JAKARTA, (ERAKINI) - Islam diperkirakan masuk ke Kalimantan Barat pada abad ke-15. Masuknya Islam ke Kalimantan Barat terjadi melalui perdagangan dan perkawinan campuran. Salah satu sosok penting penyebaran Islam di Kalimantan Barat adalah Raden Abdul Kahar yang juga merupakan Raja Landak pertama
Dari sejumlah sumber terpercaya menyebutkan, Raden Abdul Kahar sebagai tokoh simbol transformasi sosial dan agama di Kalimantan Barat. Kiprah dan kontribusinya sebagai ulama sekaligus pemimpin kerajaan menunjukkan bagaimana Islam dapat menjadi kekuatan pemersatu dalam membangun masyarakat yang adil dan sejahtera.
Semasa hidupnya, sosok Raden Abdul Kahar dikenal sebagai ulama sekaligus pemimpin pertama kerajaan tersebut, menjadikan dirinya sebagai figur sentral dalam transformasi budaya dan agama di Nusantara. Raden Abdul Kahar dikenal sebagai raja pertama Kerajaan Landak dan merupakan sosok yang berperan besar dalam memperkenalkan dan menyebarkan Islam di kawasan tersebut.
Kehadirannya sebagai raja pertama Kerajaan Landak sekaligus sebagai seorang da’i yang membawa ajaran Islam ke daerah tersebut menandai perubahan besar dalam dinamika sosial, budaya, dan agama masyarakat di Kalimantan Barat.
Kerajaan Landak atau Kerajaan Ismahayana Landak adalah kerajaan yang pernah berdiri di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Pendiri Kerajaan Landak adalah bangsawan Singasari yang pindah ke Kalimantan. Namun, tidak diketahui siapa namanya. Raja pertamanya bergelar Sang Nata Pulang Pali, tetapi raja pertama hingga ketujuh masih tidak diketahui nama aslinya.
Menurut buku “Sejarah Kerajaan Landak” karya Dr. H.M Adnan sebagaimana dikutip pada Minggu (23/3/2025), disebutkan bahwa Raden Abdul Kahar lahir di Kampung Jering, sebuah kawasan pedalaman di Kalimantan Barat. Proses kelahirannya banyak dikaitkan dengan tradisi lokal yang melibatkan sayembara di Kerajaan Landak
Kisah asal-usulnya bermula dari seorang pemuda bernama Ria Siner yang memenangkan sayembara Raja Pulang Pali VII, yang kemudian menikah dengan salah satu istri raja. Dari pernikahan ini lahirlah Raden Abdul Kahar, yang kelak menjadi tokoh penting dalam sejarah kerajaan
Sebelum kedatangan Islam, kerajaan Landak dipengaruhi oleh agama-agama lokal dan kepercayaan animisme yang sudah berkembang sejak lama. Namun, pada masa pemerintahan Raden Abdul Kahar, Kerajaan Landak mulai membuka diri terhadap pengaruh luar, terutama pengaruh Islam yang datang melalui jalur perdagangan dan dakwah.
Islamisasi di Kerajaan Landak dimulai ketika Raden Abdul Kahar berinteraksi dengan Kesultanan Demak melalui hubungan diplomatik dan perdagangan. Raden Patah, Raja Kesultanan Demak, memainkan peran besar dalam memperkenalkan Islam kepada Raden Abdul Kahar.
Ulama-ulama seperti Syekh Maulana Ishak dan Syekh Abdul Wahid dikirim ke Landak untuk berdakwah dan membimbing proses islamisasi. Raden Abdul Kahar akhirnya mengucapkan dua kalimat syahadat setelah melalui diskusi panjang dengan para ulama.
Proses Islamisasi yang dipimpin oleh Raden Abdul Kahar membawa sejumlah perubahan signifikan pada masyarakat Kalimantan Barat. Pertama terjadinya perubahan sosial dan budaya. Sejak dikenalkan Raden Abdul Kahar, nilai nilai Islam telah banyak memengaruhi tata kehidupan masyarakat, termasuk hukum adat dan pemerintahan.
Kerjasama ekonomi dan juga politik kerajaan di era itu juga mengalami kemajuan berkat masuknya Islam. Hubungan antara Kerajaan Landak dan Kesultanan Demak semakin erat, terutama dalam sektor perdagangan. Proses ini mempercepat penyebaran agama Islam ke wilayah-wilayah lain di Kalimantan Barat.
Selain kemajuan di lingkup kerajaan, syiar Islam Raden Abdul Kahar juga memainkan peran krusial dalam pembangunan masjid pertama di Kerajaan Landak, yang menjadi pusat kegiatan agama dan pendidikan Islam di wilayah tersebut.
Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk Islam, Raden Abdul Kahar tidak hanya berkomitmen untuk mengajarkan ajaran Islam kepada rakyatnya, tetapi juga mengambil langkah konkret dengan mendirikan masjid.
Masjid yang didirikan oleh Raden Abdul Kahar berfungsi sebagai tempat ibadah dan pusat pendidikan bagi masyarakat. Di masjid ini, ajaran Islam diajarkan secara sistematis, dan masyarakat diberikan kesempatan untuk mempelajari nilai-nilai agama serta peradaban yang lebih maju. Hal ini menjadi sangat penting karena sebelum kedatangan Islam, masyarakat Kerajaan Landak dipengaruhi oleh kepercayaan animisme dan agama lokal lainnya.
Proses pembangunan masjid ini juga mencerminkan upaya Raden Abdul Kahar untuk memadukan ajaran Islam dengan budaya lokal, sehingga memudahkan masyarakat dalam menerima dan mengamalkan ajaran Islam tanpa kehilangan identitas budaya mereka. Dengan demikian, masjid bukan hanya sekadar bangunan fisik, tetapi juga simbol dari perubahan sosial dan spiritual yang terjadi di Kerajaan Landak.
Melalui pendirian masjid pertama ini, Raden Abdul Kahar berhasil menciptakan fondasi yang kuat untuk perkembangan Islam di Kalimantan Barat dan menjadikan Kerajaan Landak sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di wilayah tersebut
Raden Abdul Kahar diperkirakan wafat pada tahun 1542. Jejak sejarah Raden Abdul Kahar terus dilestarikan melalui makamnya yang dijaga oleh generasi ketiga juru kunci keluarga kerajaan. Makam ini menjadi situs penting untuk mengenang perjuangan spiritual dan politiknya.