Sebagai umat yang bertakwa kepada Allah, setiap individu pasti menghadapi berbagai cobaan hidup, salah satunya adalah belum memiliki rezeki yang cukup. Keadaan ini sering kali menimbulkan rasa cemas dan ketidakpastian.
Namun, sebagai seorang hamba, tugas manusia tidak hanya berusaha dengan ikhtiar semata, tetapi juga harus berdoa dengan penuh keyakinan kepada Allah SWT.
Doa menjadi salah satu cara yang sangat penting dalam memperoleh keberkahan hidup, termasuk dalam hal rezeki. Setelah melaksanakan shalat lima waktu, seorang Muslim dianjurkan untuk berdoa agar diberi kelancaran rezeki yang halal dan barakah. Selain itu, shalat sunnah, seperti shalat dhuha, juga memiliki keutamaan yang besar dalam membuka pintu rezeki.
Dengan menjalankan ikhtiar dan disertai doa yang tulus, umat Islam percaya bahwa Allah akan memberikan jalan keluar yang terbaik sesuai dengan takdir-Nya. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk tidak hanya bergantung pada usaha duniawi, tetapi juga memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta melalui doa.
Shalat Dhuha merupakan salat sunnah fajar yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW. Setiap umat Islam, boleh melaksanakan dan boleh juga meninggalkannya.
Bagi mereka yang melaksanakan akan mendapatkan pahala yang luar biasa, sementara bagi mereka yang meninggalkan Shalat Dhuha tidak mendapat dosa dan tidak mendapat pahala.
Artinya, “Diriwayatkan dari Abu Dzar radliyallahu ‘anh, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: ‘Ada sedekah (yang hendaknya dilakukan) atas seluruh tulang salah seorang dari kalian. Karena itu setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah, dan dua rakaat shalat Dhuha mencukupi semuanya itu’,” (HR Muslim).
Adapun ketentuan waktu utama shalat dhuha yaitu mulai matahari terbit seukuran satu tombak sampai waktu zawâl atau di waktu utama yakni ketika terik matahari telah terasa panas.
Dalam fiqih diistilahkan dengan rumus: ‘setelah melewati seperempat siang’ (dihitung dari awal subuh). Kira-kira mulai sekitar jam 9 pagi. Imam Muslim meriwayatkan:
Artinya: “Diriwayatkan dari Zaid bin Arqam radliyallahu ‘anh, sungguh ia pernah melihat segolongan orang melakukan shalat Dhuha, lalu ia berkata: ‘Tidakkah kalian tahu, bahwa shalat dalam waktu ini lebih utama? Sungguh Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Shalat kaum awwâbîn (shalat Dhuha) adalah saat kaki anak-anak unta merasakan panasnya bumi karena terik matahari’” (HR Muslim; lihat Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Syarhun Nawawi ‘alâ Shahîh Muslim, [Bairut, Dâr Ihyâ’it Turâtsil ‘Arabi, 1292 H], juz VI: 30).
Shalat Dhuha sunnah dilakukan dengan dua rakaat salam. Batas minimalnya adalah dua rakaat, sedangkan batas maksimalnya adalah 12 rakaat. Adapun surat yang sunnah dibaca setelah surat al-Fatihah adalah surat as-Syamsu dan ad-Dhuha, atau surat al-Kafirun dan al-Ikhlas.
Atau lebih utama digabung, rakaat pertama membaca as-Syamsu dan al-Kafirun, kemudian rakaat kedua membaca ad-Dhuha dan al-Ikhlas. Kemudian untuk rakaat-rakaat berikutnya surat al-Kafirun di rakaat pertama dan al-Ikhlas di rakaat kedua. (Ad-Dimyathi, Hâsyiyyah I’ânatut Thâlibîn, juz I, halaman 255). Shalat Dhuha dapat dilaksanakan sebagaimana shalat-shalat sunnah lainnya, yaitu dua rakaat salam sebagaimana berikut:
Niat di dalam hati bersamaan takbîratul Ihrâm.
Untuk memantapkan niat, sebelumnya bisa melafalkan niat shalat Dhuha berikut:
Artinya, “Wahai Tuhanku, sungguh dhuha ini adalah dhuha-Mu, keagungan ini adalah keagungan-Mu, keindahan ini adalah keindahan-Mu, kekuatan ini adalah kekuatan-Mu, dan penjagaan ini adalah penjagaan-Mu. Wahai Tuhanku, jika rejekiku berada di atas langit, maka turunkanlah; jika berada di dalam bumi, maka keluarkanlah; jika dipersulit, mudahkanlah; jika (tercampur tanpa sengaja dengan yang) haram, sucikanlah; jika jauh, dekatkanlah; dengan hak dhuha, keelokan, keindahan, kekuatan, dan kekuasaan-Mu, datangkanlah kepadaku apa yang Engkau datangkan kepada para hamba-Mu yang saleh.”