Kisah Perjalanan Nabi ke Sidratul Muntaha dalam Kitab Qishshatul Mi’raj
Abdul Rahman Ahdori
Saat ini umat Islam sedang berada pada bulan Rajab dalam hitungan kalender hijriyah. Ada beberapa peristiwa penting pada bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT tersebut, salah satunya kisah perjalanan Nabi Muhammad saw ke Sidratul Muntaha untuk bertemu Allah SWT.
Kisah ini diperdengarkan kepada umat Islam setiap tahun untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah dan rasul-Nya. Peristiwa ini sangat penting, karena selain menjadi perjalanan spiritual luar biasa, juga merupakan momen di mana Nabi Muhammad SAW menerima wahyu kewajiban shalat lima waktu bagi umatnya.
Dilansir dari NU Online, Isra dan Mi’raj terjadi pada saat Nabi Muhammad SAW sedang dilanda duka mendalam akibat wafatnya dua sosok penting dalam hidupnya, yaitu istrinya, Sayyidah Khadijah al-Kubra, dan pamannya, Abu Thalib.
Perjalanan Nabi Muhammad SAW dimulai dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha, kemudian dilanjutkan hingga Sidratul Muntaha, ditemani oleh Malaikat Jibril AS sebagai tour guide.
Kisah perjalanan luar biasa ini kemudian dituangkan dalam kitab Qishshatul Mi’raj karya Syekh Najmuddin al-Ghaithi. Buku ini merupakan salah satu karya yang sangat penting dalam kajian Isra dan Mi'raj, yang kemudian mendapat penjelasan lebih mendalam melalui catatan kritis dari Sayyid Ahmad al-Dardiri.
Syekh al-Ghaithi mengawali kitab ini dengan gaya sastra yang khas, mirip dengan cerita rakyat Indonesia, dengan kalimat "baynama", yang berarti "pada suatu ketika, di suatu waktu".


















