Siap-Siap ke Bioskop! Film ‘Solata’ Tayang Mulai Besok, Bawa Kisah Inspiratif di Tana Toraja
Akhmad Baihaqi Arsyad








Film yang diarahkan oleh sutradara Ichwan Persada ini mengangkat kisah perjalanan batin seseorang yang tersesat arah hidup, lalu kembali menemukan cahaya dan tujuan di sebuah desa terpencil yang damai di Pegunungan Ollon, Tana Toraja.
Dalam kisahnya, Solata menampilkan narasi yang sederhana namun penuh kehangatan, menggugah sisi kemanusiaan yang kerap terbenam di balik kehidupan perkotaan yang penuh kebisingan. Tak hanya memanjakan mata dengan panorama menawan pegunungan Ollon, film ini juga menghidupkan kearifan lokal serta nilai-nilai luhur masyarakat Toraja yang penuh makna dan keindahan spiritual.
Menariknya, judul Solata berasal dari bahasa Toraja yang berarti “teman”. Kata ini menjadi metafora tentang persahabatan yang mampu melampaui sekat darah, perbedaan latar belakang, bahkan luka-luka masa lalu — sebuah pengingat bahwa ikatan tulus dapat menjadi rumah bagi hati yang pernah tersesat. Berikut ini sinopsisnya!
Sebagaimana dilihat dari trailer yang dirilis oleh kanal YouTube Cinema 21, film ‘Solata’ mengikuti kisah tentang Angkasa, yang diperankan oleh Rendy Kjaernett. Ia adalah pria asal Jakarta yang hidupnya hancur dalam sekejap.
Angkasa kehilangan pekerjaan, kekasih yang ia cintai meninggalkannya, dan ibunya meninggal dunia. Terpuruk dan kehilangan arah, Angkasa memutuskan meninggalkan hiruk-pikuk ibu kota dan mendaftarkan diri sebagai relawan guru di sebuah daerah terpencil, Pegunungan Ollon, jantung Tana Toraja yang jauh dari segala kemewahan modernitas.
Namun, kehidupan di sana jauh dari kata mudah. Ia hanya memiliki enam murid dengan karakter unik: Karno, Harto, Mega, Bambang, Wahid, dan Habi, nama-nama yang mengingatkan pada para presiden Republik Indonesia.
Di awal, Angkasa menghadapi dinding tebal berupa jarak, perbedaan pandangan, dan keterbatasan fasilitas. Tapi di balik kesunyian pegunungan, perlahan tumbuh kehangatan, tawa, dan rasa percaya.
Dalam keseharian yang sederhana, menulis di papan lusuh, belajar di gubuk bambu, bermain di padang rumput Toraja, Angkasa menemukan makna persahabatan, ketulusan, dan keluarga yang selama ini ia kira telah hilang bersama masa lalunya.
Selain Rendy Kjaernett sebagai tokoh utama, film ini juga diperkuat oleh Rachel Natasya sebagai Lembayung, sosok perempuan yang membantu Angkasa menyesuaikan diri di tanah Toraja. Kemudian, deretan pemain lainnya turut menghadirkan kedalaman emosional pada kisah ini, antara lain: Fhail Firmansyah sebagai Abun, Iskandar Andi Patau sebagai Bumi, Harsya Subandrio sebagai Rombe, Ayu Siramba sebagai Febe, Keyso Sombolinggi sebagai Karno, Maulana Eka Putra sebagai Harto, Amel Komba sebagai Mega, Suray Parrangan sebagai Bambang, Gabriel Alexander sebagai Wahid dan Ince Amira sebagai Habi. Mereka menghadirkan dinamika khas antara guru dan murid, mengisi film dengan nuansa kehangatan, kejenakaan, dan kesederhanaan yang tulus.

