Hukum Puasa Syawal Digabung dengan Qada Ramadan, Boleh?
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Setelah berakhirnya bulan suci Ramadan, umat Islam dapat melaksanakan puasa sunnah bulan Syawal yang dapat dimulai pada 2 Syawal tahun hijriah.
Amaliah sunnah ini memiliki sejumlah pahala bagi mereka yang mau melaksanannya. Bahkan pahalanya seperti melaksanakan puasa selama satu tahun.
Berikut hadisnya:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَهُ سِتَّاً مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya, “Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian dilanjutkan dengan enam hari dari Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun.” (HR Muslim).
Lalu bagaimana dengan orang yang memiliki utang puasa Ramadan, baik karena perjalanan, sakit, haid, ataupun alasan lain yang dibolehkan syariat, apakah boleh mereka menggabungkan puasa qadha dengan puasa sunnah Syawal?
Orang yang memiliki utang puasa Ramadan dianjurkan untuk segera membayar atau meng-qadha utang puasanya terlebih dahulu. Baru setelah itu, ia dapat menunaikan puasa Sunnah Syawal.
Hal ini sebagaimana ditegaskan Al-Khatib As-Syarbini dalam kitab Mughnil Muhtaj pada jilid pertama, bahwa orang yang meng-qadha puasa di bulan Syawal tidak mendapatkan keutamaan sebagaimana yang dimaksud di atas. Berikut penjelasannya:
ولو صام في شوال قضاء أو نذرا أو غير ذلك ، هل تحصل له السنة أو لا ؟ لم أر من ذكره ، والظاهر الحصول. لكن لا يحصل له هذا الثواب المذكور خصوصا من فاته رمضان وصام عنه شوالا ؛ لأنه لم يصدق عليه المعنى المتقدم ، ولذلك قال بعضهم : يستحب له في هذه الحالة أن يصوم ستا من ذي القعدة لأنه يستحب قضاء الصوم الراتب ا هـ


















