JAKARTA, (ERAKINI) - Syahdan, di masa penjajahan Belanda ada seorang ulama besar asal Palembang yang dengan keras menentang hadirnya kolonialisme di bumi Nusantara. Sebagai bentuk penolakannya, sang ulama tak sudi menggunakan kapal Belanda saat akan menuntut ilmu ke Makkah. Ulama tersebut memilih menggunakan kapal kayu buatan dia bersama murid-muridnya untuk mengarungi lautan menuju Makkah, alih-alih menaiki kapal Belanda
Sosok ulama yang tak sudi berkompromi dengan penjajah tersebut adalah Syekh Abdussamad Al-Palimbani. Mengutip banyak sumber terpercaya, Syekh Abdussamad Al-Palimbani merupakan seorang ulama asal Palembang Sumatera Selatan yang berpengaruh pada abad ke-18.
Syekh Abdussamad terkenal karena berperan dalam penyebaran Islam melalui karya-karya kitabnya dan mengajar sejumlah ulama Indonesia yang belajar ke Arab Saudi.
Selain sebagai ulama yang aktif menyebarkan ilmu agama Islam melalui karya-karyanya, Syekh Abdussamad Al-Palimbani juga berperan dalam melawan penjajahan bangsa Belanda. Ia memiliki perhatian terhadap kondisi rakyat Nusantara yang tertindas oleh kebijakan Belanda.
Walaupun tidak turun secara langsung melakukan perlawanan, Syekh Abdussamad terus memantau kondisi rakyat Indonesia sejak ia tinggal di Makkah. Ia selalu meminta informasi kepada para jamaah haji, dan senantiasa bertukar kabar dengan muridnya di Jawa, yaitu Pangeran Mangkubumi di Yogyakarta, Pangeran Mangkunegaran, dan Prabu Djaka di Surakarta.
Mengenai kolonialisme Barat, Al-Palimbani menulis kitab Nasihah al-Muslimin wa tazkirah al-Mu’min fi Fadail Jihad ti Sabilillah, dalam bahasa Arab, untuk menggugah semangat jihad umat Islam sedunia. Tulisannya ini sangat berpengaruh pada perjuangan kaum Muslimun dalam melawan penjajahan Belanda, baik di Palembang maupun di daerah-daerah lainnya. Hikayat Perang Sabil-nya Tengku Cik di Tiro dikabarkan juga mengutip kitab tersebut.
Masalah jihad fi sabililiah sangat banyak dibicarakan Al-Palimbani. Pada tahun 1772 M, ia mengirim dua pucuk surat kepada Sultan Mataram (Hamengkubuwono I) dan Pangeran Singasari Susuhunan Prabu Jaka yang secara halus menganjurkan pemimpin-pemimpin negeri Islam itu meneruskan perjuangan para Sultan Mataram melawan Belanda.
Dari para muridnya tersebut, Syekh Abdussamad mendapatkan surat-surat yang berisi masalah politik kerajaan yang bersangkutan dengan kolonialisme Belanda. Dalam suratnya, Syekh Abdussamad berusaha memberikan inspirasi melawan penjajahan melalui perspektif agama.
Selain kegigigannya menentang Belanda, dalam perkembangan intelektual ulama Melayu khususnya di era abad 18 M, peran dan kiprah Syeikh Abdussamad Al-Palimbani tak bisa dianggap kecil. Syeikh Al-Palimbani, demikian biasa ia disebut banyak kalangan, merupakan salah satu kunci pembuka dan pelopor perkembangan intelektualisme Nusantara.
Dikutip dari buku karya Masyrullahushomad dan Heryati. (2022) berjudul “Peranan Syaikh Abdus-Samad Al-Palimbani dalam Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia Melawan Penjajah Abad XVIII”, Syekh Abdussamad Al-Palimbani lahir pada tahun 1704.
Ayahnya bernama Syekh Abdul Jalil bin Syekh Abdul Wahhab, seorang ulama dari Yaman, dan ibunya bernama Radin Ranti, perempuan asli Palembang. Tidak banyak diketahui tentang kisah masa kecil ataupun kehidupan pribadi Syekh Abdussamad, hanya riwayat pendidikannya. Riwayat pendidikan yang ditempuh oleh Syekh Abdussamad, terutama pendidikan agama, dimulai dari ayahnya.
Masa mudanya bertepatan dengan puncak kejayaan Kesultanan Palembang, yang berada di bawah pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I (1727-1756M). Kondisi itu menjadikan Palembang sebagai pusat keilmuan Islam dan sastra, yang berperan mengantarkan Syekh Abdussamad al-Palimbani menjadi ulama yang masyhur di kemudian hari. Pada perkembangannya, Syekh Abdussamad keluar dari Sumatera untuk menimba ilmu agama di Jawa, Thailand, Maroko, hingga akhirnya ke Mekkah dan Madinah di Arab Saudi.
