Strategi Dakwah Nabi Muhammad SAW melalui Sepucuk Surat
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Perjanjian Hudaibiyyah kerap dipandang sebagai salah satu titik balik penting dalam sejarah dakwah Islam. Kesediaan Nabi Muhammad SAW 'mengalah' dan menerima sejumlah ketentuan yang dianggap merugikan kaum Muslim menjadi bukti kecerdasan strategi dan visi jangka panjang seorang pemimpin.
Mengutip Jurnal Surat-Surat Nabi SAW kepada Para Raja Nonmuslim (Studi Komparasi Kitab Tarikh, Sirah, dan Hadis) karya Kinkin Syamsudin dari STAI Persis Garut, Jumat (12/12/2025), langkah Nabi SAW saat itu sempat menuai penolakan dari sebagian sahabat. Mereka menilai isi perjanjian terlalu berpihak kepada Quraisy. Namun Nabi SAW tetap menyetujuinya demi maslahat jangka panjang.
Salah satu poin penting dalam perjanjian tersebut adalah larangan perang antara kaum Muslim dan Quraisy selama sepuluh tahun. Meski terasa mengecewakan bagi sebagian pihak, masa damai ini dimanfaatkan Nabi SAW untuk melakukan ekspansi dakwah ke luar Jazirah Arab.
Selama periode tanpa konflik itu, dakwah Islam berkembang pesat. Ketika terjadi peristiwa Fath Makkah pada Ramadhan tahun 8 Hijriah, Nabi SAW datang bersama sekitar 10.000 pasukan Muslim. Jumlah itu melonjak drastis dibandingkan hanya sekitar 1.400 orang pada peristiwa Hudaibiyyah dua tahun sebelumnya.


















