Kisah Hijrah Rasulullah di Bulan Safar dan Konspirasi Pembunuhan yang Gagal
Abdul Rahman Ahdori








وَهِجْرَةُ الرَّسُوْلِ فِيْمَا ذَكَرُوا # بِآخِرِ الْأَيَّامِ فِي غَارِ الْحَجَرْ
Artinya: "Hijrahnya Rasulullah pada akhir bulan Safar di Gua al-Hajar sebagaimana para ulama sebutkan"
Dilansir dari NU Online pada Rabu (30/7/2025), Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri mencatat bahwa sekitar 2 bulan setelah Baiat Aqabah kedua, seluruh kaum Muslimin telah berhijrah kecuali Rasulullah saw, Abu Bakar ash-Shiddiq, dan Ali bin Abi Thalib. Rasulullah saat itu masih menunggu izin dari Allah swt untuk berhijrah. Abu Bakar yang telah bersiap diminta menemaninya dalam perjalanan penuh risiko itu.
Sementara itu, di Makkah, kegelisahan mulai mencengkeram para pemuka Quraisy. Mereka menyadari bahwa hijrahnya umat Islam ke Madinah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan potensi ancaman terhadap hegemoni mereka. Baik secara ideologis maupun ekonomi, kehadiran Rasulullah saw di Madinah strategis karena letak Madinah yang dilewati jalur dagang dari Yaman ke Syam.
Rencana hijrah tersebut ternyata bermula dari rencana busuk para tokoh Quraisy. Para musuh Islam melalui pertemuan darurat di Darun Nadwah, menggagas rencana pembunuhan terhadap Rasulullah. Hadir dalam rapat itu seorang tua dari Najd, yang sejatinya adalah setan yang menyerupai manusia.
Ketika menyusun rencana pembunuhan, mereka sempat berdebat. Dalam perdebatan di forum itu, pendapat Abu Jahal lah yang akhirnya disepakati yaitu setiap kabilah mengutus satu pemuda bersenjata, lalu bersama-sama menyerang Rasulullah saw.
Dengan cara itu, darahnya akan terbagi, sehingga Bani Hasyim tak bisa membalas dendam. Namun rencana itu bocor. Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah saw untuk mengabarkan rencana jahat tersebut, sekaligus menyampaikan izin dari Allah swt untuk berhijrah.
Pada siang hari yang terik, Rasulullah mendatangi rumah Abu Bakar, meminta semua anggota keluarga keluar untuk menyampaikan rencana hijrah. Abu Bakar, yang mendengar bahwa dirinya dipilih sebagai teman seperjalanan, menangis haru.
Sementara itu, para pemuda Quraisy mulai mengepung rumah Rasulullah saw. Mereka yakin malam itu menjadi akhir perjuangan dakwah Muhammad saw. Tapi Allah berkehendak lain. Rasulullah menyuruh Ali bin Abi Thalib tidur di tempatnya dengan selimutnya.
Sementara beliau sendiri diam-diam meninggalkan rumah, melintasi kerumunan yang Allah butakan penglihatannya. Para pengepung tidak menyadari bahwa orang yang mereka tunggu telah pergi.
Saat masuk ke dalam rumah dan membuka selimut, mereka terkejut menemukan Ali. Rasulullah telah lebih dahulu menuju rumah Abu Bakar, lalu bersama menuju Gua Tsur yaitu tempat persembunyian yang hanya diketahui segelintir orang. Selama 3 hari, Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi di dalam gua itu. Mereka dibantu oleh orang-orang terdekat.
Di antaranya Abdullah bin Abu Bakar yang mengamati situasi Makkah dan melaporkannya setiap malam. Kemudian, Asma’ binti Abu Bakar mengantar makanan, dan budak mereka. Lalu, Amir bin Fuhairah yang membawa kambing-kambing untuk diambil susunya dan menghapus jejak langkah.
Kafir Quraisy pun segera menyadari bahwa Rasulullah telah lolos. Mereka menyisir jalur-jalur ke Madinah. Hingga suatu saat, mereka sampai di depan Gua Tsur. Abu Bakar dilanda ketakutan.
"Seandainya salah seorang dari mereka menundukkan kepala, pasti mereka akan melihat kita," bisiknya pada Rasulullah.
Namun Rasulullah menjawab dengan tenang:
ما ظنك يا أبا بكر باثنين الله ثالثهما
"Wahai Abu Bakar, bagaimana menurutmu tentang dua orang yang bersama, sedangkan yang ketiganya adalah Allah?" (HR. Bukhari)
Mereka tidak melihat ke dalam. Hati mereka ditutup. Tak satu pun dari pasukan Quraisy menyangka bahwa sang Nabi ada begitu dekat, hanya terpisah bebatuan.
Pertolongan Allah swt nyata adanya. Dalam Al-Qur’an, Allah mengabadikan peristiwa itu dalam Surat Al-Anfal ayat 30:
وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
"Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menangkap, membunuh, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya, dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya." (QS Al-Anfal: 30)
Perjalanan hijrah pun berlanjut ke Madinah. Rasulullah dan rombongan umat Islam dari Makkah tiba di Madinah dengan selamat. Keberhasilan hijrah tersebut menandai babak baru dakwah Islam dan tonggak awal pembangunan masyarakat Muslim yang beradab. Wallahua'lam.

