Penjelasan Ulama Terkait Bulan Safar yang Disebut Waktu Sial bagi umat Islam
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Bulan Safar kerap mendapat stigma sebagai bulan sial dalam kepercayaan sebagian masyarakat Muslim. Padahal, jika ditilik dari sejarah dan pandangan para ulama klasik, tidak ada dasar kuat dalam ajaran Islam yang membenarkan keyakinan tersebut.
Dilansir dari NU Online pada Rabu (6/8/2025), Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharram. Nama "Safar" menurut Imam Abul Fida Ismail bin Umar ad-Dimisyqi atau Ibnu Katsir (w. 774 H), Safar berasal dari situasi masyarakat Arab di masa lampau yang meninggalkan rumah-rumah mereka untuk berperang atau bepergian jauh. Dalam Tafsîrnya, Ibnu Katsir menuliskan:
صَفَرْ: سُمِيَ بِذَلِكَ لِخُلُوِّ بُيُوْتِهِمْ مِنْهُمْ، حِيْنَ يَخْرُجُوْنَ لِلْقِتَالِ وَالْأَسْفَارِ
"Safar dinamakan dengan nama tersebut, karena sepinya rumah-rumah mereka dari mereka, ketika mereka keluar untuk perang dan bepergian."
Asal-usul penamaan bulan Safar juga dibahas oleh Ibnu Manzhur (w. 771 H) dalam Lisânul ‘Arab. Ia menyebut tiga kemungkinan: pertama, rumah-rumah yang kosong karena ditinggal bepergian; kedua, kebiasaan orang Arab memanen lalu mengosongkan ladang; ketiga, banyak kabilah kembali dari peperangan dalam keadaan tangan kosong.
Namun, seiring waktu, muncul kepercayaan di kalangan masyarakat bahwa Safar adalah bulan pembawa kesialan. Anggapan ini secara tegas dibantah oleh sejumlah ulama, salah satunya Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H). Dalam Lathâ-iful Ma’ârif, ia menyatakan:


