Di Arab, Syekh Abdussamad sempat lama tinggal untuk mengajar para ulama. Di Makkah dan Madinah, Al-Palimbani banyak mempelajari berbagai disiplin ilmu kepada ulama-ulama besar masa itu serta para ulama yang berkunjung ke sana.
Walaupun pendidikannya sangat tuntas mengingat ragam ulama tempatnya belajar, Al-Palimbani mempunyai kecenderungan pada tasawuf. Karena itu, di samping belajar tasawuf di Masjidil-Haram, ia juga mencari guru lain dan membaca kitab-kitab tasawuf yang tidak diajarkan di sana.
Dari Syekh Abdur Rahman bin Abdul ‘Aziz al-Magribi Al-Palimbani belajar kitab Al-Tuhfatul Mursalah (Anugerah yang Diberikan) karangan Muhammad Fadlullah al-Burhanpuri (w. 1030 H/1620 M). Dari Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Madani (w. 1190 H/1776 M) ia belajar kitab tauhid (suluk) Syekh Mustafa al-Bakri (w. 1162 H/1749 M).
Dan bersama Muhammad Arsyad al-Banjari, Abdul Wahab Bugis dan Abdul-Rahman Masri Al-Batawi dari Jakarta, mereka membentuk empat serangkai yang sama-sama menuntut ilmu di Makkah dan belajar tarekat di Madinah kepada Syekh Muhammad al-Samman (w. 1162 H/1749 M), juga bersama-sama dengan Dawud Al-Fatani dari Patani, Thailand Selatan.
Setelah belajar di Makkah dan Madinah, Al Palimbani kemudian kembali ke Indonesia dan pernah tinggal di Malaysia untuk menyebarkan ilmunya. Tidak ada sumber yang bisa dijadikan rujukan mengenai tahun berapa Al-Palimbani akhirnya kembali ke Indonesia.
Syekh Abdussamad al-Palimbani Syekh Abdussamad al-Palimbani tercatat sebagai ulamaNusantara pertama yang lulus dari lembaga pendidikan Islam di Mekkah dan Madinah dalam bidang sufisme dan teologi.
Selama di Makkah, Syekh Abdussamad al-Palimbani menulis banyak buku, baik dalam bahasa Arab maupun Melayu. Kitab-kitab karyanya masih dibaca, dipelajari, dan dijadikan rujukan di berbagai daerah Indonesia, hingga sekarang. Banyak juga pondok pesantren di Asia Tenggara, seperti Thailand, Malaysia, dan Brunei Darussalam, yang mengkaji kitab karya Abdussamad.
Tercatat ada 8 karya tulis Abdussamad Al-Palimbani, 2 diantaranya telah dicetak ulang beberapa kali, 2 hanya tinggal nama dan naskah selebihnya masih bisa ditemukan di beberapa perpustakaan, baik di Indonesia maupun di Eropa.
Pada umumnya karya tersebut meliputi bidang tauhid, tasawuf dan anjuran untuk berjihad. Berikut sejumlah karya-karya Al-Palirnbani yang banyak menjadi rujukan di khasanah keilmuan Islam:
1.Zuhrah al-Murid fi Bayan Kalimah al-Tauhid, ditulis pada 1178 H/1764 M di Makkah dalam bahasa Melayu, memuat masalah tauhid yang ditulisnya atas perrnintaan pelajar Indonesia yang belurn menguasai bahasa Arab.
2.Al-‘Uwah al-Wusqa wa Silsilah Ulil-Ittiqa’, ditulis dalam bahasa Arab, berisikan wirid-wirid yang perlu dibaca pada waktu-waktu tertentu.
3. Ratib ‘Abdal-Samad, semacam buku saku yang berisi zikir, puji-pujian dan doa yang dilakukan setelah shalat Isya. Pada dasarnya isi kitab ini hampir sama dengan yang terdapat pada Ratib Samman.
4.Zad al-Muttaqin fi Tauhid Rabb al-‘Alamin, berisi ringkasan ajaran tauhid yang disampaikan oleh Syekh Muhammad al-Samman di Madinah.
Tidak hanya itu, karya-karya Syekh Abdussamad juga memantik semangat perjuangan masyarakat Nusantara untuk melawan penjajah, bahkan setelah ia wafat. Akhir hidup Syekh Abdussamad al-Palimbani masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan dan ulama. Tertulis dalam manuskrip yang bertajuk Zikir Syekh Muhammad Saman, Syekh Abdussamad Al-Palimbani diperkirakan wafat pada 1832 di Patani.
Sumber lain mengatakan bahwa Syekh Abdussamad al-Palimbani wafat tahun 1200 Hijriah atau bertepatan pada 1785 Masehi. Melansir Kompas TV, Guru Besar Sejarah UIN Jakarta Prof Azyumardi Azra memperkirakan bahwa Syekh Abdussamad wafat di Arab dalam usia 85. Terkait tempat ia dikebumikan, beberapa sejarawan juga berbeda pendapat. Ada yang mengatakan Syekh Abdussamad wafat di Mekkah, tetapi ada juga mengatakan ia dikebumikan di Kedah, Malaysia.