Sejarah Puasa Asyura yang Diamalkan Umat Islam Setiap 10 Muharram
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Salah satu keutamaan yang dimiliki bulan Muharram atau bulan pertama dalam kalender Hijriah yaitu Asyura yang jatuh pada 10 Muharrram. Kiai muda Nahdlatul Ulama, Muhammad Ali Fikri, menjelaskan bahwa terdapat dua pendapat mengenai asal-usul penamaan Asyura.
Pendapat pertama menyebut kata Asyura berasal dari kata ‘asyirah yang berarti kesepuluh, sebagai bentuk pengagungan. Sementara pendapat kedua, yang lebih banyak dianut ulama, menyatakan bahwa Asyura merujuk langsung pada hari kesepuluh bulan Muharram.
Menurut Ali, sejarah puasa Asyura berkaitan dengan peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah setelah hijrah dari Makkah. Saat itu, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Fir’aun.
“Hal ini sebagaimana hadits nabi, dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhu beliau berkata: ‘Tatkala Nabi Muhammad saw datang ke kota Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi sedang berpuasa di hari Asyura, lantas beliau bersabda kepada mereka, "Hari apa yang kalian sedang berpuasa ini?". Mereka menjawab "Hari ini adalah hari yang agung. Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya pada hari ini dan menenggelamkan Fir’aun beserta pasukannya. Maka Musa berpuasa pada hari ini sebagai rasa syukur dan kami turut berpuasa." Maka Rasulullah saw bersabda, "Maka kami dengan Musa lebih berhak dan lebih utama daripada kalian." Maka Rasulullah saw berpuasa dan memerintahkan berpuasa.’ HR Bukhari dan Muslim,” kata Ali seperti dikutip erakini, Kamis (25/6/2026).
Selain itu, Ali mengungkapkan bahwa kaum Quraisy pada masa jahiliah juga diketahui menjalankan puasa Asyura. Hal tersebut berdasarkan riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Sayyidah Aisyah RA yang menyebutkan bahwa kaum Quraisy telah berpuasa pada hari Asyura sebelum datangnya Islam.
“Dulu kaum Quraisy berpuasa Asyura pada masa jahiliah. Kemudian Rasulullah saw memerintahkan berpuasa Asyura pula, hingga diwajibkan puasa Ramadhan. Kemudian, Rasulullah saw bersabda, ‘Barang siapa yang berkehendak (ingin berpuasa), maka silahkan berpuasa. Dan barangsiapa yang berkehendak (tak ingin berpuasa), maka tidak berpuasa,’” ujar Ali mengutip hadis tersebut.

















