Aktor yang memerankan Umar bin Khatab dalam sebuah film (Foto: Ist)
Cerita tentang sahabat Nabi Muhammad saw yang akhirnya memutuskan memeluk Islam, selalu memiliki hikmah untuk dipetik oleh setiap Muslim yang hidup di masa kini. Selain karena perjuangannya yang cukup berat, keputusan memeluk Islam pada saat itu ancamannya adalah nyawa.
Namun begitu, hidayah dan kasih sayang Allah tidak mengenal apa yang disebut sebagai ancaman. Hidayah bisa Dia berikan kepada siapa saja yang diridhai, termasuk kaum kafir yang kerap memusuhi umat Islam.
Sebut saja Khalifah Umar bin Khatab yang akhirnya masuk Islam pada tahun 616, tepat satu tahun setelah Migrasi ke Abyssinia. Kisah Umar bin Khatab memeluk Islam diceritakan dalam Sirah Nabawi karya Ibnu Ishaq.
Dilansir dari NU Online, kitab itu menceritakan bahwa pada suatu hari dengan pedang terhunus, Umar bin Khattab menuju Darul Arqam tempat dimana baginda Nabi Muhammad biasa berkumpul dengan para sahabat. Melihat mukanya yang beringas, matanya yang nanar, orang sudah menyangka dan mengerti, ini tentu akan terjadi pembunuhan.
Dalam perjalanan menuju Darul Arqam, Umar bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah. Nu’aim bertanya,
“Si murtad yang mana?” “Yang mana lagi? Itu. Yang memecah belah kita. Yang menghina berhala-berhala kita. Yang menjelek-jelekkan nenek moyang dan keturunan kita. Siapa lagi kalau bukan Muhammad.”
Kata Nu’aim, “Umar, tidak salah engkau?”
“Tidak salah lagi.” “Salah Umar.” ad “Salah kenapa?”
“Apa kamu tidak malu? Kamu mau pergi membunuh Muhammad, sementara adikmu sendiri Fatimah, dia sudah termasuk salah seorang pengikut Muhammad.”
Mendengar ini, muka yang memang tadinya sudah marah dan merah, tambah jadi kelam. Bukan main mangkelnya Umar bin Khattab.
Orang lain dia musuhi, orang lain dia kejar-kejar, ini malah adiknya sendiri menjadi pengikut dari Baginda Nabi. Tidak jadi menuju Darul Arqam, dia berangkat ke rumah adiknya Fatimah.
Di rumah Fatimah sedang berkumpul, Fatimah, suaminya Sa’id bin Zaid dan seorang sahabat Habab bin Arots. Mereka sedang membaca Al-Qur'an.
Diketuk pintu oleh Umar, dan dijawab dari dalam, “Siapa di luar?” “Umar!” mendengar suaranya saja, sahabat Habab bin Arots sudah lari ke belakang pintu.
Adapun Fatimah yang sedang memegang suhuf, lembaran tulisan Al-Quran itu, menyembunyikan suhuf itu di belakang bajunya.
Saat Umar masuk, tidak sengaja suhuf lembaran yang tersembunyi di belakang baju Fatimah tersembul, Umar pun bertanya, “Apa yang kau sembunyikan di balik baju mu itu?”
“Sesungguhnya Aku lah Allah. Tidak ada tuhan melainkan Aku. Maka hendaknya hanya kepada Ku lah kamu menyembah. Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
Sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang, yang sengaja waktunya tidak kami beritahukan kepada kamu semua, untuk kami balas segala setiap orang, tentang apa saja yang telah mereka lakukan dalam kehidupan dunia ini.”
Setelah membaca ayat ini gemetar tangannya. Dalam hati Umar ini tidak main-main; 'belum pernah saya membaca ajaran yang semacam ini'.
Tidak patut orang yang mempunyai kitab suci semacam ini dimusuhi. Ini sesuatu yang benar. Bergetar jiwanya.
“Hai, Fatimah beritahu aku di mana keberadaan Muhammad?”
“Tenang, mudah-mudahan ada hikmahnya.”
Sayidina Hamzah tampil, “Bukakan dia pintu.
Kalau niatnya baik kita terima, kalau niatnya tidak baik, saya paling depan”.
Dibukakan pintu. Begitu dibukakan pintu, Umar masuk merangkul baginda Nabi Muhammad kemudian dengan tersendat, Umar berucap, “Asyhadu’alla illaha illallah wa ashhaduanaka ya muhammad rasulullah”.
Saya bersaksi tidak ada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi engkau wahai Muhammad adalah utusan Allah. Sahabat takbir semua.
Kegembiraan meliputi suasana ketika itu karena sebelumnya dikala Umar belum masuk Islam, dia merupakan ganjalan yang paling dikhawatirkan oleh umat Islam.
Setelah dia masuk Islam, jelas merupakan suatu keuntungan yang sangat besar dan dia tertarik kepada Islam bukan karena bujuk rayu orang, tidak karena diberikan harta, tidak karena diiming-imingi oleh kedudukan tinggi.
Tapi karena kebenaran, hidayah menembus hatinya melalui wasilah ayat dalam Surat Thaha yang dibacanya melalui suhuf yang dipegang oleh adiknya sendiri, Fatimah.