Kisah Pernikahan Nabi Muhammad dan Siti Khadijah di Bulan Safar
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Sayyidah Khadijah binti Khuwailid menjadi salah satu peristiwa bersejarah yang tak lekang oleh waktu. Menariknya, momen sakral ini terjadi di bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriyah, yang dalam sejarah Islam menyimpan berbagai peristiwa penting.
Dilansir dari NU Online, pernikahan dua insan mulia ini bukan sekadar kisah cinta dua insan, tetapip merefleksikan keutamaan nilai-nilai akhlak, komunikasi, serta penghormatan terhadap pasangan dan keluarga.
Hubungan antara Rasulullah dan Khadijah bermula dari kekaguman yang diam-diam dipendam, lalu berkembang melalui perantara sahabat setia hingga mengarah pada ikatan suci yang penuh keberkahan.
Peran Nafisah binti Munyah sebagai Penghubung
Sosok Nafisah binti Munyah, sahabat dekat Khadijah, memegang peranan penting dalam kisah cinta ini. Melihat ketulusan hati Khadijah terhadap Muhammad, Nafisah menawarkan diri menjadi perantara. Ia menyampaikan isi hati Khadijah kepada Muhammad dengan bahasa yang santun dan penuh rasa hormat.
“Muhammad, aku Nafisah binti Munyah. Aku datang membawa kabar tentang seorang perempuan agung, suci, dan mulia. Jika kau bersedia, aku akan menyebutkan namamu di hadapannya,” demikian kutipan dari buku Bilik-bilik Cinta Muhammad karya Nizar Abazhah (2018).
Meski demikian, Nabi Muhammad tidak serta-merta memberikan jawaban. Ia memilih berdiskusi terlebih dahulu dengan keluarga besarnya, menunjukkan kehati-hatiannya dalam mengambil keputusan yang menyangkut masa depan.
Lamaran Resmi

















