Hikmah Menahan Nafsu di Bulan Ramadhan
Kiki Yuli Rosita
MENAHAN nafsu di bulan suci Ramadhan merupakan kewajiban bagi setiap umat muslim. Menahan nafsu saat bulan puasa juga merupakan sebuah ibadah. Saat puasa kita akan menahan berbagai macam nafsu yang dapat membatalkan ibadah puasa kita.
Saat nafsu dapat dikendalikan dengan baik, maka akan mempersulit setan dalam menggoda kita. Selain itu, menahan nafsu juga sangat bermanfaat untuk memaksimalkan ibadah kita selama Ramadhan. Menahan diri untuk tidak berbuat buruk dan bertindak secara emosional merupakan bagian dari menjaga hawa nafsu, seperti yang dijelaskan dalam hadits berikut:
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa itu bukan hanya menahan diri dari makan dan minum saja, tetapi puasa itu juga menahan diri dari kata-kata yang tidak bermanfaat dan kata-kata kasar. Oleh karena itu bila ada yang mencacimu atau menjahilimu, maka katakanlah kepadanya, sesungguhnya aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim).
Imam Al-Ghazali juga berpendapat dalam Ihya 'Ulumiddin (juz 3, hal. 85) yang menjelaskan mengenai hikmah dari keadaan lapar yakni ialah menahan seluruh hawa nafsu yang dapat menjerumuskan kita pada perbuatan maksiat. Sumber utama yang merupakan bahan bakar dari perbuatan nafsu sendiri ialah makanan, dengan kita mengendalikan nafsu makan maka seseorang akan dapat mengendalikan dirinya dalam berbuat maksiat dan bisa mengarahkan dirinya untuk berbuat kebaikan.

















