Doa Cegah Depresi bagi Caleg Gagal dan Pendukung Capres-Cawapres
Abdul Rahman Ahdori
Dalam sebuah perlombaan, sudah pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Demikian pula dengan Pemilu 2024 yang digelar serentak pada Rabu 14 Februari 2024, di mana dalam hitungan cepat lembaga survei, ada peserta pemilu yang kalah dan ada juga yang dinyatakan unggul.
Dalam konteks Pilpres 2024, Prabowo-Gibran unggul sementara dari pasangan capres-cawapres nomor urut 1 Anies-Cak Imin dan capres-cawapres nomor urut 3 Ganjar-Mahfud.
Bagi pendukung Prabowo-Gibran informasi ini adalah kabar gembira, berbeda dengan pendukung Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud. Bila berlebihan menyikapinya, informasi tersebut dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental para pendukung yang merasa sudah bekerja keras.
Lebih dari itu, bagi pihak yang menang, sebaiknya tidak perlu jumawa. Apalagi sampai menghardik, pihak-pihak yang kalah atau melakukan hal-hal secara berlebihan. Kemenangan dapat diekspresikan melalui ucapan dan rasa syukur kepada Allah swt atas kesempatan dan capaian yang didapatkan.
Lalu bagi yang kalah, tidak perlu berkecil hati. Kontestasi pemilu bukanlah segala-galanya, perjalanan hidup di dunia ini masih panjang untuk terus dilanjutkan. Perasaan sedih karena kalah dalam sebuah perlombaan adalah manusiawi, yang paling penting tidak usah bersedih seolah hidup tidak lagi ada gunanya, apalagi bila terus menerus menyalahkan diri sendiri, hal itu sangat membahayakan bagi mental dan psikologi.
Sebagai orang beragama, serahkan semuanya kepada Tuhan. Anggap saja bahwa dalam perlombaan tersebut, Allah sedang memberikan pelajaran penting agar kita terus berikhtiar dalam menggapai setiap impian dan ridha-Nya.
Gagal di Pemilu 2024 jangan sampai berdampak buruk terhadap mental para pendukung, simpatisan, kader partai, dan peserta Pemilu 2024 itu sendiri. Kesehatan mental menjadi penting agar proses hidup di dunia dan upaya menggapai ridha-Nya terus dapat dilanjutkan.
Nasihat ini merupakan refleksi dari pemilu-pemilu sebelumnya, di mana para calon legislatif yang dinyatakan gagal menjadi anggota DPRD atau DPR RI dilaporkan banyak yang bahkan gila.

















