mental health. Bukan berarti orang zaman dulu tidak punya masalah kesehatan mental, tetapi dulu mungkin belum sadar dan belum banyak informasi. Sekarang pembahasannya lebih terbuka," ujar dr Vivi.
Dia menjelaskan, kesadaran tersebut terlihat dari semakin banyak remaja yang secara mandiri ingin berkonsultasi dengan psikolog maupun psikiater. Menurutnya, kondisi ini justru sering kali menimbulkan kebingungan di kalangan orang tua yang masih memandang kesehatan mental sebagai sesuatu yang tabu.
Dokter berkerudung itu juga menilai, masih banyak orang tua yang merespons keluhan psikologis anak dengan menyarankan mereka untuk lebih rajin beribadah atau memperbanyak doa. Padahal, menurutnya, pendekatan seperti itu tidak selalu menyelesaikan persoalan psikologis yang sedang dialami anak.
"Masih ada stigma. Ketika anak ingin ke psikiater, orang tua bilang, 'Sudah ibadah saja, kurang bersyukur, kurang dekat sama Tuhan.' Semuanya dibawa ke arah spiritual," tuturnya.
Menurut Dokter Vivi, jika setiap persoalan anak selalu dikaitkan dengan agama tanpa memahami kondisi emosional mereka, sebagian anak justru dapat memiliki persepsi negatif terhadap agama.
"Akhirnya ada anak-anak yang memilih tidak terlalu mengikuti ritual keagamaan karena merasa semua persoalan selalu dibawa ke agama," katanya.
Selain cara merespons masalah anak, dr Vivi menilai keteladanan orang tua juga menjadi faktor penting dalam membentuk pandangan anak terhadap agama. Bagi dia, anak dapat mengalami konflik ketika melihat orang tua mengajarkan nilai-nilai agama, tetapi tidak menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
"Kalau orang tua menyuruh beribadah, tetapi perilakunya buruk, itu bisa membuat anak mempertanyakan nilai yang diajarkan," ujarnya.
Dokter Vivi mengungkapkan bahwa kondisi yang lebih berat terjadi ketika orang tua dikenal taat beribadah, tetapi melakukan tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama, seperti bersikap kasar, melakukan perselingkuhan, atau tindakan tidak jujur.
"Yang akhirnya dibenci sebenarnya bukan agamanya, tetapi figur orang tuanya. Namun, karena agama dilekatkan dengan sosok tersebut, anak kemudian memiliki pandangan negatif terhadap agama," bebernya.
Lebih jauh, Dokter Vivi menyinggung fenomena meningkatnya jumlah orang yang mengaku agnostik di sejumlah negara maju. Menurutnya, sebagian orang mengaitkan pengalaman buruk dengan figur orang tua, guru, atau tokoh agama sehingga memengaruhi cara mereka memandang agama.
"Mereka akhirnya mengidentifikasi agama dengan sosok tertentu. Padahal yang bermasalah adalah perilaku orangnya, bukan agamanya. Itu yang menurut saya membuat sebagian anak muda memilih menjadi agnostik," ujar dr Vivi.