Mengenal Tradisi Malam Sakral Satu Suro yang Digelar Setiap 10 Muharram
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Bulan Muharram salah satu bulan dalam kalender hijriah yang dimuliakan oleh Islam. Ada banyak peristiwa penting yang mewarnai peradaban Islam, antara lain wafatnya cucu Rasulullah saw yakni Sayyidina Husein.
Respons yang sama dalam pandangan masyarakat Jawa yang meyakini bahwa malam Satu Suro merupakan malam istimewa. Karenanya, di berbagai daerah, banyak tradisi yang diadakan untuk memperingati Tahun Baru Jawa sekaligus Tahun Baru Islam ini. Keraton Surakarta dan Yogyakarta misalnya, tidak pernah absen menggelar berbagai ritual dan kirab.
Situs edutainment indonesiakaya.com, milik Bakti Budaya Djarum Foundation, menerangkan, tradisi malam Satu Suro berawal pada masa pemerintahan Sultan Agung. Pada masa itu, masyarakat umumnya mengikuti sistem penanggalan tahun Saka yang merupakan warisan tradisi Hindu.
Sementara Kesultanan Mataram Islam telah menerapkan sistem kalender Hijriah dengan tujuan memperluas ajaran Islam di Tanah Jawa, Sultan Agung memprakarsai penyatuan kalender Saka dan kalender Hijriah menjadi kalender Jawa.
“Penyatuan kalender ini dimulai sejak Jumat Legi bulan Jumadil Akhir tahun 1555 Saka atau 8 Juli 1633 Masehi. Satu Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Suro, bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah,” tulis keterangan itu, dikutip Rabu (17/7/2024).
Selanjutnya, Muhammad Solikhin dalam Misteri Bulan Suro, Perspektif Islam , mejelaskan, kata “suro” berasal dari kata “asyura”, yang dalam bahasa Arab berarti “sepuluh”. Kata Asyura di sini merujuk pada tanggal 10 bulan Muharam, yang berkaitan dengan peristiwa wafatnya Sayyidina Husein, cucu Nabi Muhamad di Karbala (sekarang masuk Irak).

















