Salah satu peninggalan terbesar Raden H Panji adalah pendirian Masjid Jami' An-Nur di Bojong Gede pada tahun 1814. Masjid ini dibangun di atas tanah wakaf milik Embah Idang, adik bungsunya. Foto: Ist
BOGOR, (ERAKINI) - Jejak penyebaran Islam di wilayah Bogor, Jawa Barat, ternyata telah berlangsung cukup tua. Penyebaran Islam di Bogor diketahui telah berlangsung sejak sekitar abad 18. Salah satu tokoh penyebar Islam terkenal di adalah .
Raden H Panji atau R H Panji Nitikisumah bin Tb Kosim bin P Muhammad, merupakan sosok ulama klasik yang berperan penting dalam penyebaran Islam di daerah Bojong Gede, Kabupaten Bogor, pada abad ke-18. Melalui dedikasinya, Raden Panji tidak hanya memperkenalkan ajaran Islam tetapi juga membangun infrastruktur keagamaan yang mendukung dakwahnya.
Melalui dedikasi dan metode dakwahnya, Raden H Panji berhasil menanamkan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat Bojong Gede, menjadikannya salah satu tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di Indonesia.
Dari sejumlah sumber terpercaya menyebutkan bahwa Raden H Panji lahir dalam keluarga yang memiliki garis keturunan terhormat, yang dapat ditelusuri hingga Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam di Indonesia.
Keluarga ini memiliki pengaruh signifikan dalam perkembangan Islam di Jawa Barat, dan Raden Panji melanjutkan tradisi tersebut dengan mengabdikan hidupnya untuk dakwah.
Hubungan silsilah dengan Sunan Gunung Jati disebut sebut memudahkan Raden H Panji untuk berkomunikasi dan mendapatkan dukungan dari keluarga kerajaan serta tokoh masyarakat lainnya, yang sangat berpengaruh dalam proses islamisasi di daerah itu
Raden H Panji menerapkan metode dakwah yang inklusif dan adaptif terhadap budaya lokal. Ia mengedepankan dialog dan pemahaman daripada konfrontasi. Dengan pendekatan ini, banyak penduduk yang sebelumnya menganut kepercayaan lain mulai tertarik kepada Islam.
Selain itu, Raden Panji juga aktif dalam kegiatan sosial dan pendidikan, yang memperkuat posisi Islam di masyarakat Bojong Gede. Salah satu bukti nyata kontribusi nyata Raden H Panji dalam aktivitas sosial adalah perannya dalam mendirikan lembaga pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai Islam serta keterampilan praktis kepada penduduk setempat, sehingga memperkuat posisi Islam di komunitas tersebut
Salah satu kontribusi terbesar Raden H Panji adalah pendirian Masjid Jami' An-Nur di Bojong Gede pada tahun 1814. Masjid ini dibangun di atas tanah wakaf milik Embah Idang, adik bungsunya.
Masjid Jami' An-Nur menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan bagi masyarakat sekitar. Dari sinilah, Raden Panji mulai menyebarkan ajaran Islam dengan cara yang damai dan penuh hikmah, menarik perhatian banyak orang untuk memeluk agama tersebut
Masjid Jami' An-Nur ini berfungsi bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat dakwah yang mengedukasi masyarakat tentang ajaran Islam. Bagi masyarakat sekitar, keberadaan Masjid An-Nur bukan sekadar warisan Raden H Panji dalam menyebarkan Islam namun juga digunakan sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya.
Selain mendirikan masjid, Raden H. Panji dalam dakwahnya di Bojong Gede didukung oleh beberapa tokoh penting. Siapa saja mereka? Di antaranya yakni Embah Idang, adik bungsu Raden H Panji pemberi tanah wakaf untuk pembangunan Masjid Jami An-Nur, yang menjadi pusat kegiatan dakwah.
Kemudian ada sosok Kyai Haji Ahmad, seorang ulama yang turut membantu dalam pengajaran dan penyebaran ajaran Islam di Bojong Gede, berkolaborasi dengan Raden H. Panji dalam kegiatan pengajian.
Figur lain yang mendukung penuh dakwah Raden Panji adalah Kyai Haji Hasan seorang tokoh masyarakat dan agama di wilayah Bojong Gede berkontribusi dalam mendukung kegiatan dakwah Raden H Panji untuk memperkuat jaringan sosial di kalangan masyarakat.
Selain kedua sosok ulama Kyai Haji Ahmad dan Kyai Haji Hasan, banyak ulama lokal sekitar Bojong Gede yang memberikan dukungan moral dan spiritual kepada Raden H. Panji dalam menyebarkan ajaran Islam melalui ceramah dan pengajaran.
Tokoh-tokoh ulama sekitar Bojong Gede bersama dengan Raden H Panji memberi pengaruh dalam membentuk fondasi kuat bagi perkembangan komunitas Muslim di Bojong Gede serta menciptakan lingkungan yang kondusif untuk dakwah Islam pada masa itu
Untuk mengenang jasa Raden H Panji, kampung di sekitar masjid dinamakan Kampung Masjid dan jalan-jalan di sekitarnya diberi nama Jalan RH Panji. Ini menunjukkan pengakuan terhadap kontribusinya dalam sejarah penyebaran Islam di daerah tersebut.
Raden H Panji wafat pada tahun 1814 M. Makam Raden Panji yang terletak di dekat masjid juga sering diziarahi oleh masyarakat sebagai bentuk penghormatan. Setelah wafanya Raden H Panji, sejumlah tokoh diketahui melanjutkan syiar dakwah penyebaran Islam di wilayah Bogor dan sekitarnya.
Tokoh tersebut antara lain Ratu Maemunah, yang dikenal sebagai Ratu Anti. Ratu Maemunah adalah seorang pejuang dan penyebar agama Islam yang berasal dari Banten. Bersama suaminya Raden Pakpak (Sunan Godog), Ratu Maemunah berkontribusi dalam penyebaran Islam di wilayah Bojong Gede dan sekitarnya pada masa awal perkembangan Islam di daerah tersebut paska wafatnya Raden H Panji.
Kemudian ada nama Raden Pakpak (Sunan Godog), suami Ratu Maemunah. Raden Pakpak melanjutkan perjuangan dan penyebaran Islam di Priangan Timur setelah perlawanan terhadap kekuasaan VOC di Batavia. Ia merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah penyebaran Islam di wilayah tersebut.
Selain Ratu Maemunah dan Raden Pakpak, keluarga dan santri Raden H Panji di Masjid An-Nur juga turut berkontribusi melanjutkan dakwah Raden H Panji. Keberadaan Masjid An-Nur menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan Islam di Bojong Gede