Muhasabah Diri Kunci Ketenangan Hati
Kiki Yuli Rosita
MUHASABAH diri merupakan suatu hal yang sangat mulia serta sebuah tindakan yang sangat disarankan oleh Rasulullah SAW. Muhabah diri memiliki arti yaitu sebuah bentuk introspeksi diri dan dalam pelaksanaannya meliputi dunia maupun akhirat.
Tidak hanya sebagai bentuk evaluasi maupun introspeksi diri, muhasabah diri juga adalah sebuah bentuk dalam kedekatan kita dengan sang khalik. Dalam islam sendiri muhasabah di dalam etimologi arab yang berarti hasaba-yahsubu-hisaaban. Artinya menghisab atau menghitung.
Maknanya muhasabah diri ialah mempertimbangkan, mengevaluasi, intrsopeksi atas semua yang telah dan ingin dilakukan. Menurut Al-Ghazali, muhasabah secara istilah merupakan perhitungan dari diri individu terhadap setiap perbuatan yang telah dilakukannya, misalnya seperti seorang pedagang yang memperhitungkan modal, untung dan rugi.
Dalam mencapai sebuah ketenangan hati, muhasabah diri menjadi konsep penting dalam penerapannya. Segala sesuatu hal yang ingin dilakukan demi mencapai ketenangan hati perlu dipertimbangkan dan dipertanggung jawabkan untuk setiap tindakannya. Pada sebuah hadits dijelaskan mengenai muhasabah diri yang berbunyi;
عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
Artinya: "Dari Syaddad bin Aus Ra, Nabi Muhammad Saw bersabda: ‘Orang yang cerdas [sukses] adalah orang yang menghisab [mengevaluasi] dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT,'" (HR. Tirmidzi).

















